SIDOARJO – Kemacetan lalu lintas di perempatan Gedangan dan Jalan Raya Medaeng-Bungurasih Kecamatan Waru, menjadi keluhan warga seperti tersampaikan dalam acara serap aspirasi yang dilaksanakan anggota DPRD Jawa Timur, Hari Yulianto di Desa Bohar Kecamatan Taman, Sabtu (22/11/2025).
Warga Taman bernama Hadi Suyitno, menyampaikan, dirinya yang sebagai driver ojek online kerap menghabiskan waktu saat melintas di sepanjang jalan raya Gedangan maupun Medaeng-Bungurasih.
“Kami harap ada rekayasa lalu lintas atau pelebaran jalan. Kemacetan di sana makin parah, terutama jam pulang kerja. Bila perlu di kasih jalan layang (fly over) di perempatan Gedangan,” tuturnya.
Kemacetan di Gedangan menjadi satu dari sekian aspirasi yang disampaikan warga kepada Hari Yulianto yang menggelar serap aspirasi masyarakat di enam titik, sejak 19 sampai 22 November. Yakni di Kecamatan Balongbendo, Tarik, Tulangan, Sidoarjo, Prambon, dan Taman.
Pria yang juga menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPC PDI Perjuangan Sidoarjo tersebut mengatakan, reses kali ini difokuskan untuk menyerap berbagai persoalan nyata di tengah masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan kebutuhan dasar warga.
“Sehari dua titik. Ini merupakan pertemuan serap aspirasi terakhir di masa reses akhir tahun ini,” ujar Hari usai kegiatan di Desa Bohar, Kecamatan Taman, Sabtu (22/11/2025).
Dalam setiap pertemuan, lanjut dia, berbagai persoalan disampaikan warga mulai dari pendidikan, pertanian, air bersih, lapangan pekerjaan, hingga infrastruktur lingkungan.
Di Tarik, Alfi, warga Desa Janti, mengeluhkan sulitnya mendapatkan pupuk cair serta belum optimalnya pengolahan sampah dan penanganan hama tikus di area persawahan.
“Sekarang bantuan pupuk cair susah didapat, Pak. Hama tikus juga makin parah,” ungkapnya.
Sementara itu, Siti, warga lain, di Balongbendo menyampaikan persoalan-persoalan di bidang pendidikan.
“Masih banyak yang belum bisa mengambil ijazah dan sulit mencari pekerjaan layak. Mohon diupayakan agar ada solusi, terutama bagi anak-anak lulusan sekolah swasta,” pintanya.
Dari Prambon, warga bernama Amin menyampaikan keluhan soal ketersediaan air bersih.
“Di Desa Kajartrengguli, butuh air bersih pak. Lingkungan kami banyak pabrik. Butuh Pamsimas pak,” ujarnya.
Di Tulangan, Senadi, warga Desa Padangan, meminta adanya pelatihan kerja bagi masyarakat desa.
“Kami butuh pelatihan yang bisa meningkatkan kemampuan dan membuka peluang kerja bagi warga,” katanya.
Sedangkan dari Prambon, Misbakun menyoroti masalah infrastruktur, seperti gapura batas kabupaten dan pengerukan kanal sungai yang mulai dangkal.
“Kanal sungai sudah banyak endapan, perlu segera dikeruk supaya aliran air lancar,” ujarnya.
Menanggapi berbagai masukan tersebut, Hari Yulianto menegaskan bahwa seluruh aspirasi warga akan dihimpun dan disampaikan kepada pemerintah provinsi untuk ditindaklanjuti sesuai kewenangan.

Juga akan dikoordinasikan dengan Fraksi PDI Perjuangan DPRD Sidoarjo manakala terkait kewenangan pemkab.
“Setiap masukan dari warga menjadi bahan penting bagi kami dalam memperjuangkan kebijakan yang berpihak pada masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa kegiatan reses bukan sekadar formalitas, melainkan wujud nyata kedekatan wakil rakyat dengan masyarakat.
“Saya tidak ingin reses hanya berhenti di seremonial. Setiap titik saya datangi agar bisa benar-benar mendengar langsung kebutuhan warga. Apa yang mereka sampaikan akan saya kawal sampai ada tindak lanjutnya, baik di tingkat provinsi maupun koordinasi dengan pemerintah kabupaten,” tegasnya.
Dengan selesainya enam titik reses di Sidoarjo, Hari berharap hasil serap aspirasi kali ini dapat menjadi dasar dalam penyusunan program pembangunan yang lebih tepat sasaran di tahun mendatang.
“Harapan saya, hasil reses ini menjadi panduan agar pembangunan di Sidoarjo dan Jawa Timur bisa semakin merata dan menyentuh kebutuhan riil masyarakat,” pungkasnya.(hd/ian/hs)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










