JEMBER – 60 Kader perempuan PDI Perjuangan dilatih menjadi penggerak penanganan stunting, di aula DPC PDI Perjuangan Jember, Sabtu (20/9/2025).
Dari pelatihan itu para kader akan mendapat sertifikat sebagai salah satu bukti bahwa mereka layak ikut peduli menangani persoalan stunting.
Saat ini angka persentase stunting di Jember prevalensinya di kisaran 30 persen sesuai hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI).
Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Jember Widarto, S.S mengatakan, para kader yang dilatih itu nanti akan bekerja sama dengan kader posyandu dan tokoh masyarakat sesuai wilayah tugas kecamatan.
“Prevalensi stunting di Jember sampai 30 persen, dan enam persen tergolong sangat parah,” kata Widarto, dalam keterangannya, Minggu (21/9/2025).
Dengan melatih kader-kader penggerak, lanjut Widarto, PDI Perjuangan ingin berkontribusi menurunkan angka tengkes di Kabupaten Jember secara signifikan.
“Tentu hasilnya tidak bisa dirasakan dalam jangka pendek. Dan kita berharap anak-cucu kita, terutama di Kabupaten Jember, ke depan dalam kondisi yang sehat secara fisik maupun mental. Kemudian secara pendidikan juga bagus,” imbuh dia.
Fari hasil pelatihan, sebut Wakil Ketua DPRD Jember itu, Kecamatan Sukorambi akan menjadi proyek percontohan penanganan tengkes oleh PDI Perjuangan.
“Kami akan terjunkan teman-teman kader perempuan, mulai dari proses pendataan berapa remaja-remaja putri di Kecamatan Sukorambi. Dan dari sekian jumlah remaja putri itu yang punya kecenderungan menjadi sumber stunting karena faktor ekonomi, faktor pendidikan, dan mungkin anak-anak putus sekolah dan berpotensi untuk dinikahkan dini,” tutupnya.
Saat pelatihan, salah satu narasumber yang berprofesi sebagai tim ahli pendamping desa yakni Faurzan dihadirkan untuk menyampaikan terkait dengan banyaknya faktor persoalan penanganan stunting yang ada di desa. (art/pr)