Rabu
04 November 2026 | 12 : 52

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Pemkot Surabaya Beri Waktu Sebulan untuk Tutup Kos Campur atau Ikuti Aturan Baru

pdip jatim 251031 ec

SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mengambil langkah tegas terkait keberadaan kos-kosan campur antara laki-laki dan perempuan yang berada di Kota Pahlawan.

Wali Kota Eri Cahyadi menegaskan, pemkot akan memberikan waktu satu bulan kepada pemilik kos untuk menutup, atau menyesuaikan pengelolaan usahanya sesuai aturan baru.

Nantinya, seluruh kawasan yang mengusung konsep Kampung Pancasila akan ikut menandatangani deklarasi sebagai bentuk komitmen menjaga lingkungan sosial yang sehat dan sesuai nilai-nilai Pancasila.

“Jadi tidak langsung kita tutup, tapi kita berikan waktu, kita berikan waktu sampai satu bulan ke depan untuk menutup, karena kan sudah ada yang bayar. Tapi dalam waktu satu bulan ke depan kita akan deklarasi dalam Kampung Pancasila, nanti semua Kampung Pancasila akan tanda tangan itu,” ujar Eri Cahyadi, dikutip Jumat (28/11/2025).

Menurut Eri, kebijakan ini merupakan bagian dari penataan ulang aturan terkait kos-kosan di Kota Surabaya. Pemkot telah melakukan revisi dan penyesuaian regulasi, termasuk klasifikasi dan ketentuan operasional kos di kawasan permukiman.

Pemkot juga memastikan akan melakukan sosialisasi intensif sebelum penindakan dilakukan, sehingga pemilik kos memiliki waktu dan pemahaman yang cukup untuk menyesuaikan usaha mereka dengan aturan yang berlaku.

“Kita lakukan terkait dengan peraturan yang sudah kita ubah. Jadi yang namanya kos-kosan seperti apa, setelah itu kos seperti apa, kita sosialisasikan,” jelasnya.

Eri menekankan bahwa tujuan dari penertiban ini adalah menjaga lingkungan keluarga di kawasan permukiman agar tetap aman dan nyaman, khususnya bagi anak-anak.

Dia menyampaikan kekhawatirannya bahwa keberadaan kos campur—yang mempertemukan penghuni laki-laki dan perempuan dalam satu lingkungan—dapat memberikan pengaruh kurang baik.

“Jadi tidak lagi, mohon maaf ya, anak-anak yang kecil-kecil ini dikontaminasi dengan kos-kosan campur, jadi perempuan dan laki-laki bergabung di sana, di dalam kampung-kampung perumahan. Maka sejatinya yang bisa menjaga Surabaya itu ya warga Surabaya,” tegas Eri.

Terkait kos bagi pasangan suami istri (pasutri) hingga kini Pemkot masih akan mengatur terkait aturan yang tepat untuk hal tersebut. “Nanti saya atur itu lagi,” pungkasnya. (gio/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

LEGISLATIF

Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Pasuruan Sorot RAPBD 2027, dari Rencana Hutang hingga Turunnya Anggaran Pendidikan

KABUPATEN PASURUAN – Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Pasuruan menyoroti sejumlah persoalan dalam Rancangan ...
KRONIK

11 Mahasiswa Unesa Maospati Jadi Korban Pelecehan Nonfisik, Polisi Diminta Bertindak

MAGETAN – Kasus pelecehan seksual nonfisik seperti catcalling dan pengintaian membayangi para mahasiswa Universitas ...
LEGISLATIF

Puan Maharani Ingatkan Ancaman Algoritma terhadap Demokrasi, Siapa yang Mengendalikan Data?

JAKARTA – Ketua DPR RI Puan Maharani mengingatkan transformasi digital membawa tantangan baru bagi demokrasi. ...
SEMENTARA ITU...

Punjul Santoso Inisiasi Teba Modern di Kota Batu, Sampah Organik Diolah Jadi Kompos

BATU – Sampah organik rumah tangga di Kota Batu didorong untuk diolah langsung dari lingkungan permukiman agar ...
EKSEKUTIF

Cegah Banjir Musim Hujan, Mas Ipin Siapkan Normalisasi Sungai Ngasinan Trenggalek

TRENGGALEK – Pemkab Trenggalek menyiapkan normalisasi Sungai Ngasinan di Kelurahan Kelutan, Kecamatan Trenggalek, ...
KRONIK

Bupati Fauzi Raih Cita Negeri 2026: Penghargaan Ini Milik Seluruh Masyarakat Sumenep

JAKARTA – Bupati Sumenep, Dr. H. Achmad Fauzi Wongsojudo, meraih Anugerah Cita Negeri 2026 yang diselenggarakan ...