Pancasila, Soekarno, dan Krisis Sintesa Kebangsaan

Loading

SYAIFUL ARIF*

PRESIDEN Joko Widodo telah menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahir (Harlah) Pancasila yang diperingati setiap 1 Juni. Keppres ini mengembalikan tradisi serupa di masa Orde Lama.

Melalui Keppres ini, 1 Juni kita peringati sebagai
Harlah Pancasila, bentuk penghormatan nasional atas jasa Soekarno dalam
menggali dasar negara.

Peringatan 1 Juni sebagai Harlah Pancasila sempat
hilang di masa Orde Baru. Terakhir kali Orde Baru masih memperingatinya pada
1968.

Setelah itu, momen peringatan “Hari Pancasila” diganti
oleh 1 Oktober dengan konsep Hari Kesaktian Pancasila. Ini memang menjadi bagian
dari proyek desoekarnoisasi Pancasila.

Sejak itu hingga 2015, peringatan Hari Pancasila tidak
lagi terkait dengan Pidato Bung Karno tentang Pancasila yang disampaikannya
pada 1 Juni 1945. Peringatan lalu terkait dengan pemberontakan G30S yang
diidentikkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Dengan menghidupkan peringatan 1 Juni, pemerintahan
Presiden Jokowi mengembalikan “hak kelahiran” Pancasila kepada penggagasnya,
yakni Bung Karno.

Penggali Pancasila

Mengapa Bung Karno disebut sebagai Sang Panggali
Pancasila? Ada beberapa alasan. Pertama, karena Bung Karno-lah yang mencetuskan
ide Pancasila sebagai dasar negara dalam kerangka dasar filsafat
(philosophische grondslag) dan pandangan dunia (weltanschauung).

Di dalam cetusan ini, Si Bung tidak hanya menggagas
nama Pancasila tetapi juga konsep-konsep sila beserta kandungan intelektualnya.

Foto karya Frans Mendur yang mengabadikan Presiden Soekarno membacakan naskah proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur, Nomor 56, Cikini, Jakarta. (-)

Ide Bung Karno menjadi satu-satunya yang diterima
secara aklamasi oleh peserta sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan
(BPUPK). Pidato monumental ini pun ditetapkan oleh Ketua BPUPK, Dr Radjiman
Widiodiningrat, sebagai bahan baku perumusan dasar negara pada sidang-sidang
selanjutnya.

Pertanyaannya, mengapa hanya pidato Bung Karno yang
mampu memenuhi kebutuhan sidang? Karena pidato ini berhasil merumuskan dasar
negara sebagai filsafat.

Dasar filosofis ini bersifat koheren, solid dan
sistematis, serta mampu menaungi semua pandangan peserta sidang.

Para pembicara sebelum Soekarno, misalnya Muhammad
Yamin, Mr Soepomo, Ki Bagus Hadikusumo, dan termasuk Bung Hatta, tidak mampu
melakukan ini.

Para pembicara itu berbicara tentang dasar negara
secara centang-perenang. Sebagiannya bicara tentang bentuk negara, dan sebagian
lain tentang hubungan agama dan negara.

Dengan menawarkan Pancasila sebagai philosophische
grondslag, Bung Karno telah membangun norma dasar (grundnorm) yang menjadi
sumber dari segala sumber hukum kita.

Perumusan norma dasar inilah yang membuat ide
Pancasila menjadi jawaban yang tepat atas pertanyaan, “Apa dasar bagi Negara
Indonesia?”

Peran penyatuan dan urutan sila

Alasan kedua mengapa Bung Karno ditempatkan sebagai
sosok terpenting atas Pancasila adalah karena perannya sebagai ketua sidang di
dalam perumusan dasar negara.

Bung Karno menjalankan peran itu baik di sidang
Panitia Delapan yang dibentuk oleh BPUPK, sidang Panitia Sembilan yang dibentuk
Bung Karno sendiri dan melahirkan Piagam Jakarta, maupun sidang Panitia
Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Di dalam peran ini, Bung Karno menjadi pemikir yang
berhasil mengawal ide otentiknya menjadi konsensus bersama pendiri negara. Bung
Karno menempatkan diri sebagai jembatan persatuan antar-ideologi peserta
sidang. Keputusannya membentuk Panitia Sembilan dilatari oleh keinginannya
untuk menyeimbangkan kekuatan kelompok nasionalis dan Islam.

Maka, keanggotaan di Panitia Sembilan pun berimbang.
Empat kelompok Islam, empat nasionalis, ditambah Bung Karno sebagai “wasit” dan
ketua.

Dalam tegangan ideologis antara aspirasi Islam sebagai
dasar negara dan dasar negara Pancasila inilah teks Piagam Jakarta lahir dengan
sila pertama berbunyi, “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat
Islam bagi pemeluknya”.

Sila syariat ini menjadi kompensasi atas tidak
dijadikannya Islam sebagai dasar negara.

Ilustrasi upaya melekatkan nilai-nilai Pancasila sejak kanak-kanak di wilayah Yogyakarta beberapa waktu lalu.(KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO)

Sebagai ketua sidang dan seorang pengusung ideologi
persatuan, Bung Karno mengamini “tujuh kata syariat” tersebut sebagai syarat
realistis agar kelompok Islam menerima Pancasila.

Bahkan, sehari sebelum sidang kedua BPUPK selesai,
yakni 16 Juli 1945, Bung Karno dengan berlinang air mata meminta kelompok
nasionalis untuk menerima “tujuh kata” ini. Alhasil, Piagam Jakarta lolos
hingga sidang kedua BPUPK berakhir.

Baru pada pagi 18 Agustus 1945, menjelang Sidang PPKI,
“tujuh kata” itu dihapus setelah Bung Hatta melobi para tokoh Islam untuk
mengganti “kalimat Islamis” itu (Basarah, 2017).

Ketiga, karena Bung Karno telah menetapkan konsep
sila-sila yang meliputi kebangsaan, kemanusiaan, demokrasi, kesejahteraan
sosial, dan ketuhanan.

Ini merupakan urutan sila-sila pidato 1 Juni. Meskipun
urutan ini diubah oleh Panitia Sembilan menjadi ketuhanan, kemanusiaan,
kebangsaan, demokrasi, dan keadilan sosial, tema sila-sila itu tidak berubah
dan tetap mengacu pada ide Bung Karno.

Cara membaca Pancasila

Pertanyaan berikutnya, bagaimana cara kita membaca
sila-sila tersebut? Apakah membacanya secara terpisah dan bercerai-derai? Atau,
apakah sila-sila Pancasila hanya kita baca secara normatif dan bebas nilai
sebagaimana dicanangkan dalam Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila
(P4)?

Tentu tidak. Karena, Bung Karno meracik sila-sila itu
secara konseptual berdasarkan pergulatan intelektual yang panjang. Pergulatan
itu merujuk pada upayanya menyatukan tiga ide besar di Indonesia dan Asia di
masa perjuangan kemerdekaan, yaitu nasionalisme, Islamisme, dan sosialisme.

Di majalah Suluh Indonesia Muda tahun 1926, Soekarno
muda menuliskan gagasan brilian ini. Menurut Soekarno, ketiga ideologi ini
memang memiliki perbedaan.

Nasionalisme mementingkan bangsa dan persatuan di
tengah perbedaan; Islam mementingkan Tuhan, spiritualitas, dan universalitas
umat yang lintas bangsa; sementara sosialisme mementingkan perjuangan kelas
demi emansipasi kaum buruh.

Namun, pikir Bung Karno, “Bukankah ketiga ideologi ini
ingin dilenyapkan oleh penjajah, akibat sikap subversifnya terhadap penjajahan?
Mengapa tidak bersatu?”

Salah satu koleksi Museum Nasional terkait kelahiran Pancasila. Gambar diambil pada 2 Juni 2017.(KOMPAS/YUNIADHI AGUNG)

Persatuan ini pun ia rumuskan secara teoretik. Maka,
nasionalisme seharusnya bersatu dengan Islamisme karena kedua ide ini sama-sama
menentang kezaliman.

Menurut Bung Karno, umat Islam di negeri mana pun
selalu mencintai Tanah Air-nya. Di tengah hidup yang dijajah, bagaimana umat
Islam tidak menjadi nasionalis?

Demikian pula Islam sebenarnya memiliki persamaan
dengan sosialisme. Islam mengharamkan riba dan penumpukan kekayaan (kapital)
yang dilarang oleh sosialisme.

Pada saat bersamaan, kaum sosialis harusnya menjadi
nasionalis, karena sosialisme di Indonesia baru bisa ditegakkan di dalam bangsa
yang merdeka.

Sintesa antara nasionalisme, Islamisme, dan sosialisme
inilah yang menjadi akar (arkhe) dari ideologi Pancasila. Nasionalisme
melahirkan sila kebangsaan, Islam melahirkan sila ketuhanan, dan sosialisme
melahirkan keadilan sosial.

Bung Karno lalu menambahkan kemanusiaan sebagai sifat
nasionalisme Indonesia yang humanistik (bukan chauvinistik), serta demokrasi
sebagai sistem politik bagi sistem ekonomi berkeadilan.

Demokrasi Pancasila pun ia rumuskan sebagai politieke
economische demokratie, sebuah demokrasi politik-ekonomi yang tidak hanya
memenuhi hak-hak politik (demokrasi liberal) tetapi juga hak-hak ekonomi
(demokrasi sosial).

Perasan kelima sila ini lalu ia padatkan menjadi
Trisila dalam bentuk sosio-nasionalisme (kebangsaan humanistik),
sosio-demokrasi (demokrasi berkeadilan sosial), dan sosio-religius (ketuhanan
berbasis kesalehan sosial). Inilah tiga pilar ideologi Pancasila.

Cara baca konseptual seperti ini yang semestinya kita
gunakan dalam membaca ideologi bangsa.

Krisis sintesa

Pola pikir sintetis dari Pancasila dan Bung Karno ini
yang kini mengalami krisis. Kita tidak lagi berpikir secara sintetis untuk
menemukan titik temu di tengah perbedaan, demi mengembangkan persatuan.

Dengan pola pikir yang serba membenturkan (oposisi
biner), bangsa ini kini sibuk mengeraskan perbedaan demi kemenangan kelompok.

Naiknya dukungan atas ide NKRI Bersyariah sebanyak 9
persen dan turunnya dukungan atas Pancasila sebanyak 10 persen pada rentang
waktu 2005-2018, sebagaimana ditemukan oleh Survei LSI Denny JA, menjadi salah
satu penanda atas hal ini.

Penolakan atas Pancasila oleh 15,5% profesional, 16,8%
mahasiswa, 18,6% pelajar dan 19,4% ASN kita (Survei Alvara Research Center,
2017) juga menunjukkan hal sama.

Bagi para penolak Pancasila ini, Islam pasti berbeda
dengan Pancasila. Sebuah pandangan yang lucu, karena di dalam dasar negara ini
ada tauhid (sila ketuhanan).

Bahkan, Mohammad Natsir, tokoh Partai Masyumi, dengan
bangga memamerkan Pancasila di Pakistan Institute of World Affairs (1952).
Menurut Natsir, meski Pancasila bukan dasar Negara Islam, ia telah menempatkan
tauhid sebagai sila pertama.

Berdasarkan hal ini, Pancasila tidak hanya menjadi
norma dasar konstitusi, tetapi juga prinsip spiritual bangsa Indonesia.

Jika sebagian masyarakat kita tidak lagi berpikir
sintetis, mereka telah keluar dari cara berpikir khas Indonesia. Jika seperti
itu, ia telah keluar dari kebijaksanaan yang tidak hanya diajarkan oleh
Pancasila tetapi juga oleh agama-agama.

Atas fakta ini, penguatan Pancasila ke depan haruslah dilakukan dengan menghidupkan cara berpikir sintetis itu yang merupakan sumbangan besar dari Sang Penggali Pancasila: Bung Karno.

Jika tidak, penguatan Pancasila akan menjadi “gelembung udara” yang meriah namun mudah menguap di udara, seperti terjadi selama ini. (kompas)

*SYAIFUL ARIF

Direktur Pusat Studi Pemikiran Pancasila (PSPP), pengasuh kajian online “Tadarus Pancasila”, mantan Tenaga Ahli Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Menulis buku: Falsafah Kebudayaan Pancasila (Gramedia Pustaka Utama, 2016), Reformulasi Filsafat Pancasila, Pendekatan Kontemporer (UKP-PIP, 2018), serta Islam, Pancasila dan Deradikalisasi (Elexmedia Komputindo, 2018).