Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini meminta TVRI memperkuat promosi dan membangun atmosfer publik menjelang Piala Dunia 2026 agar manfaat ekonomi dan sosial dari ajang tersebut dapat dirasakan masyarakat luas.
JAKARTA – Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini, mengingatkan TVRI agar tidak hanya fokus pada aspek penyiaran Piala Dunia FIFA 2026, tetapi juga membangun atmosfer publik serta memaksimalkan dampak ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat dari ajang olahraga terbesar di dunia tersebut.
Hal itu disampaikan Novita menyusul masih minimnya gaung dan publikasi penyelenggaraan siaran Piala Dunia 2026, meskipun turnamen tersebut semakin dekat dengan jadwal pelaksanaannya.
Menurut Novita, keberhasilan TVRI memperoleh hak siar seluruh pertandingan Piala Dunia 2026 merupakan capaian penting yang patut diapresiasi karena membuka akses gratis bagi masyarakat melalui lembaga penyiaran publik.
Namun demikian, ia menilai antusiasme publik belum terbentuk secara optimal akibat strategi komunikasi dan promosi yang dinilai belum cukup masif.
“Piala Dunia bukan sekadar siaran olahraga. Ini adalah momentum nasional yang mampu menggerakkan ekonomi rakyat, industri kreatif, UMKM, hingga ruang-ruang kebersamaan masyarakat. Karena itu saya melihat masih kurang keriuhan dan atmosfer publik yang seharusnya sudah terasa menjelang kick-off,” kata Novita di Kompleks Parlemen Senayan, Selasa (9/6/2026).
TVRI diketahui akan menayangkan seluruh 104 pertandingan Piala Dunia 2026. Jumlah tersebut meningkat dibanding edisi 2022 yang hanya mempertandingkan 64 laga. Selain itu, TVRI juga mendapat mandat untuk memastikan akses siaran menjangkau masyarakat hingga wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).
Menurut Novita, mandat besar tersebut harus dibarengi dengan kampanye publik yang lebih agresif dan terukur agar masyarakat mengetahui akses siaran serta berbagai program pendukung yang telah disiapkan.
“Kalau masyarakat masih banyak yang bertanya Piala Dunia tayang di mana, bagaimana cara mengakses TVRI digital, atau kapan program pendukung dimulai, berarti ada ruang komunikasi yang harus diperkuat,” ujarnya.

Legislator PDI Perjuangan dari Daerah Pemilihan Jawa Timur VII itu menilai atmosfer penyelenggaraan Piala Dunia seharusnya sudah mulai terasa jauh sebelum pertandingan pertama digelar. Ia membandingkan dengan penyelenggaraan sebelumnya yang didukung promosi masif, aktivasi komunitas, program diskusi sepak bola, hingga kampanye digital yang mampu membangun euforia publik.
Menurutnya, meskipun TVRI telah menyiapkan infrastruktur siaran, media center, platform digital, serta puluhan komentator dan host, gaung publik yang muncul saat ini masih belum sebanding dengan skala perhelatan yang akan berlangsung selama satu bulan penuh.
Novita juga mengingatkan bahwa Piala Dunia dapat menjadi instrumen penggerak ekonomi daerah apabila dikelola secara kreatif melalui berbagai aktivitas pendukung.
Ia menyebut kegiatan nonton bareng, festival UMKM, penguatan sektor kuliner, ekonomi kreatif, hingga promosi destinasi wisata lokal dapat menjadi bagian dari upaya memaksimalkan manfaat ekonomi dari ajang tersebut.
“Jangan sampai hak siar sudah dimiliki negara, tetapi multiplier effect ekonominya tidak maksimal dirasakan masyarakat. Momentum ini harus menjadi pesta rakyat, bukan hanya agenda siaran televisi,” tegasnya.
Selain aspek promosi, Novita meminta TVRI memastikan kesiapan teknis siaran di seluruh daerah. Menurutnya, akses masyarakat terhadap siaran digital masih menjadi tantangan di sejumlah wilayah sehingga perlu mendapatkan perhatian khusus.
Sebagai mitra kerja TVRI di Komisi VII DPR RI, Novita menegaskan pihaknya akan terus menjalankan fungsi pengawasan agar pelaksanaan siaran Piala Dunia 2026 berjalan optimal, inklusif, dan memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat.
“Kami mengapresiasi kerja keras TVRI. Namun justru karena ini Piala Dunia pertama yang kembali ditayangkan oleh TVRI setelah puluhan tahun, maka persiapannya harus luar biasa. Kualitas siaran harus baik, akses publik harus mudah, dan atmosfer kebanggaan nasional harus benar-benar terasa,” pungkasnya.
Menurut Novita, keberhasilan TVRI nantinya tidak hanya diukur dari kemampuan menyiarkan seluruh pertandingan, tetapi juga dari sejauh mana momentum Piala Dunia mampu menjadi sarana pemersatu masyarakat sekaligus pengungkit ekonomi rakyat di berbagai daerah. (goek)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










