Minggu
02 Agustus 2026 | 4 : 34

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Milenial Generasi Peyoratif?

Siti Fatimah

Pandemi Covid-19 memaksa berbagai aktivitas terhenti. Hampir setiap lini pekerjaan terhenti. Sekolah secara tatap muka ditiadakan. Singkatnya, pandemi Covid-19 memaksa manusia untuk beraktivitas di rumah saja. Memaksa siswa untuk belajar dari rumah secara daring (dalam jaringan). Dengan kondisi seperti ini kebutuhan untuk beraktivitas baik bekerja dan belajar di rumah secara online menjadi bertambah. Kebutuhan kuota internet meningkat, telepon pintar yang sebelumnya cukup satu dan dipakai bersama-sama, sekarang mau tidak mau harus dianggarkan untuk masing-masing anak yang masih bersekolah. Kuota yang sebelumnya cukup membeli paket data secara bulanan ternyata membutuhkan pengeluaran yang tidak sedikit sehingga memaksa untuk berlangganan internet bulanan yang bisa dipakai oleh banyak orang. Dipakai kapan saja, bukan hanya belajar ataupun bekerja saja.

Kondisi ini menjadikan tatanan berubah. Generasi milennial, sebagai generasi yang menempati posisi paling banyak ini menjadi sorotan. Aktivitas mereka hanya berkutat pada benda kotak ajaib yang memiliki banyak informasi. Generasi ini menjadikan telepon pintarnya sebagai kawan yang setia, yang bisa dibawa ke mana saja. Hanya dengan rebahan mereka bisa melanglang buana, berinteraksi dengan dunia luar, dengan kawan mayanya. Hal ini menjadikan mereka malas bergerak alias mager. Istilah yang sering digunakan saat ini. Apakah dengan yang demikian menjadikan mereka kontraproduktif? Apakah mereka peyoratif? Mengapa para milenial menjadi sorotan?

Seringkali kita mendengar generasi milenial itu generasi yang tidak bisa dibanggakan. Mereka hanya dianggap sebagai kaum rebahan, malas gerak atau mager dan tiada hari bermain media sosial. Menjadi hal yang lumrah jika milenial menjadi sorotan. Mereka digadang-gadang sebagai penentu nasib bangsa. Generasi ini merupakan generasi yang paling besar penduduknya. Jika dibandingkan dengan generasi non-produktif.

Hasil survey BPJS tahun 2020, penduduk milenial menempati posisi paling banyak, mencapai 69,90 juta jiwa atau 25,87 persen. (https://bisnis.tempo.co/). Jumlah penduduk terbesar kedua adalah generasi selanjutnya, yaitu generasi Z. Inilah yang menjadi salah satu hal mengapa milenial disorot. Mereka sebagai generasi produktif yang menguasai   sektor-sektor pekerjaan. Anggapan peyoratif (merendahkan) mereka yang menjadi kekhawatiran para pendahulunya. Mungkin anggapan ini sudah meluas secara umum, tetapi kita harus bangkit. Menjadi tugas kita sebagai pemangku wewenang dan memiliki kegelisahan yang sama untuk menepis anggapan tersebut. Kuncinya adalah berliterasi.

Perlu dipahami bersama, literasi adalah kedalaman pengetahuan seseorang. Berliterasi bukan hanya sekadar membaca, tetapi juga mencerna dan memahami apa yang sudah dibaca sehingga diimplementasikan dalam kehidupan. Dan inilah yang diharapkan dari generasi milenial. Arah peradaban dan kemajuan bangsa ke depan ditentukan oleh generasi milenialnya.

Generasi milenial harus dikondisikan menjadi generasi yang literat, generasi yang cerdas kognitif, afektif, dan psikomotoriknya, kritis pada segala hal, punya empati pada orang dan lingkungan sekitar. Memiliki kreativitas, inovasi dan visi untuk memajukan diri, bangsa dan negaranya. Dan pada akhirnya mereka akan menjadi generasi yang mencipta perdamaian, baik untuk dirinya ataupun dari luar dirinya. Jadi, perlu keterlibatan semua pihak untuk menjadikan mereka seperti yang dicita-citakan. Bagaimana mengkondisikan keadaan dan memfasilitasi mereka untuk tetap produktif di masa pandemi?

Seperti yang telah dilakukan oleh komunitas generasi literat, mereka mengadakan semacam workshop menulis yang tidak hanya sekedar menulis. Sebelum mereka mengumpulkan hasil tulisannya terlebih dahulu, para peserta generasi literat ini mendapatkan workshop dan mendapatkan materi-materi dari berbagai macam literasi, baik literasi kebangsaan, literasi keadilan gender, literasi parenting, literasi politik, literasi lingkungan dan kebencanaan, literasi perdamaian dan literasi digital dengan nara sumber yang kompeten di bidangnya. Sebutlah Alissa Wahid (Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian),  Jaya Suprana (Budayawan), Alimatul Qibtiyah (Komnas Perempuan), Khalisah Khalid (Ketua Bidang Politik Walhi Nasional), Adi Prayitno ( Pengamat Politik), Mabrur Inwan, Milastri Muzakkar (Founder Generasi Literat), Tika Bisono (Psikolog), Haidar Bagir (Cendekiawan Muslim), Yosi Mokalu ( Ketua Siberkreasi), Irendra Rajawali (CTO Inovator 4.0 Indonesia), Faqih Abdul Qadir (Founder Mubadalah.id), Musdah Mulia (Founder Mulia Raya Foundation), dan tokoh-tokoh penting  lainnya.

Hasil akhirnya, para peserta diminta menuliskan pemahamannya setelah mengikuti workshop tersebut. Dari tulisan-tulisan itu dikumpulkan menjadi sebuah buku antologi yang diterbitkan oleh Perpustakaan Nasional dengan judul Milenial Generasi Damai: Tentang Literasi, Milenial, dan Indonesia. (*)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

LEGISLATIF

Gelorakan Semangat Kemerdekaan, Muhamad Zaini Ajak Warga Kabupaten Pasuruan Jaga Persatuan Lewat Reses

KABUPATEN PASURUAN – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan, Muhamad Zaini, menggelar agenda Reses Masa Persidangan ...
KABAR CABANG

Musran dan Musranran se-Kecamatan Tanggunggunung Sukses, Teguhkan Komitmen Besarkan PDI Perjuangan

TULUNGAGUNG – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Tulungagung menggelar konsolidasi internal ...
KRONIK

Kejhung Mulai Hilang dari Desa, DPRD Jember Dorong Revitalisasi Budaya Madura

JEMBER – Ketua Komisi B DPRD Jember, Candra Ary Fianto, mendorong pelestarian seni kejhung sebagai bagian dari ...
HEADLINE

Soekarno Cup 2026 Siap Digelar, PDIP Jatim Perkuat Ekosistem Pembinaan Sepak Bola

PDIP Jawa Timur menargetkan Soekarno Cup 2026 tidak hanya sukses sebagai turnamen, tetapi juga meninggalkan warisan ...
LEGISLATIF

Zulham Kawal Temuan Kerusakan Stadion Kanjuruhan hingga Kementerian PU

MALANG – Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Malang, Zulham Akhmad Mubarrok, memastikan akan mengawal temuan kerusakan ...
LEGISLATIF

Warga Ginuk Magetan Gotong Royong Perbaiki Jalan, Rita Haryati Sawer 27 Drum Aspal

MAGETAN – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Magetan, Rita Haryati turut kerja bakti dan membaur bersama ...