Senin
26 Oktober 2026 | 3 : 37

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Merah Muda Fest 2026: Belajar Memahami Sesama, Merawat Alam, dan Menumbuhkan Kepedulian

pdip jatim 261026 merah muda fest 02

JAKARTA – Kepedulian tidak selalu dimulai dari langkah besar. Terkadang, ia tumbuh dari kesediaan mempelajari cara berkomunikasi dengan orang lain, atau dari keberanian mencoba hal sederhana untuk mengolah kekayaan alam menjadi karya.

Semangat itulah yang terasa dalam rangkaian Merah Muda Fest 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta, Minggu (25/10/2026). Di tengah kegiatan yang melibatkan generasi muda, dua lokakarya menghadirkan pelajaran berbeda dengan tujuan yang beririsan: membangun kepekaan terhadap sesama dan lingkungan.

Melalui workshop bahasa isyarat bersama Rumah Kencana, peserta diajak memahami bahwa komunikasi tidak hanya berlangsung lewat suara. Sementara lokakarya Art and Recycle Ecoprint memperlihatkan bagaimana daun dan bunga dapat menjadi sumber inspirasi untuk menghasilkan karya kreatif.

Keduanya menjadi ruang belajar yang mengajak anak muda melihat kehidupan dari sudut pandang yang lebih luas.

***

Bagi kader muda PDI Perjuangan Jawa Timur, Tasya Ayu Anggraeni, belajar bahasa isyarat bukan sekadar menambah pengetahuan baru. Lebih dari itu, kegiatan tersebut membuka pemahaman tentang pentingnya menyediakan ruang komunikasi yang setara bagi komunitas Tuli.

Perbedaan cara berkomunikasi semestinya tidak menjadi penghalang bagi seseorang untuk berinteraksi, menyampaikan pikiran, maupun berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat.

“Memahami bahasa isyarat membuat kita belajar bahwa komunikasi bukan hanya soal berbicara dan mendengar, tetapi juga tentang kemauan untuk saling memahami. Teman-teman Tuli memiliki hak yang sama untuk berkomunikasi dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial,” ungkap Tasya seusai mengikuti workshop.

Kegiatan yang dipandu Kak Alim itu diawali dengan sesi ice breaking, kemudian dilanjutkan dengan pengenalan bahasa isyarat yang digunakan untuk berkomunikasi dengan komunitas Tuli.

Dari proses tersebut, peserta diajak memahami bahwa komunikasi yang inklusif membutuhkan lebih dari sekadar pengetahuan tentang bahasa isyarat. Ada kemauan untuk belajar, kesediaan menyesuaikan diri, dan penghormatan terhadap hak setiap orang untuk didengar serta dipahami.

Inklusivitas, dengan demikian, bukan hanya istilah yang terdengar baik dalam sebuah kegiatan. Nilainya justru diuji dalam kehidupan sehari-hari: apakah setiap orang memperoleh kesempatan yang sama untuk terlibat, tanpa terhalang perbedaan cara berkomunikasi.

Kesadaran semacam ini penting ditumbuhkan sejak muda. Sebab, lingkungan yang ramah bagi penyandang disabilitas tidak terbentuk hanya melalui aturan, tetapi juga melalui sikap masyarakat yang mau membuka diri dan mengubah kebiasaan.

***

Jika workshop bahasa isyarat mengajak peserta memahami sesama, lokakarya Art and Recycle Ecoprint mengarahkan perhatian pada hubungan manusia dengan alam.

Bersama Rumah Kencana yang didirikan Nada Kencana, peserta diperkenalkan pada teknik ecoprint, yakni pembuatan motif pada kain atau media lain dengan memanfaatkan pigmen alami dari tumbuhan, termasuk daun dan bunga.

Penjelasan tidak berhenti pada teori. Peserta mendapat kesempatan mencoba langsung teknik pounding atau teknik pukul.

Bunga diletakkan di atas tas putih, lalu dipukul perlahan agar pigmen alaminya berpindah ke permukaan tas. Dari proses sederhana itu, warna dan bentuk tumbuhan meninggalkan jejak yang membentuk motif alami.

Setiap tumbuhan memiliki karakter berbeda. Bentuk daun, susunan kelopak, dan pigmen yang terkandung di dalamnya membuat hasil akhir tidak sepenuhnya sama. Alam menyediakan bahan sekaligus inspirasi, sementara kreativitas manusia memberi ruang bagi bahan-bahan itu untuk menjadi karya.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan kreatif dapat menjadi pintu masuk untuk mengenali potensi lingkungan. Bahan yang kerap dijumpai dalam keseharian ternyata dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang bernilai tanpa harus selalu bergantung pada bahan buatan.

Bagi Tasya, kegiatan seperti ini juga dapat menumbuhkan kepekaan generasi muda terhadap lingkungan. Kreativitas, menurutnya, perlu berjalan beriringan dengan kesadaran menjaga keberlanjutan alam.

“Anak muda perlu memiliki kepekaan untuk melihat hal-hal di sekelilingnya. Alam menyediakan banyak sumber inspirasi, tetapi juga harus dijaga keberlanjutannya,” jelasnya.

Pesan itu mengingatkan bahwa merawat lingkungan tidak selalu harus dimulai dari gerakan besar. Mengenali potensi alam, memanfaatkannya secara bijak, dan memahami pentingnya keberlanjutan merupakan bagian dari proses membangun kepedulian.

***

Pengalaman dalam Merah Muda Fest 2026 juga menjadi bagian dari perjalanan Anugrah Dwi Rachman, kader muda PDI Perjuangan Jawa Timur yang sebelumnya mengikuti Sekolah Partai DPD PDI Perjuangan Jawa Timur.

Bagi Anugrah, keterlibatan dalam kegiatan tersebut membuka kesempatan belajar yang tidak ia bayangkan sebelumnya. Ia semula mengira pengalaman setelah mengikuti Sekolah Partai akan terbatas pada kegiatan itu saja.

Namun, kesempatan berikutnya membawanya terlibat dalam berbagai agenda berskala lebih besar, termasuk kegiatan di tingkat DPP PDI Perjuangan.

“Sebagai peserta Sekolah Partai DPD PDI Perjuangan Jawa Timur yang terbilang masih baru bergabung, saya merasa mendapatkan kesempatan dan pengalaman yang sangat berharga,” tutur Anugrah.

Ia mengaku tidak menyangka proses belajarnya akan berlanjut melalui keterlibatan dalam beragam kegiatan.

“Awalnya, saya mengira bahwa pengalaman saya akan berhenti setelah mengikuti Sekolah Partai. Namun, ternyata kesempatan yang diberikan jauh lebih luas. Saya dilibatkan dalam berbagai kegiatan besar, bahkan hingga tingkat DPP PDI Perjuangan,” terangnya.

Bagi Anugrah, pengalaman tersebut menjadi kesempatan untuk memperluas wawasan, mengenal dinamika organisasi, dan belajar dari berbagai kegiatan yang diikutinya.

“Pengalaman ini memberikan banyak hal baru bagi saya, mulai dari kesempatan untuk belajar, memperluas wawasan, hingga mengenal lebih dekat dinamika kegiatan dan kehidupan berorganisasi di partai,” pungkasnya.

Pengalaman Anugrah memperlihatkan bahwa proses belajar tidak harus berhenti setelah seseorang menyelesaikan satu tahapan pendidikan. Kesempatan untuk terlibat, bertemu orang baru, dan menjalani pengalaman berbeda dapat menjadi bagian penting dalam membangun pemahaman serta tanggung jawab.

***

Bahasa isyarat dan ecoprint mungkin berada di wilayah yang berbeda. Yang satu berkaitan dengan komunikasi dan hak untuk berpartisipasi, sedangkan yang lain menyentuh kreativitas serta hubungan manusia dengan lingkungan.

Namun, keduanya bertemu pada satu gagasan: kepedulian membutuhkan kemauan untuk memahami.

Memahami sesama berarti bersedia melihat kebutuhan orang lain, termasuk mereka yang menghadapi hambatan komunikasi. Memahami lingkungan berarti menyadari bahwa alam bukan sekadar sumber bahan, melainkan bagian dari kehidupan yang keberlanjutannya perlu dijaga.

Di sisi lain, pengalaman Anugrah menunjukkan bahwa kepekaan dan wawasan juga dapat tumbuh melalui kesempatan belajar yang berkelanjutan.

Melalui rangkaian kegiatan Merah Muda Fest 2026, generasi muda tidak hanya diajak mengikuti acara, tetapi juga memperoleh ruang untuk mencoba, bertanya, dan memperluas cara pandang.

Pada akhirnya, nilai sebuah kegiatan tidak hanya terletak pada apa yang dipelajari selama acara berlangsung. Hal yang lebih penting ialah bagaimana pengetahuan itu dibawa pulang dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab, masyarakat yang lebih inklusif dan lingkungan yang lebih terjaga tidak lahir dari gagasan semata. Keduanya membutuhkan orang-orang yang bersedia memulai, sekecil apa pun langkahnya. (yols/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

SEMENTARA ITU...

Diana Sasa Pimpin KBI Magetan, Perluas Minat Anak Muda terhadap Kickboxing

MAGETAN – Diana AV Sasa ingin semakin banyak anak muda Magetan mengenal dan tertarik mencoba kickboxing. Baginya, ...
KRONIK

Merah Muda Fest 2026: Belajar Memahami Sesama, Merawat Alam, dan Menumbuhkan Kepedulian

JAKARTA – Kepedulian tidak selalu dimulai dari langkah besar. Terkadang, ia tumbuh dari kesediaan mempelajari cara ...
SEMENTARA ITU...

Banteng Futsal League Ngawi: Dari Wazza yang Juara hingga Rizky yang Belajar dari Kekalahan

NGAWI – Usianya baru 14 tahun. Bangku sekolah masih menjadi kesehariannya, tetapi Minggu (25/10/2026), Wazza ...
KRONIK

Merah Muda Fest 2026, Repdem Dorong Ruang Politik bagi Anak Muda

Banu Lesmana Bagaskara menilai Gen Z bukan generasi apolitis, tetapi masih menghadapi hambatan masuk partai ...
KRONIK

Dari Sumenep ke Jakarta, Rafiq Membawa Cerita Madura dan Semangat Merawat Indonesia

JAKARTA – Perjalanan dari Sumenep menuju Jakarta bukan sekadar perpindahan dari satu kota ke kota lain bagi ...
EKSEKUTIF

Marhaen Djumadi Dorong Penguatan Pangan dan Kesejahteraan Petani Nganjuk

NGANJUK – Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi menilai kebijakan pemerintah pusat terkait harga gabah membantu memberikan ...