SIDOARJO — Upaya mendorong pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar mampu bersaing di era digital terus diperkuat melalui kegiatan Bimbingan Teknis Digital Marketing untuk UMKM di Kabupaten Sidoarjo.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program kemitraan Komisi X DPR RI bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan tema “Peningkatan Kapasitas Pengguna Riset dan Inovasi untuk Masyarakat.”
Anggota Komisi X DPR RI, Puti Guntur Soekarno, dalam sambutannya yang disampaikan secara daring, menekankan pentingnya transformasi digital bagi UMKM agar tidak tertinggal dalam arus ekonomi global.
“Digital marketing bukan hanya tentang jualan, tetapi tentang berkarya. Digitalisasi harus menjadikan UMKM kita sebagai subjek utama, bukan objek eksploitasi,” ujar Puti Guntur Soekarno, Sabtu, (25/4/2026).
Ia juga mengingatkan bahwa meskipun ekonomi digital Indonesia telah mencapai 90 miliar USD pada 2024, terbesar di ASEAN, pemanfaatan teknologi oleh UMKM masih belum optimal. Data menunjukkan, baru sekitar 42,02% pelaku UMKM yang memanfaatkan e-commerce.

Lebih lanjut, Puti menyoroti tantangan literasi digital yang masih menjadi pekerjaan rumah besar. Penurunan indeks literasi digital hingga 42,8% pada 2025 menjadi indikator bahwa peningkatan akses internet belum diiringi kemampuan pemanfaatan yang produktif.
“Jangan biarkan ponsel hanya menjadi alat menonton. Jadikan ponsel sebagai alat untuk menulis sejarah kebangkitan ekonomi Indonesia,” tegasnya.
Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi forum pelatihan, tetapi juga sebagai jembatan antara hasil riset dan kebutuhan nyata ditengah masyarakat.
“Riset tidak boleh berhenti di rak perpustakaan. Harus diterjemahkan menjadi bahasa pasar yang mudah dipahami dan langsung dimanfaatkan oleh pelaku UMKM,” pungkasnya.
Dalam kegiatan ini, BRIN menghadirkan narasumber ahli muda, Raden Dwiarto, yang memaparkan strategi praktis digital marketing bagi pelaku UMKM.
Dwiarto menjelaskan bahwa digital marketing merupakan seluruh upaya pemasaran yang memanfaatkan perangkat digital dan internet, seperti media sosial, marketplace, hingga website.
Menurutnya, potensi pasar digital di Indonesia sangat besar, dengan lebih dari 210 juta pengguna internet dan 167 juta pengguna aktif media sosial.
“Dengan hanya bermodal ponsel dan internet, UMKM sudah bisa memulai usaha digital dengan jangkauan yang jauh lebih luas dibandingkan toko konvensional,” jelas Dwiarto.
Ia juga menekankan pentingnya strategi konten dalam pemasaran digital, mulai dari foto produk yang menarik, video promosi, hingga ulasan pelanggan.

Salah satu pendekatan efektif yang disarankan adalah pola konten 5-3-2, yaitu 5 konten edukasi, 3 konten promosi, dan 2 konten personal.
Selain itu, platform seperti Instagram, Facebook, WhatsApp Business, hingga marketplace dinilai menjadi sarana utama dalam membangun brand awareness dan meningkatkan penjualan.
Melalui sinergi antara DPR RI dan BRIN, kegiatan ini menjadi langkah konkret dalam memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat berbasis inovasi dan teknologi, sekaligus mendorong UMKM Indonesia untuk naik kelas di pasar global.
Acara diikuti seratus pegiat UMKM dari berbagi jenis usaha. Acara dibuka dengan tarian dimainkan sejumlah penari muda. (yols/hs)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










