Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin menilai FJTT menjadi parameter eksistensi seni jaranan sekaligus ruang regenerasi seniman muda di Trenggalek.
TRENGGALEK – Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin mengapresiasi pelaksanaan Festival Jaranan Trenggalek Terbuka (FJTT) yang kini memasuki penyelenggaraan ke-30. Menurutnya, keberlangsungan festival tersebut menjadi parameter bahwa seni jaranan di Trenggalek masih tetap eksis di tengah gempuran zaman.
Lebih dari itu, Mas Ipin, sapaan akrab M. Nur Arifin, melihat FJTT sebagai ruang tumbuh bagi para seniman muda. Dari festival tahunan tersebut, seniman-seniman baru terus bermunculan sehingga proses regenerasi kesenian tradisional dapat berjalan.
“Dan seniman-seniman terus bermunculan. Inilah yang kami harapkan, ada regenerasi. Sehingga kesenian tidak akan pernah luntur,” kata Mas Ipin usai menutup FJTT sekaligus menyerahkan penghargaan kepada para penyaji terbaik, Rabu (30/9/2026).
Menurutnya, semangat para peserta yang tampil maksimal selama festival menjadi modal penting untuk menjaga keberadaan seni jaranan di Trenggalek.
Karena itu, Pemkab Trenggalek memastikan FJTT tetap menjadi agenda tahunan. Mas Ipin bahkan berharap jumlah peserta terus bertambah, tidak hanya dari Jawa Timur tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia.

“Kalau bisa nanti skalanya tidak hanya nasional, tetapi tembus hingga internasional,” ujar bupati muda yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan Trenggalek itu.
Mas Ipin menilai FJTT juga mempertegas posisi Trenggalek sebagai salah satu daerah yang memiliki banyak seniman jaranan. Salah satu kesenian yang telah dikenal luas adalah Jaranan Turangga Yaksa yang menjadi ciri khas kesenian Mataraman.
“Semangat untuk peserta dan selamat bagi yang sudah menjadi yang terbaik. Tahun depan bakal dibuat meriah lagi,” katanya.
Sementara itu, Ketua DPRD Trenggalek Doding Rahmadi turut mengapresiasi pelaksanaan FJTT yang berlangsung sejak 20 September 2026.
Menurut Doding, seluruh rangkaian kegiatan, mulai pembukaan hingga penutupan, berjalan lancar. Namun, ada hal lain yang menurutnya tidak kalah penting, yakni antusiasme masyarakat yang tetap tinggi sepanjang pelaksanaan festival.
Alun-Alun Trenggalek yang menjadi lokasi perhelatan tidak pernah sepi dari penonton. Warga terus berdatangan untuk menyaksikan penampilan para peserta hingga hari terakhir.

“Ini yang membuat bangga. Warga setidaknya ikut memiliki kesenian jaranan terus ada sampai kapan pun,” kata Doding.
Politisi PDIP ini berharap peserta yang belum meraih predikat penyaji terbaik tidak patah semangat. Sebab, masih banyak kesempatan untuk kembali tampil dalam berbagai agenda kesenian pada tahun-tahun berikutnya.
Ia memastikan eksekutif dan legislatif akan terus mendukung penyelenggaraan berbagai kegiatan yang memberikan hiburan sekaligus ruang bagi masyarakat untuk menikmati kesenian secara gratis. “Selamat dan sukses,” ucapnya.
Pada FJTT 2026, sejumlah kelompok tampil sebagai penyaji terbaik nonranking. Untuk kategori bocah, di antaranya Turangga Muda Taruna dari SDN 1 Sumbergedong, Sdasa Budaya Kridha Sakti dari SDN 1 Surodakan, Turangga Wiraya Budaya dari SDN 2 Surodakan, Passayo Mudho Yakso dari SDN Wonocoyo Panggul, serta Sanggar Jumangkah dari SDN 1 Dongko.
Kategori remaja di antaranya Mayangsari Budaya dari SMPN 2 Panggul, Sanggar Guyub Rukun SMPN 1 Dongko, Sanggar Tari Tanjak Rinonce SMPN 1 Pogalan, Skawan Maheswara dari SMPN 3 Trenggalek, dan Paramastri Budhoyo dari MTsN 1 Trenggalek.
Sedangkan kategori Turangga Yaksa umum, empat penyaji terbaik nonranking di antaranya Ngesti Laras Budaya dari SMAN 1 Karangan, Sanggar Tari Sekar Mayang dari Dongko, Turonggo Wanasetra dari SMPN 1 Trenggalek, serta Bala Kuda dari Ngadiluwih, Kediri. (azz/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS













