Selasa
21 Juli 2026 | 8 : 47

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Malam Ketika Sepak Bola Membuat Orang-orang Blitar Duduk Bersama

pdip jatim 260720 nobar blitar

DINI hari biasanya identik dengan jalanan yang lengang. Tetapi Senin (20/7/2026), halaman Kantor DPC PDI Perjuangan Kota Blitar justru dipenuhi orang. Ada yang datang berboncengan, ada pula yang menggandeng anaknya yang memaksa ikut begadang demi menyaksikan final Piala Dunia.

Tak ada kursi VIP. Yang ada hanya layar besar, kursi-kursi sederhana, karpet untuk lesehan, dan ratusan pasang mata yang menunggu peluit pertama dibunyikan.

Argentina melawan Spanyol.

Dua nama besar itu mendadak menjadi bahan obrolan siapa saja. Orang yang baru bertemu beberapa menit sebelumnya bisa saling menyapa hanya karena berbeda jagoan.

“Argentina menang.”

“Ah, Spanyol lebih rapi.”

Perdebatan kecil itu selalu berakhir dengan tawa.

Di sudut lain, panitia sibuk membagikan makanan dan minuman hangat. Tidak mewah, tetapi cukup membuat suasana terasa akrab.

Tak ada yang sungkan mengambil secangkir kopi atau sebungkus makanan. Semua menikmati malam dengan cara yang sama.

Barangkali memang begitulah sepak bola bekerja. Ia mampu menghapus sekat-sekat yang sering hadir dalam kehidupan sehari-hari. Jabatan, profesi, usia, bahkan pilihan hidup, seolah berhenti sejenak ketika bola mulai bergulir.

Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Blitar, Yudi Meira, mengatakan sejak awal kegiatan itu memang dirancang bukan sekadar untuk menonton pertandingan. Yang ingin dihadirkan adalah ruang perjumpaan.

Ruang di mana masyarakat bisa berkumpul tanpa beban, bercanda, saling mengenal, dan pulang dengan perasaan lebih dekat daripada saat datang.

Sebab, menurutnya, sepak bola adalah bahasa yang hampir semua orang mengerti. Tak membutuhkan penerjemah. Satu gol saja sudah cukup membuat orang asing saling berpelukan.

Pandangan itu diamini Djarot Saiful Hidayat, Ketua DPP PDI Perjuangan yang juga hadir di acara nobar. Baginya, olahraga selalu memiliki kemampuan menghadirkan persaudaraan dengan cara yang sederhana. Orang datang membawa perbedaan, tetapi pulang membawa pengalaman yang sama.

Laga akhirnya usai.

Sorak-sorai perlahan berubah menjadi obrolan santai. Anehnya, justru setelah peluit panjang berbunyi, tak sedikit warga yang memilih tetap bertahan.

Mereka menghabiskan sisa kopi, menikmati hidangan yang masih tersedia, lalu berbincang tentang banyak hal.

Tentang pertandingan yang baru selesai.

Tentang pekerjaan.

Tentang anak-anak.

Tentang kampung yang mereka tinggali.

Udin, seorang peserta, mengaku itulah bagian yang paling ia sukai. Final Piala Dunia memang menjadi alasan datang.

Namun, yang dibawa pulang bukan hanya cerita tentang siapa juara dunia.

Ia pulang membawa cerita bahwa malam itu ia bertemu banyak orang, bercakap tanpa canggung, dan merasakan kembali hangatnya kebersamaan yang mulai jarang ditemukan di tengah kesibukan masing-masing.

Mungkin itulah yang sering terlupakan dari sebuah nonton bareng.

Skor pertandingan suatu hari akan dilupakan. Siapa pencetak gol mungkin tak lagi diingat beberapa tahun kemudian.

Tetapi suasana ketika orang-orang duduk berdampingan, tertawa bersama, saling menyuguhi makanan, lalu pulang dengan hati yang lebih hangat, sering kali justru tinggal lebih lama dalam ingatan.

Karena pada akhirnya, sepak bola bukan hanya tentang sebelas pemain yang berebut bola di lapangan.

Kadang, ia hanya menjadi alasan agar orang-orang kembali duduk semeja, saling menyapa, dan menyadari bahwa kebersamaan selalu menemukan jalannya, bahkan di sebuah dini hari di Kota Blitar. (arif/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

HEADLINE

Hasto: Program MBG Lebih Efektif Jika Libatkan Warung dan UMKM Lokal

Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menilai Program Makan Bergizi Gratis akan lebih efektif jika melibatkan ...
KRONIK

Dongkrak UMKM, Business Matching BEC x SCF Capai Rp 1,22 Miliar

BANYUWANGI – Kolaborasi Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) yang digelar Pemkab Banyuwangi dan Sekarkijang Creative ...
EKSEKUTIF

Bupati Gresik Cup 2026, Wadah Menjaring dan Mengasah Kemampuan Atlet

GRESIK – Sebanyak 1.413 atlet resmi memulai persaingan di Bupati Gresik Cup 2026. Ajang ini sebagai wadah menjaring ...
UMKM

DPRD Kabupaten Pasuruan Kemas Produk UMKM Jadi Oleh-oleh untuk Tamu Kedinasan

KABUPATEN PASURUAN – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pasuruan terus menunjukkan komitmen nyata ...
KRONIK

RedTalks Segera Hadir, Ajak Generasi Muda Kupas Nasionalisme di Era Modern

SURABAYA – Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital, makna nasionalisme terus ...
KABAR CABANG

Malam Ketika Sepak Bola Membuat Orang-orang Blitar Duduk Bersama

DINI hari biasanya identik dengan jalanan yang lengang. Tetapi Senin (20/7/2026), halaman Kantor DPC PDI Perjuangan ...