oleh

Lestarikan Budaya, Pemkab Nganjuk Gelar Siraman di Sedudo

 

pdip-jatim-siraman-sedudoNGANJUK – Pemerintah Kabupaten Nganjuk melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat menggelar siraman di obyek wisata Air Terjun Sedudo, akhir pekan lalu. Dalam acara tersebut, ribuan pengunjung berdatangan ingin melihat langsung prosesi siraman.

Ini memang menjadi agenda tahunan bagi Pemerintah Kabupaten Nganjuk untuk mempertahankan agar daya tarik air terjun Sedudo bisa tetap terjaga. Acara ini juga dihadiri jajaran forpimda, seperti Drs Puji Santoso Ketua DPRD Kabupaten Nganjuk yang juga Sekretaris DPC PDI Perjuangan setempat.

Prosesi siraman diawali dengan tabur bunga bunga di tengah-tengah obyek wisata air terjun Sedudo yang dilakukan Bupati Drs H Taufiqurrahman MKP.

Usai menabur bunga, selanjutnya melarung sesaji ke tengah-tengah area air terjun Sedudo. “Ritual ini juga sebagai pertanda kalau pemkab selalu memperhatikan air terjun Sedudo sebagai tempat wisata andalan di Kabupaten Nganjuk,” kata Taufiqurrahman.

Sementara itu, ritual Siraman Sedudo kali ini berlangsung meriah dan sakral. Kemasan tari Bedhayan Amek Tirta semakin menambah kesakralan prosesi. Tari itu sendiri merupakan penggambaran rasa wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Tari ini dibawakan oleh lima penari cantik. Sedangkan di belakangnya sepuluh gadis berambut panjang siap dengan klentingnya dan lima perjaka yang siap mengambil air (amek tirta) dari gerojogan Sedudo.

Sebelum pertunjukan tari dimulai, seorang penunjuk jalan (cucuk lampah) telah memandu jalan menuju air terjun Sedudo. Di belakang berderet lima sesepuh membawa dupa dan sesaji disusul para putri domas, lima penari Bedhayan, dan paling belakang terdiri dari 10 gadis berambut panjang dan 5 perjaka tampan.

Yang menambah suasana menjadi sakral adalah aroma harum yang keluar dari kepulan asap dupa. Ini pertanda prosesi benar-benar dimulai, membacakan mantra-mantra sambil membakar dupa menghadap ke guyuran air terjun Sedudo.

Selanjutnya diikuti ritual larung sesaji ke dalam air Sedudo oleh Bupati Nganjuk. Setelah usai, mereka bersama-sama kembali menuju persiapan pertunjukan tari Amek Tirta.

Di akhir pertunjukan tari, Bupati Nganjuk menyerahkan klenthing ke sepuluh gadis berambut panjang sebagai pertanda proses ritual Amek Tirta dilaksanakan. Semua harus turun di bawah guyuran air terjun Sedudo, yang konon memiliki kekuatan magis dapat menjadikan orang yang mandi awet muda.

Saat itu, para ritual yang menenteng ‘klenthing’ hanya sekadar mengisi air Sedudo yang mengguyur. Para gadis cantik tersebut harus rela berbasah-basah, demi mendapatkan ‘tirta amerta.’

Menurut mitosnya, gadis yang mengambil “tirta amerta” ini harus masih suci, untuk menggambarkan bahwa air yang diambil juga benar-benar masih suci. Untuk itu tidak sembarang gadis dapat mewakili dalam proses sakral ini.

Bila mitos ini dilanggar, menurut kepercayaan warga setempat dapat mendatangkan sengkala atau bahaya.

Lazimnya, tirta amerta yang dipercaya memiliki kesucian ini, biasa digunakan untuk berbagai keperluan yang berkaitan dengan kegiatan ritual seperti jamasan pusaka, upacara ruwatan, wisuda waranggana, dan sebagainya.

Usai upacara selesai dilanjutkan mandi bersama para pengunjung dan tamu undangan berebut masuk ke pemandian air terjun Sedudo. Menurut sejarahnya, sebenarnya upacara siraman ini tidak ada. Kendati pun kepercayaan masyarakat tentang mandi air di Sedudo ini sudah turun-temurun – sejak nenek moyang kita. Baru sekitar tahun 1987, prosesi garapan tari dikemas sebagai kalender budaya dan berlangsung hingga sekarang.

Acara dilanjutkan do’a bersama sebagai wujud rasa syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa serta memohon agar Nganjuk kedepan dihindarkan dari segala musibah, bencana marabahaya dan diberikan kesejahteraan masyarakat yang lebih baik, dilanjutkan dengan makan tumpeng bersama warga Nganjuk. (endyk)