BLITAR — Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menegaskan bahwa isu ketahanan pangan harus menjadi prioritas utama bagi seluruh kepala daerah (kada) PDI Perjuangan di Indonesia, terutama di Jawa Timur sebagai salah satu lumbung pangan nasional.
Dalam arahannya, Megawati menilai bahwa pangan bukan sekadar urusan ekonomi, tetapi menyangkut kedaulatan bangsa dan kesejahteraan rakyat kecil.
Bupati Ngawi, Ony Anwar Harsono, mengatakan bahwa Kabupaten Ngawi sudah menjadikan ketahanan pangan sebagai fokus utama pembangunan daerah. Ngawi, yang selama ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi padi terbesar di Jawa Timur, terus mengembangkan model pertanian berkelanjutan berbasis teknologi ramah lingkungan.
“Program ketahanan pangan di Ngawi sudah berjalan dengan konsep pertanian berkelanjutan. Kami ingin pertanian yang tidak hanya kuat secara produksi, tetapi juga berdaya dan menyejahterakan petani,” ujar Ony, Sabtu (1/11/2025).
Dia menegaskan, penguatan kelembagaan petani dan kemandirian bibit lokal juga menjadi prioritas. “Kita dorong agar petani tidak hanya menjadi pelaku, tapi juga pengelola hasil dan nilai tambah dari pertanian itu sendiri,” tambahnya.
Sedang Wakil Bupati Ngawi, Rianto Jatmiko, menilai bahwa tantangan ketahanan pangan tidak bisa diselesaikan sendiri oleh satu daerah. Dia menekankan pentingnya komunikasi dan gotong royong antar kepala daerahdi Jawa Timur untuk saling memperkuat potensi pangan lokal.
“Dari sisi kebijakan, kita tidak boleh mengeluh. Semua kepala daerah harus memprioritaskan kepentingan masyarakat. Eksplorasi potensi daerah harus dilakukan secara maksimal, dan komunikasi antar daerah perlu diperkuat agar tercipta sinergi dan gotong royong,” kata wabup yang akrab disapa Antok otu.
Menurutnya, dengan saling berbagi praktik baik dan membangun kolaborasi lintas wilayah, Jawa Timur dapat menjadi model ketahanan pangan nasional yang tangguh.
Sementara itu, Wakil Bupati Lumajang, Yudha Adji Kusuma, menegaskan komitmennya untuk terus turun ke bawah dan mengawal kesejahteraan petani sebagai bagian dari perjuangan kaum marhaen.
“Kami selalu bersemangat turun ke bawah, mendengar langsung suara petani, memastikan mereka mendapat perhatian dan akses terhadap kesejahteraan. Ketahanan pangan tidak hanya soal hasil panen, tapi juga tentang keadilan bagi rakyat kecil yang menggarap tanahnya,” ujar Yudha,
Dia menyebut bahwa Lumajang terus memperkuat sektor pertanian organik dan diversifikasi pangan lokal, seperti pengembangan umbi-umbian dan hortikultura, agar masyarakat tidak bergantung pada satu komoditas saja. (yols/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










