oleh

Jelang 100 Hari Kerjanya, Eri Cahyadi Dapat Kado Buku dari Wartawan Antara

-Kronik-24 kali dibaca

SURABAYA – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mendapatkan kado spesial berupa buku berjudul “Mengubah Wajah Sejarah: Jalan Politik Eri Cahyadi, PDI Perjuangan dan Pilkada Surabaya” dari penulis buku sekaligus wartawan Kantor Berita Antara, Abdul Hakim, menjelang 100 hari kerjanya pada 7 Juni 2021.

Buku ini menjelaskan perjalanan politik Eri Cahyadi di Pilkada Surabaya 2020 mulai dari bursa cawali-cawawali, pendaftaran pilkada, fit and proper test, kampanye, debat pilkada, pemungutan suara, sidang sengketa pilkada, pelantikan hingga menjadi Wali Kota Surabaya.

“Saya menyambut baik sekaligus memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada penulis atas terbitnya buku ini,” ucap Eri Cahyadi saat menerima buku dari penulis di ruang kerjanya, Kamis (3/6/2021).

Dia mengaku tidak mudah untuk memimpin Kota Surabaya, terutama di masa pandemi Covid-19 seperti saat ini. Namun dengan semangat gotong royong dan kolaborasi dengan segenap stakeholders yang ada, kader Banteng ini yakin tantangan tersebut dapat diatasi.

Eri bahkan mempunyai tekad membawa Kota Surabaya menuju “A world class business environment” atau ekosistem bisnis di Surabaya berkelas dunia.

Ekosistem bisnis itu, mulai dari SDM, infrastruktur, sistem perizinannya, kesiapan tenaga kerja, dukungan pemerintah, dan sebagainya. Kemudahan berbisnis di Surabaya terus ditingkatkan.

Untuk mewujudkan itu, terang Eri, dibutuhkan sinergitas antara pemerintah kota dengan pengusaha. Sebab dengan begitu dunia usaha akan tetap bisa bergeliat dan membuka lapangan pekerjaan di tengah pandemi Covid-19 yang masih melanda.

Sementara itu, penulis buku Abdul Hakim mengatakan, buku setebal 500 halaman lebih ini merupakan buku trilogy, atau lanjutan dari buku pertama dan keduanya. Buku pertama berjudul Tri Rismaharini yang terbit pada 2014 dan buku kedua, Merajut Kemelut: Risma, PDIP dan Pilkada Surabaya terbit pada 2015.

Menurut Hakim, antara Eri Cahyadi dan Tri Rismaharini sebetulnya terdapat persamaan. Keduanya adalah sama-sama birokrat yang mengawali karir politiknya saat menjabat sebagai Kepala Bappeko Surabaya.

Soal gaya kepemimpinan mampukah Eri Cahyadi seperti Risma, Abdul Hakim mengatakan, jika dilihat dari gaya blusukannya mungkin bisa dikatakan sama. Tapi masih butuh waktu.

Penulis juga mengutip pernyataan Ketua DPRD Surabaya Adi Sutarwijono, yang membedakan Risma dengan Eri, yakni Risma lebih mendahulukan infrastruktur, sementara Eri memprioritaskan pembangunan sumber daya manusia (SDM).

Eri mencoba menempatkan SDM sebagai yang utama, karena pembangunan infrastruktur pascareformasi di Surabaya, relatif sudah terpenuhi.

Selain itu, Eri dinilai bisa lebih luwes melakukan koordinasi dengan mitranya di DPRD Surabaya, sekaligus bersinergi dengan lembaga negara di Surabaya baik Kejaksaan, BPN, perguruan tinggi lainnya. Bahkan juga dengan Gubernur Jatim serta kepala daerah di wilayah Surabaya Raya.

Eri Cahyadi juga bisa menjalin komunikasi politik dengan partai politik yang sebelumnya menjadi rivalnya di Pilkada Surabaya 2020. “Sikap yang ditunjukkan Eri Cahyadi yang membuat peta politik di Kota Surabaya menjadi sejuk. Harapan besar ada di pundak Pak Eri untuk menjadikan Surabaya menjadi lebih baik,” katanya. (goek/*)

Komentar