BOJONEGORO – Mengambil spirit “Marhaenisme” yang dicetuskan Bung Karno, DPC PDI Perjuangan Bojonegoro melakukan aksi nyata dengan menanam tanaman pendamping beras di lahan seluas dua hektar di Desa Kedewan, Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro, Minggu (26/4/2026).
Langkah ini bukan sekadar aktivitas agraris biasa, melainkan implementasi langsung dari instruksi Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri.
Kader partai tingkat cabang hingga ranting turun ke ladang untuk menanam jagung dan pisang—dua komoditas yang sejak zaman pergerakan dianggap sebagai simbol kemandirian rakyat.
Pangan sebagai Senjata Ideologi
Ketua DPC PDI Perjuangan Bojonegoro, Bambang Sutriyono, menegaskan bahwa gerakan ini adalah upaya merawat ingatan sejarah.
“Kita harus ingat rumusan Bung Karno tentang Marhaen. Petani adalah sokoguru bangsa. Penanaman jagung dan pisang ini adalah cara kita memaksimalkan kekayaan Nusantara untuk kemandirian nasional,” ujar Bambang saat memberikan keterangan di sela-sela kegiatan tanam.
Bambang juga mengajak masyarakat untuk menghidupkan kembali tradisi leluhur dalam memanfaatkan setiap jengkal tanah.
“Kakek nenek kita dahulu tidak membiarkan pekarangan kosong. Ruang-ruang kosong itu harus diisi tanaman pangan sebagai benteng pertahanan keluarga dari krisis,” tambahnya.

Menghadapi Ketidakpastian Global
Di sisi lain, tantangan ekonomi internasional yang memicu lonjakan harga komoditas menuntut setiap daerah memiliki cadangan pangan alternatif.
Bidang Pertanian dan Kehutanan DPC PDI Perjuangan Bojonegoro, Rakidik, menjelaskan bahwa diversifikasi pangan adalah solusi paling logis saat ini.
“Ini adalah tindakan menjaga kedaulatan pangan. Manfaatnya mungkin tidak instan, tapi saat kondisi sulit atau krisis ekonomi global menghantam, masyarakat yang memiliki cadangan jagung dan umbi-umbian akan memiliki daya tahan lebih kuat,” ungkap Rakidik.(dian/hs)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










