TRENGGALEK — Pemerintah Kabupaten Trenggalek memperkuat komitmen pelestarian lingkungan melalui inventarisasi keanekaragaman hayati (kehati) yang dirangkum dalam buku Biodiversitas Trenggalek 2025. Publikasi ini diposisikan sebagai sarana edukasi sekaligus fondasi kebijakan konservasi untuk menjaga keseimbangan ekosistem.
Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin menegaskan, pendataan biodiversitas penting agar masyarakat memahami ketergantungan manusia terhadap alam, sekaligus mencegah kerusakan ekosistem akibat eksploitasi yang tidak terkendali.
Sebagai bagian dari sosialisasi, Pemkab Trenggalek bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur telah menggelar bedah buku di Amphitheater Hutan Kota (Huko) Gunung Jaas, Senin (9/2/2026). Kegiatan ini dihadiri jajaran kepala OPD, pengelola kawasan penelitian, komunitas, perwakilan masyarakat, serta media.
Buku setebal 139 halaman tersebut merupakan hasil inventarisasi kehati di empat lokasi, yakni Mangrove Cengkrong, Hutan Kota Trenggalek, Perkebunan Dilem Wilis, serta jalur pendakian Botoputih. Pendataan yang dilakukan pada Oktober 2025 mencakup tumbuhan, burung, kupu-kupu, herpetofauna, dan mamalia.
Mas Ipin—sapaan akrab Bupati Trenggalek—mengaku bangga atas terbitnya buku tersebut. Namun, ia juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan agar informasi kehati tidak disalahgunakan.
“Di satu sisi saya bangga, di sisi lain ada rasa khawatir. Jangan sampai publikasi ini justru memicu perburuan satwa,” ujar Mas Ipin, dikutip Selasa (10/2/2026).
Menurutnya, inventarisasi biodiversitas berperan strategis sebagai sarana edukasi publik sekaligus upaya menjaga keseimbangan ekosistem. Ia menekankan bahwa kehidupan manusia sangat bergantung pada keberlanjutan alam.
“Kita hidup tergantung pada alam. Udara yang kita hirup, air yang kita konsumsi, semuanya bersumber dari alam. Kalau rantai makanan terputus, satwa bisa masuk permukiman dan mengganggu kehidupan manusia,” jelasnya.
Sebagai daerah agraris, Trenggalek juga sangat bergantung pada penyerbuk alami seperti kupu-kupu, burung, dan kelelawar. Diperkirakan 70–75 persen proses penyerbukan tanaman masih mengandalkan satwa tersebut, yang berdampak langsung pada hasil panen masyarakat.
Karena itu, Mas Ipin yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan Trenggalek itu menekankan pentingnya menyiapkan “guardian” atau penjaga konservasi melalui edukasi publik berkelanjutan.
Ia mengapresiasi peran penulis buku Akhmad David Kurnia Putra, Polisi Kehutanan BBKSDA Jawa Timur sekaligus pemenang Festival Gagasan Lan Aksi (Galaksi) 2025, yang aktif memberikan edukasi ke sekolah-sekolah.
“Harapannya masyarakat sadar pentingnya menjaga flora dan fauna agar tidak diburu atau diperjualbelikan,” tegasnya.
Sebagai tindak lanjut inventarisasi, Pemkab Trenggalek merencanakan pembangunan Biodiversity Park di kawasan Hutan Kota dengan konsep aviary raksasa. Konsep ini memungkinkan satwa hidup lebih alami tanpa kandang sempit, sekaligus menjadi ruang edukasi dan wisata ramah lingkungan dalam pengembangan kota atraktif.
Sementara itu, Kepala BBKSDA Jawa Timur Nur Patria Kurniawan mengapresiasi langkah Trenggalek sebagai kabupaten pertama di Jawa Timur yang menyusun dokumen kehati sesuai Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2023 tentang Pengarusutamaan Keanekaragaman Hayati.
Ia menilai pembangunan berbasis pelestarian alam merupakan arah yang tepat. Selain potensi ekologis, Trenggalek juga dinilai memiliki peluang ekonomi berbasis kehati, seperti Lola Merah—jenis siput bercangkang menarik—serta atraksi pengamatan satwa liar di Hutan Kota.
“Ruang alam Trenggalek luar biasa. Kalau adu pembangunan fisik mungkin kalah, tetapi ketika orang mencari ketenangan dan alam, Trenggalek punya kekuatan itu,” ujarnya.
Dalam pemaparan isi buku, Akhmad David menyebut Trenggalek memiliki potensi biodiversitas tinggi. Di Hutan Kota Trenggalek saja tercatat 43 jenis burung, jumlah yang melampaui beberapa kawasan hutan kota di kota besar Indonesia.
Kegiatan ditutup dengan penyerahan buku Biodiversitas Trenggalek 2025 kepada Bupati Trenggalek sebagai simbol selesainya program Galaksi 2025, disertai cendera mata foto burung Walik Kepala-Ungu dan infografis potensi kehati Trenggalek.
Pemkab Trenggalek bersama BBKSDA Jawa Timur pun mengajak masyarakat menjaga habitat flora dan fauna dengan memperhatikan penutup lahan, tempat berlindung, serta ketersediaan air agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga. (aris/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










