oleh

Ini, Orasi Ilmiah Prof Dr (HC) Megawati Soekarnoputri

-Kronik-37 kali dibaca

Prof. Dr. (H.C.) Megawati Soekarnoputri

Marilah kita pekikkan salam bela negara, Salam Bela Negara!!!

PUJI syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah Subhanahu Wata’ala, sehingga kita bisa hadir di Universitas Pertahanan ini. Saya sungguh merasa terhormat dan bersyukur atas penganugerahan gelar Profesor Kehormatan dari universitas yang dikenal selalu menggelorakan semangat nasionalisme dan patriotisme ini.

Saya mengucapkan terima kasih kepada Rektor, Senat Guru Besar, dan seluruh Civitas Academika Universitas Pertahanan Republik Indonesia, atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk menyampaikan orasi ilmiah yang muncul dari seluruh kesadaran dan tanggung jawab yang melekat dalam diri saya dengan menerima gelar Profesor Kehormatan tersebut.

Hadirin yang saya hormati,

Berdasarkan apa yang telah disampaikan oleh Bapak Rektor dan Ketua Tim Promotor Profesor Kehormatan, saya dinilai telah memenuhi seluruh persyaratan akademik, legal maupun administratif untuk diangkat sebagai Profesor Kehormatan pada bidang Kepemimpinan Stratejik.

Hal itu tidak terlepas dari tugas yang saya emban sebagai Presiden Republik Indonesia pada tahun 2001-2004, dan sekaligus sebagai Mandataris MPR RI di dalam menangani krisis multidimensi yang terjadi saat itu.

Penghormatan ini membawa tanggung jawab tersendiri dalam diri saya. Suatu tanggung jawab bagi masa depan bangsa dan negara.

Pemberian gelar profesor ini semakin menyadarkan saya, bahwa hidup itu, sebagaimana halnya falsafah Jawa, Cakra Manggilingan, berputar bagaikan roda kehidupan.

Saya terlahir di Gedung Agung Yogyakarta sebagai anak presiden. Tumbuh besar di istana. Akibat peristiwa politik tahun 1965, tidak bisa melanjutkan sekolah, hidup sebagai rakyat biasa.

Akhirnya sejarah memanggil saya untuk menjadi anggota DPR RI 3 periode, Wakil Presiden dan Presiden Kelima Republik Indonesia. Setelah mendapatkan 9 (Sembilan) doctor honoris causa dari dalam dan luar negeri, kini mendapat gelar profesor kehormatan.

Ini semua semakin menambah tekad untuk semakin berdedikasi bagi nusa dan bangsa, hingga akhir hayat saya. Saat ini saya mendapat amanat dari Presiden Jokowi sebagai Ketua Dewan Pengarah BPIP dan Ketua Dewan pengarah Ex-officio BRIN. Mohon doanya.

Atas dasar hal tersebut, kepemimpinan stratejik tidak hanya diukur dari keberhasilan kepemimpinan di masa lalu, namun juga berkorelasi dengan saat ini, dan melekat dengan tanggung jawab pemimpin bagi masa depan. Dalam perspektif kekinian, kepemimpinan stratejik setidaknya dihadapkan pada 3 (tiga) perubahan besar yang mendisrupsi kehidupan manusia.

Pertama adalah perubahan pada tataran kosmik sebagai bauran kemajuan luar biasa ilmu fisika, biologi, matematika, dan kimia yang menjadi “mata air” bagi kemunculan teknologi baru yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya seperti rekayasa atomik.

Dalam bidang militer, kita bisa merasakan dampak dari Revolution in Military Affairs (RMA) yang lahir sebagai perpaduan antara command, control, communication, computers, intelligence, surveilance, and reconnaissance (CSISR) telah memperhebat perkembangan teknologi ruang angkasa, dan persenjataan modern dengan tingkat presisi, kecepatan, dan daya hancur yang semakin menjadi ancaman serius bagi peradaban umat manusia.

Demikian halnya kemajuan dalam teknologi wireless power, nano technology, dan kehadiran Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau yang dikenal dengan teknologi drone. Kesemuanya merupakan bagian dari kelanjutan revolusi teknologi informasi, Internet of Things, Artificial Intelligence (Kecerdasan Buatan), komputasi Cloud, Analisis Big Data dan lain-lain. 

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bagaimana kini muncul aktor non negara dengan seluruh kekuatan informasi dan data yang begitu kuat, yang bisa mengubah opini dan preferensi secara masif penduduk dunia.

Kedua, revolusi di bidang genetika, yang bisa mengubah keseluruhan landscape tentang kehidupan ke arah yang tidak bisa dibayangkan dampaknya, manakala perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut dijauhkan dari nilai kemanusiaan. Teknologi rekayasa genetik seperti kloning misalnya, di satu sisi dapat menjadi pendorong kemajuan manusia terutama dalam keamanan pangan dan kesehatan.

Namun aplikasi teknologi kloning tanpa landasan etika dan moral, akan membawa dampak yang mengancam kemanusiaan itu sendiri. Dengan kemajuan dalam penguasaan kode genetik, tidak hanya ketidaksempurnaan alam yang akan dikoreksi tetapi juga akan lahir inovasi sel dan organisme buatan yang tidak pernah ada sebelumnya di muka bumi.

Dengan rekayasa genetik, dunia pangan sedang menunggu tanaman super yang lebih produktif, tahan penyakit dan lebih kaya nutrisi. Dengan teknologi yang sama kemampuan organ manusia dapat ditingkatkan, sehingga usia harapan hidup manusia semakin meningkat dengan kualitas hidup yang diharapkan lebih baik.

Namun kesemuanya membawa implikasi yang luas, bahkan menyangkut substansi dasar tentang karya penciptaan, jika manusia tidak diingatkan tentang tanggung jawab sosialnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

Ketiga adalah kemajuan di bidang teknologi realitas virtual di mana seseorang dapat menikmati pengembaraan ke seluruh pelosok dunia bahkan ke luar angkasa tanpa meninggalkan rumahnya sama sekali.

Teknologi ini pada gilirannya akan memungkinkan seseorang untuk “hadir di dua tempat yang berbeda” pada saat yang bersamaan. Tentu ini akan membawa dampak sosial yang luar biasa (Mihelj, Novak & Begus, 2014).

Ketiga perubahan di atas, hadir dalam realitas dunia yang masih diwarnai berbagai bentuk ketidakadilan akibat praktek “penjajahan gaya baru”, namun tetap pada esensi yang sama: perang hegemoni, perebutan sumber daya alam, dan perebutan pasar, diikuti daya rusak lingkungan yang semakin besar.

Hubungan antar negara dalam perspektif geopolitik, juga menunjukkan pertarungan kepentingan yang sama. Bahkan kini semakin meluas. Atas nama perang hegemoni lingkungan dikorbankan.

Perubahan teknologi dalam ketiga aspek tersebut justru memperparah eksploitasi terhadap alam. Global Warming berdampak pada kenaikan muka air laut. Perubahan iklim secara ekstrim juga menciptakan bencana lingkungan yang sangat dahyat.

Disinilah kepemimpinan strategik harus memahami aspek geopolitik tersebut, guna memerjuangkan bumi sebagai rumah bersama seluruh umat manusia.

Hadirin yang saya hormati,

Dalam menghadapi berbagai perubahan di atas, bagaimana kepemimpinan stratejik mampu menyelesaikan berbagai krisis akibat perubahan besar yang selalu terjadi?  Bagaimana korelasi antara ideologi Pancasila dengan kepemimpinan stratejik di dalam perubahan besar yang menciptakan disrupsi diseluruh aspek kehidupan?

Di luar pertanyaan di atas, para scholar juga menyebutkan tantangan kepemimpinan di era modern saat ini sebagai era VUCA dimana akronim tersebut menggambarkan karakter yang volatility (penuh gejolak), uncertainty (tidak menentu), complexity (rumit) dan ambiguity (membingungan).

Kondisi VUCA ini didasari oleh pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan perkembangan teknologi informasi yang bergerak secara eksponensial. Tentu, dalam setiap perubahan yang begitu cepat dan masif terkandung bukan hanya aspek-aspek modernitas yang membangun, tetapi juga memuat risiko ancaman yang semakin canggih.

Dalam konteks revolusi yang semakin kompleks inilah, sebagaimana ditulis oleh Stephen Gerras dalam bukunya Strategic Leadership Primer (2010), kepemimpinan stratejik dibutuhkan untuk memberi pijakan atas kultur disiplin dan cara pikir jernih untuk bisa beradaptasi dengan arus jaman dan menjadi VUCA facilitator.

Pemimpin stratejik mempunyai pandangan ke depan (vision), memiliki pemahaman yang kuat atas berbagai situasi kondisi lingkungan, khususnya lingkungan eksternal, mampu memberikan kejelasan (clarity), atau setidaknya menarik kesimpulan yang jernih atas permasalahan yang dihadapi dan juga lincah (agility), adaptif dalam menghadapi perubahan.

Menurut Olson dan Simmerson (2011) dalam bukunya Leading with Strategic Thinking, pemikiran stratejik merupakan bauran atas 3 komponen, yakni psikologi kognitif (cognitive psychology), system thinking dan game theory.  Psikologi kognitif mengacu pada aspek internal-personal yaitu tentang daya reflektif, menyelaraskan kesadaran internal dan kesadaran lingkungan eksternal hingga mampu memecahkan masalah secara kreatif, mengambil keputusan yang solutif dan memotivasi. System thinking berarti kemampuan memahami bagaimana sistem berperilaku.

Dalam hal ini, dibutuhkan kemampuan high order thinking skill, cara pandang multidimensional yang jernih untuk bisa “menafsirkan” interaksi dalam kerumitan realitas yang saling membentuk pola hubungan kausalitas secara sistematis.

Dalam konteks diplomasi pertahanan misalnya, perlu dilihat juga dalam perspektif geopolitik, geoekonomi dan geostrategi dalam konstelasi global.  Sedangkan game theory memuat aspek kalkulasi yang cermat terhadap setiap langkah dan pergerakan.

Game theory ini penting karena bersifat sekuensial, namun juga sekaligus simultan, sebagaimana dalam suatu permainan bahwa setiap gerak satu pemain akan mempengaruhi gerak pemain lain.

Oleh karena itulah kepemimpinan bukan hanya disebut sebagai suatu ilmu, tetapi juga sebuah seni karena sifatnya yang selalu ada dalam dialektika bersama dengan aktor-aktor lain.

John Adair (2010) dalam Strategic Leadership juga menegaskan bahwa seorang pemimpin harus mampu mem-formulasikan strategi, sekaligus mengeksekusi. Dalam formulasi rencana strategis, sebagaimana dipahami dari makna dasarnya strategos dalam bahasa Yunani, perlu selalu dilihat tujuan jangka panjang dan kepentingan nasional yang ingin dicapai.

Dengan itu, kemudian memilih jalur yang paling efektif dengan jalan terpendek sesuai dengan pertimbangan prinsip-prinsip dasar dan faktor-faktor yang relevan untuk pengambilan keputusan.

Terkait dengan pencapaian kepentingan nasional tersebut, Hughes dan Beatty dalam Becoming Strategic Leader, menjelaskan bahwa kepemimpinan strategis berfokus pada keunggulan kompetitif yang berkelanjutan (sustainable competitive advantages) dengan menggerakkan segenap sumber daya yang ada untuk merealisasikan tujuan bersama. Lebih lanjut, untuk mendukung pencapaian tersebut, terdapat empat karakteristik kepemimpinan yang dibutuhkan, yaitu:

1) mampu mengkomunikasikan visi misi serta merealisasikannya;

2) memiliki arah tujuan yang jelas dan berorientasi pada masa depan;

3) memiliki kemampuan untuk membangun relasi yang luas; dan

4) mampu mengendalikan diri dan orang lain, serta fokus dan berani mengambil risiko.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan stratejik memerlukan sense of direction, berupa keyakinan atas arah tujuan visi yang akan dicapai; memerlukan sense of discovery, guna menemukan gagasan terobosan, membuka ruang kreatif, ruang daya cipta sebagai esensi peningkatan taraf kebudayaan masyarakat.

Kombinasi antara leadership, sense of direction, dan sense of discovery akan menentukan “jalan perubahan” yang sering kali diikuti langkah terobosan (Hamel & Prahalad, 1994).

Jalan perubahan ini adalah proses migrasi dari taraf sebelumnya, bergerak progresif dalam peningkatan kemajuan, dengan meminimalkan dampak, meminimalkan proses trial and error, atau proses berkemajuan yang berwatak progresif, berkelanjutan, namun bersifat sistemik sekaligus transformasional dan kontekstual.

Kristalisasi perubahan stratejik tersebut pada akhirnya diharapkan dapat menjadi kultur stratejik (strategic culture) yang menjadi profil identitas budaya dan karakter Bangsa.

Hadirin yang saya hormati,

Berdasarkan berbagai teori tentang kepemimpinan stratejik di atas, menurut saya, satu hal yang melekat dalam jati diri kepemimpinan stratejik pada masa krisis adalah tanggung jawab. Tanggung jawab pemimpin dalam kehidupan bernegara tidak hanya diukur dari kemampuan menjalankan tujuan bernegara.

Akan tetapi, terhadap berbagai perubahan yang membawa disrupsi tersebut, saya meyakini, bahwa disrupsi bisa diatasi dengan kepemimpinan stratejik yang melekat dengan ideologi bangsa, yakni Pancasila. Pancasila menjadi dasar dan tujuan di dalam menghadapi turbulensi peradaban.

Untuk itulah, kepemimpinan stratejik dalam perspektif ideologi bangsa mengajarkan pentingnya filsafat, dasar haluan negara, dan sekaligus weltanschauung atau cara pandang bangsa Indonesia terhadap dunia.

Ketika disrupsi akibat perkembangan teknologi menjauhkan amal kemanusiaan, membelah rasa kebangsaan, menempatkan superioritas pada opini bukan fakta, dan menjauhkan nilai keadilan sosial, di situlah Pancasila menjadi landasan yang menyeimbangkan atau bahkan mengoreksi, agar teknologi tetap menempatkan supremasi nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal.

Terlebih ketika teknologi dicermati dalam perspektif Ketuhanan, maka teknologi tersebut harus mendorong persaudaraan seluruh umat manusia yang bertanggung jawab sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

Teknologi dengan nilai Ketuhanan ini, menjadikan bumi seisinya untuk dijaga kelestariannya, keharmonisannya, dan menjadi rumah bagi seluruh makhluk hidup agar selalu berada dalam kesimbangan ekosistem kehidupan seluruh alam semesta.

Hadirin dan saudara-saudari sekalian,

Terhadap berbagai perkembangan teknologi yang bersifat revolusioner di atas, maka keputusan Presiden Jokowi untuk mengintegrasikan seluruh lembaga pengembangan dan riset ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan menempatkan ideologi Pancasila sebagai tonggak eksistensi seluruh strategic policy dari BRIN sangatlah tepat. 

Dengan keberadaan BRIN maka reseach based policy harus dikedepankan. Dengan guidelines Pancasila, BRIN diharapkan mempercepat jalan berdiri di atas kaki sendiri (berdikari) di bidang ekonomi. Tanpa berdikari, sulit bagi negara besar seperti Indonesia untuk berdaulat di bidang politik.

Terhadap hal ini, saya ingin mengutip apa yang disampaikan oleh Bung Karno di dalam pidato singkat sebelum membacakan Teks Proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945:

“Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib tanah air di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib bangsa dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya”.

Spirit percaya pada kekuatan sendiri inilah yang harus menjadi spirit bangsa. Inilah peran dan tugas kepemimpinan stratejik, menggelorakan semangat bagaikan api nan tak kunjung padam.

Inilah tugas kepemimpinan stratejik pada masa krisis: menggelorakan dedication of life tanpa pernah mengenal akhir bagi bangsa dan negaranya. Inilah spirit menjadi patriot bangsa yang selalu dikobarkan di Kampus Pertahanan dan Bela Negara ini.

Saudara-saudara sekalian,

Kedaulatan di bidang politik dan ekonomi bangsa, setidaknya mencakup kedaulatan pangan, energi, keuangan, pertahanan, dan hal-hal yang berkaitan dengan pemanfaatan tata ruang geografis bagi kepentingan nasional Indonesia.

Dengan adanya BRIN, seluruh kerja strategis riset dan inovasi ditujukan pada empat hal pokok: manusianya, flora dan faunanya, serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tepat bagi kemajuan bangsa.

Kalau skala prioritas riset dan inovasi diperas lagi, maka menghadirkan amal pengetahuan dan teknologi bagi perbaikan peri kehidupan rakyat sehari-hari sebagai prioritas utama.

Hadirin dan saudara-saudari sekalian,

Dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 270 juta, dan dengan bonus demografi yang kita miliki, sumber kekayaan hayati, sumber daya alam dan terutama potensi laut yang begitu luas untuk dikembangkan, sangat memerlukan kepemimpinan stratejik yang memuat aspek ideologis, kepemimpinan teknokratik, dan kepemimpinan berkarakter yang membangun legitimasi bagi konsolidasi seluruh kekuatan nasional bagi kemajuan suatu bangsa.

Kepemimpinan teknokratis memerlukan kepemimpinan intelektual, guna memahami arah masa depan bangsa dan dunia. Darinya, kepemimpinan tersebut akan memberikan arah terhadap setiap keputusan yang diambil, yang di satu sisi menyelesaikan berbagai persoalan rakyat, dan disisi lain sebagai investasi bagi masa depan.

Kepemimpinan stratejik juga tidak bisa berdiri atas dasar pencitraan. Kepemimpinan ini merupakan kepemimpinan yang membangun organisasi jauh lebih penting daripada popularitas diri (Jim Collins, 2001).

Sebaliknya, kepemimpinan stratejik memerlukan kerja turun ke bawah, dan langsung bersentuhan dengan rakyat bawah atau wong cilik.

Sebab ukuran kemajuan suatu bangsa, parameter ideologis justru diambil dari kemampuan negara di dalam mengangkat nasib rakyat yang paling miskin dan terpinggirkan. Itulah tanggung jawab etik dan moral terbesar seorang pemimpin: menghadirkan terciptanya keadilan sosial.

Atas dasar hal tersebut, kepemimpinan stratejik melekat dan tidak bisa dipisahkan dengan pemahaman terhadap ideologi Pancasila. Sehebat-hebatnya disrupsi dan krisis yang terjadi, selama bangsa Indonesia punya pegangan Pancasila, sejarah telah membuktikan bahwa kita bisa melewati berbagai ujian sejarah tersebut.

Kepemimpinan stratejik menempatkan penguasaan negara Indonesia atas bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, untuk dipergunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.

Melalui pembahasan kepemimpinan stratejik ini, saya mengajak seluruh elemen bangsa, khususnya para pemimpin di jajaran pemerintahan negara, baik pusat maupun daerah, Pimpinan Partai Politik, TNI, POLRI dan seluruh aparatur sipil negara, untuk mengambil hikmah terbesar tentang makna kepemimpinan stratejik yang berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Marilah kritik dan otokritik kita lakukan agar hakekat kepemimpinan stratejik bagi bangsa dan negara dipahami esensi dan implementasinya. Kesemuanya demi tanggung jawab bagi masa depan anak cucu kita.

Di sinilah keberhasilan kepemimpinan stratejik harus mampu menghadirkan keberhasilan yang linear di masa lalu, masa kini, dan keberhasilan di masa yang akan datang.

 Hadirin yang saya hormati,

Akhirnya, dalam kesempatan yang sangat berharga ini, saya menyampaikan ucapan terima kasih atas kehadiran:

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi RI, Bapak Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.B.A.,

Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Bapak Letnan Jendral TNI (Purn) Prabowo Subianto Djojohadikusumo

Dan seluruh jajaran Menteri Kabinet Indonesia Maju, baik yang hadir secara langsung maupun secara virtual dalam acara ini.

Saya juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada seluruh pihak yang secara khusus telah banyak membantu dalam proses pengajuan Guru Besar hingga pelaksanaan pengukuhan hari ini.

Terima kasih saya kepada:

1.         Kemenristekdikti dan jajarannya beserta Tim Reviewer Guru Besar

2.         Lembaga Layanan Dikti dan jajarannya, juga beserta Tim Reviewer Guru Besar

3.         Rektor Universitas Pertahanan Republik Indonesia, Laksdya TNI Prof. Amarulla Octavian

Kepada para Guru Besar Universitas Pertahanan

4.         Prof. Purnomo Yusgiantoro yang juga adalah Guru Besar Pendamping saya

5.         Prof. Salim Said

6.         Prof. Hasjim Djalal

7.         Prof. Marsetio

8.         Prof. Syamsul Ma’arif

9.         Prof. Mohamad Sidik Boedoyo

10.      Prof. Makarim Wibisono

11.      Prof. Banyu Perwita

Terima kasih tak terhingga juga kepada para Guru Besar Pendamping saya,

12.      Prof. Boediono

13.      Prof. Budi Gunawan

14.      Prof. Hendropriyono

15.      Prof. Yasonna Laoly

16.      Prof. Yudian Wahyudi

17.      Prof. Sudarsono Hardjosoekarto

18.      Prof. Dorojatun Kuntjoro Jakti

19.      Prof. Bungaran Saragih

20.      Prof. Rokhmin Dahuri

21.      Prof. Da’i Bachtiar

22.      Prof. Bambang Wibawarta

23.      Prof. Ganefri

24.      Prof. Gumilar

25.      Prof. Chandra Wijaya

26.      Prof. Kosuke Mizuno

27.      Prof. Koh Young Hun

28.      Prof. Xu Liping

29.      Prof. Remy Madinier

Dan para Guru Besar lainnya yang mohon maaf apabila saya belum sempat menyebutkannya, beserta seluruh Panitia Pengukuhan Guru Besar Universitas Pertahanan Republik Indonesia.

Semoga semua doa, bantuan, dan dukungan yang telah diberikan kepada saya mendapatkan balasan berlimpah dari Tuhan Yang Maha Esa.

Wassalamualaikum Warahmatulahi Wabarakatuh,

Om Santi Santi Santi Om

Rahayu.

Megawati Soekarnoputri

Presiden Kelima Republik Indonesia