JOMBANG – Presiden Joko Widodo memuji sosok pahlawan nasional KH Abdul Wahab Chasbullah sebagai sosok ulama yang cinta tanah air. Ulama yang selalu menggelorakan semangat kebangsaan.
“Kita mengenal beliau sebagai ulama besar. Sebagai penggerak dan inisiator berdirinya jamiyah NU (Nahdlatul Ulama). Kiai yang memiliki wawasan luas, berpandangan modern, dengan cita-cita besar dan mulia,” ujar Jokowi.
Ungkapan Presiden itu disampaikan saat memberikan sambutan secara virtual acara Haul Emas KH Abdul Wahab Chasbullah, Selasa (22/6/2021) malam. Sambutan Jokowi tidak berlangsung lama, hanya sekitar 5 menit, namun sarat makna.
Para hadirin di lokasi acara Haul Emas KH Abdul Wahab Chasbullah, Masjid Jamik PPBU (Pondok Pesantren Bahrul Ulum) Tambakberas menyimak melalui layar kaca.
“Beliau dikenal sebagai sosok ulama pejuang yang ajarkan cinta Tanah Air, ‘Hubbul wathan minal iman’, menggelorakan semangat kebangsaan, selalu berjuang untuk tegakkan NKRI,” lanjut Jokowi.
Menurut Jokowi, teladan akhlak Kiai Wahab akan terus abadi menjadi inspirasi bagi bangsa Indonesia. Utamanya dalam menghadapai kondisi seperti sekarang ini.

“Dengan doa para kiai, ulama dan habaib, serta ikhtiar masyarakat, kita akan mampu melewati ujian yang sulit ini dengan kemenangan,” katanya, memungkasi sambutan.
Selain Jokowi, tokoh yang hadir secara virtual adalah Ketua Umum PBNU KH Said Aqiel Siradj yang juga menyampaikan sambutan lewat layar kaca.
Sedangkan yang hadir secara langsung di Masjid Jamik Tambakberas, di antaranya Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dan Ketua PWNU Jatim KH Marzuki Mustamar.
Hadir juga KH Mustofa Aqiel Siradj, KH Masduki Abdurrahman Alhafidz, Gus Miftah, serta para pengasuh pondok pesantren di Jombang. Haul ke-50 tahun KH Abdul Wahab Hasbullah ini menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Undangan yang hadir dibatasi, kemudian mereka harus mencuci tangan pakai sabun, serta mengenakan masker.
Gus Miftah dalam kesempatan tersebut di antaranya mengajak warga NU untuk meneladani pendiri NU dan pejuang NKRI KH Abd Wahab Chasbullah.
“Untuk meneladani hikmah beliau yang luar biasa kepada NU, kita jangan meninggalkan tradisi lama yang masih baik di lingkungan NU, di antaranya madrasah diniyah (madin), ngaji Quran dengan turutan, ziarah kubur, tahlil, dan sebagainya, kita harus malu kepada beliau, karena kita bukan siapa-siapa dan tidak ada apa-apanya,” kata Pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji di Sleman, Yogyakarta ini. (goek)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










