Jumat
24 Juli 2026 | 2 : 17

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Halal Bihalal Jokowi di Kediaman Megawati, Dinamika Politik Pasca Pencapresan Ganjar Warnai Perbincangan

pdip-jatim-230427-msp-jkw-riyayan-1

Suasana yang indah itu juga dipengaruhi oleh momentum politik nasional yang terjadi pasca keputusan PDI Perjuangan menetapkan Ganjar Pranowo sebagai calon presiden.

JAKARTA – Suasana kekeluargaan dan persaudaraan mengiringi kehadiran Presiden RI Joko Widodo bersama dengan Ibu Negara Iriana Joko Widodo yang berkunjung ke kediaman Presiden ke-5 RI yang juga Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP) Prof.Dr. (HC) Megawati Soekarnoputri di Jalan Teuku Umar, Menteng Jakarta Pusat, Kamis (27/4/2023).

Kunjungan Jokowi dan Iriana tersebut untuk silaturahmi dan ber-halalbihal di tengah suasana Lebaran Idul Fitri 1444 Hijriyah.

Megawati sudah menunggu kehadiran Jokowi dan Iriana di bagian depan kediamannya. Di depan teras, Megawati didampingi Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto.

Mobil yang membawa presiden dan ibu negara masuk halaman, Jokowi turun dan langsung menyalami Megawati. Selanjutnya Ibu Negara Iriana berpelukan dan mencium pipi Megawati.

Baca juga: Sah, Megawati Tunjuk Ganjar Pranowo Capres 2024

Jokowi dan Iriana pun lanjut menyalami Hasto. Setelah itu, Megawati menyilakan Jokowi dan Iriana memasuki ruang tamu untuk berbincang

“Ibu Megawati menerima kehadiran Bapak Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana di tengah masih suasana Lebaran, ber-halalbihalal di kediaman Bu Mega pada hari ini,” jelas Hasto.

Menurutnya, halalbihalal merupakan tradisi selama Idul Fitri yang sangat khas Indonesia.

Dari sejarahnya, halal bihalal merupakan upaya yang digagas Proklamator dan Presiden Pertama RI Ir. Soekarno bersama dengan Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Wahab di tahun 1948. Halal bihalal merupakan upaya mempererat persatuan dan persaudaraan.

Semangat itupun sangat tampak dan terasa di dalam pertemuan antara Megawati dengan Jokowi-Iriana tersebut.

“Saling maaf memaafkan, saling bersilaturahim dan membangun semangat persaudaraan. Sebuah teladan baik bagi seluruh umat manusia pada umumnya dan rakyat Indonesia pada khususnya,” kata Hasto.

Tentu saja suasana yang indah itu juga dipengaruhi oleh momentum politik nasional yang terjadi pasca keputusan PDI Perjuangan menetapkan Ganjar Pranowo sebagai calon presiden.

Hasto menjelaskan, Megawati dan Jokowi tampak sangat akrab berbincang mengenai dinamika politik terkini pasca diumumkannya pencapresan Ganjar.

“Jadi meski suasana Lebaran, kedua pemimpin tersebut berada dalam suasana yang akrab, juga berbincang-bincang mengenai dinamika politik pasca penetapan capres Ganjar Pranowo. Semua nampak bergembira,” jelasnya.

Hasto menambahkan pertemuan berlangsung selama satu jam. Usai pertemuan, Megawati didampingi Hasto melepas Jokowi dan Iriana. (goek)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Pedagang Pasar Baru Magetan Cemas Tergusur Rencana Pembangunan Bioskop, DPRD Turun Tangan

MAGETAN – Kawasan Pasar Baru Magetan kembali menjadi sorotan. Belum usai persoalan penataan parkir, kini muncul ...
KABAR CABANG

PDIP Trenggalek Mulai Musran-Musanran, Perkuat Konsolidasi hingga Akar Rumput

DPC PDI Perjuangan Kabupaten Trenggalek memulai Musyawarah Ranting dan Musyawarah Anak Ranting dari Kecamatan ...
EKSEKUTIF

Eri Cahyadi Tertibkan Parkir Surabaya, 250 Lokasi Disegel dan Makam Keputih Terapkan Gate System

Pemkot Surabaya menertibkan pengelolaan parkir dengan menyegel 250 lokasi yang belum berizin serta menerapkan gate ...
LEGISLATIF

Hari Anak Nasional, Kanang Berbagi Motivasi kepada Wali Murid SDN Margomulyo 2 Ngawi

NGAWI – Peringatan Hari Anak Nasional 2026 menjadi momen istimewa bagi keluarga besar SDN Margomulyo 2 Ngawi. ...
LEGISLATIF

Dukung Sekolah Terintegrasi, Fraksi PDIP DPRD Kabupaten Malang Tolak Pengambilalihan Aset Daerah

Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Malang mendukung pembangunan Sekolah Nasional Terintegrasi dan Sekolah Rakyat, ...
RUANG MERAH

Menghitung Genarasi Emas dari Lambung

Oleh Martin Rachmanto ADA sebuah fragmen ingatan yang abadi dari dekade 1950-an, ketika halaman Istana Negara belum ...