Selasa
27 Oktober 2026 | 11 : 14

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Gus Ipin: Santri dan Ulama Punya Peran Strategis dalam Perjuangan Kemerdekaan

pdip-jatim-251023-hari-santri-nggalek-1

Gus Ipin mengajak para santri tetap teguh memegang prinsip dasar ilmu dan adab, terutama di tengah gempuran narasi yang menggugat otoritas ilmu pondok pesantren.

TRENGGALEK – Ketua DPC PDI Perjuangan Trenggalek, Mochamad Nur Arifin membeberkan peran strategis santri dan ulama dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Menurut Bupati Trenggalek tersebut, kontribusi besar tersebut tidak hanya muncul lewat perjuangan fisik, tapi juga melalui jalur diplomasi di masa pendudukan Jepang yang kemudian melahirkan kekuatan tempur rakyat seperti Barisan PETA dan Laskar Hizbullah.

Pria yang juga akrab disapa Gus Ipin ini menyatakan, peringatan Hari Santri 2025 harus menjadi momentum refleksi, terutama di tengah maraknya narasi yang mempertanyakan otoritas ilmu yang bersumber dari pondok pesantren.

Dia menjelaskan, salah satu peran historis ulama terlihat dalam organisasi Jawa Hokokai, yang didirikan oleh pemerintahan militer Jepang (Gunseikan) untuk memobilisasi massa bagi keperluan armada tempur.

“Menariknya, di dalam organisasi Jawa Hokokai itu terdapat Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari dan Ir. Sukarno sebagai penasihat utama,” ungkap Gus Ipin di sela-sela Peringatan Hari Santri yang digelar DPP PDI Perjuangan, Rabu (22/10/2025).

Menurutnya, diplomasi yang dilakukan oleh para tokoh tersebut menjadi cikal bakal terbentuknya tenaga rakyat dalam barisan perjuangan kemerdekaan, yang berkembang menjadi kekuatan revolusioner sekitar tahun 1945.

“Terdapat barisan PETA dan Laskar Hizbullah yang di dalamnya dikomandoi kiai-santri dan berperan besar dalam revolusi kemerdekaan,” tegasnya.

Bupati muda yang gemar bermain sepak bola ini juga mengajak para santri untuk tetap teguh memegang prinsip dasar ilmu dan adab, terutama di tengah gempuran narasi yang menggugat otoritas ilmu pondok pesantren.

Dia menekankan bahwa hakikat seorang santri adalah menjadi “murid” yang menyadari diri sebagai al-fakir (merasa serba kekurangan) dan bercita-cita menjadi seorang “salik” (penempuh jalan spiritual).

“Tidak ada ilmu tanpa adab dan memuliakan sumber ilmu, termasuk di dalamnya para guru dan kiai kita,” tutur Gus Ipin.

Dalam kesempatan itu, dia mengutip teladan Sayyidina Ali dalam memuliakan guru. Sosok sahabat Nabi Muhammad SAW tersebut bahkan menempatkan seorang guru pada posisi yang sangat tinggi, meskipun hanya mengajarkan satu huruf.

“Seorang Sayyidina Ali saja mengaku hamba sahaya bagi siapa pun yang mengajarinya walau satu huruf,” tandasnya. (aris/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

LEGISLATIF

Patemo Desak PU Pengairan Selesaikan Sengkarut Lahan Proyek Sungai Gonggo

BANYUWANGI – Warga Dusun Ringinagung, Desa Pesanggaran, menyatakan dukungan penuh terhadap pengerjaan proyek ...
LEGISLATIF

Dukung Target UHC, PDIP Ponorogo Desak Peningkatan Alokasi Jaminan Kesehatan di RAPBD 2027

PONOROGO – Fraksi PDI Perjuangan maPAN DPRD Ponorogo mendorong peningkatan alokasi Penerima Bantuan Iuran Daerah ...
LEGISLATIF

Diana Sasa: Integrasi Trans Jatim Harus Mudahkan Penumpang sampai Tujuan Akhir

Fraksi PDIP DPRD Jatim meminta Trans Jatim terintegrasi dengan feeder, angkutan lokal, terminal, dan stasiun agar ...
EKSEKUTIF

Rijanto Ajak Muslimat NU Jadi Penggerak Pembangunan dan Kesejahteraan Blitar

BLITAR – Bupati Blitar Rijanto mengajak lebih dari 3.000 anggota Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) memperkuat peran ...
KRONIK

Ina Ammania Ingatkan Guru Madrasah, AI Tak Bisa Gantikan Keteladanan

BONDOWOSO – Anggota Komisi VIII DPR RI, Ina Ammania, mengingatkan guru madrasah agar tidak menyerahkan proses ...
SEMENTARA ITU...

Ski Air Ngawi Bidik 10 Emas di Popda Jatim XV 2026, Total Target 20 Medali

NGAWI – Cabang olahraga (cabor) ski air Kabupaten Ngawi membidik 20 medali dalam Pekan Olahraga Pelajar Daerah ...