Gerakan Wong Nganjuk Peduli Covid-19 Hasilkan Rp 273 Juta dan Sambal Pecel 27 Plastik

 109 pembaca

NGANJUK – Gotong royong itu nyata, bukan sekadar jargon. Buktinya, sejak diluncurkan beberapa waktu lalu, gerakan patungan secara sukarela dari dan untuk orang Nganjuk dalam menghadapi pandemi Covid-19 menghasilkan uang senilai ratusan juta rupiah, berbagai bahan makanan, hingga sejumlah barang.

Berdasarkan pantauan dari situs web Dinas Komunikasi dan Informasi Pemkab Nganjuk pada Sabtu (7/8/2021) malam, data terkini hasil patungan sukarela (teplekan) tercatat pada Kamis (5/8/2021) pukul 17.00. Pda hari tersebut, terdapat bantuan masuk berupa uang tunai sebesar Rp 2,5 juta.

Sehingga jumlah total bantuan per 5 Agustus, seperti dirinci situs resmi Dinas Kominfo Nganjuk adalah  sebagai berikut. Yakni sembako sebanyak 1.674 paket, masker sebanyak 178 pak, beras 422 kantong, hand sanitizer 50 botol dan uang tunai Rp 273 juta.

Selain itu, berupa bahan makanan dan barang berupa telur sebanyak 30 butir, susu instan 28 kotak, masker 12 buah, vitamin C 9 botol dan madu kemasan sebanyak 26 pak. Kemudian, makanan bayi sebanyak 1 pak, sarden 51 kaleng, beras 5 kg, sambal pecel 27 plastik, bawang putih 96 ikat, dan bawang merah 96 ikat.

Dinas Kominfo menyatakan, paket sembako sebanyak 118 paket telah disalurkan di Kecamatan Tanjunganom. Kemudian 35 paket sembako disalurkan untuk pelaku seni atau pariwisata. Selain itu, akhir bulan Juli, bantuan berupa masker sebanyak 110 pak dan beras 62 pak diserahkan kepada Ketua Satgas Covid-19 Kabupaten Nganjuk untuk disalurkan kepada orang yang membutuhkannya.

Paguyuban Pedagang Bawang Merah, Senin (26/7/2021) berpartisipasi memberikan bantuan sembako dalam Gerakan Wong Nganjuk Peduli Covid-19.

Gerakan Wong Nganjuk Peduli Covid-19 diluncurkan Plt Bupati Marhaen Djumadi bersama jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Nganjuk, di pendopo kabupaten setempat, Jumat (23/7/2021). Plt Bupati Marhaen mengistilahkan gerakan tersebut sebagai teplekan (patungan) secara sukarela.

Saat itu, Plt Bupati Marhaen menyumbangkan gaji dan tunjangan selama satu bulan kepada panitia. Hal serupa, menyisihkan gaji satu bulan, diikuti oleh para pejabat Forkopimda.

“Paling tidak gaji sebulan. Ini jelas gaji pokok dan tunjangan, ini namanya teplekan (patungan),” kata Kang Marhaen yang juga Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur.

Sejak itu, gerakan terus menggelinding. Berbagai komponen masyarakat Nganjuk, bergotong royong menyisihkan sebagian harta atau bahan makanan untuk membantu warga terdampak pandemi melalui panitia gerakan ini. (hs)