oleh

Gerakan Santri Membaca dan Mimpi Rumah Baca

-Ruang Merah-94 kali dibaca

Oleh Imam Sofyan*

Tiga hari ini kita sedang mengalami perayaan secara berturut-turut. Tanggal 21 April kemarin Hari Kartini, 22 April merayakan Hari Bumi, dan 23 April merupakan Hari Buku Internasional. Istilah kerennya World Book Day.

Untuk memperingati World Book Day tulisan ini membahas tentang kisah komunitas baca yang lahir dari rahim pesantren, lalu tumbuh dan berkembang di Kota Santri Pancasila, Situbondo. Februari 2021 lalu, Gerakan Santri Membaca atau Gerakan Situbondo Membaca (GSM) sudah berumur tujuh tahun. Tidak mudah membangun literasi di tengah gegap-gempita dunia teknologi.

23 April 2021 sebagai perayaan World Book Day, penulis merasa penting untuk menggambarkan komunitas literasi GSM sebagai bahan evaluasi atau perbandingan bagi komunitas literasi lainnya. Di usianya yang tujuh tahun, ada banyak cerita yang terukir, terutama pola gerakan literasi di GSM. Setidaknya, ada dua model gerakan literasi yang dilakukan GSM selama ini. Pertama, model peningkatan kapasitas diri, seperti review buku. Model pertama ini dilaksanakan oleh santri atau aktivis Badan Eksekutif Mahasiswa salah satu perguruan tinggi di salah satu pondok pesantren di ujung timur Situbondo.

Kedua, model literasi yang melibatkan akademisi atau para ahli serta masyarakat. Model kedua ini cakupannya lebih meluas. Kegiatannya tidak lagi di pesantren, akan tetapi merambah Kota Situbondo. Sekalipun begitu, model kedua ini masih dalam ruang lingkup review buku. Misal, untuk  mengulas buku sepak terjang mantan Kapolri Hoegeng, polisi yang terkenal jujur, GSM mengundang pihak kepolisian sebagai pembanding; atau dalam membahas buku tokoh hukum seperti Baharudin Lopa, GSM mengundang ahli hukum sebagai pembanding. Secara otomatis mahasiswa hukum di kampus-kampus akan ikut nimbrung pada acara itu.

Gerakan Santri Membaca yang pada awalnya berangkat dari pesantren berganti nama menjadi Gerakan Situbondo Membaca. Itu karena orang-orang yang hadir di acara komunitas GSM tidak hanya santri.

Gerakan Santri Membaca

Pada awalnya, Gerakan Santri Membaca fokus pada review buku. Satu minggu satu buku. Buku yang diulas pun cukup beragam, termasuk buku yang dianggap ‘tabu’ di pesantren.  Seperti buku Seri Tokoh Bangsa Tempo: Tjokroaminoto, Sjahrir, Bung Hatta, dan Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat karya Cindy Adams. Kegiatan ini dilakukan secara bergantian oleh para santri di salah satu pondok pesantren ujung timur Situbondo.

Buku menjadi hiburan baru bagi para santri, selain kitab kuning, sekolah, mengaji, dan aktivtias rutin lainnya. Buku menjadi ‘hiburan’ alternatif bagi santri karena sesuai aturan pesantren. Sebab penggunaan gadget dilarang keras. Jangankan gadget, bahkan untuk mengoperasikan komputer sekalipun, mereka harus memiliki izin dari pihak pengurus pondok pesantren.

Ghirah membaca dan mengulas buku mulai tumbuh. Review buku dilakukan empat kali. Salah satu anggota meminta agar satu minggu sebelum kegiatan review berlangsung, harus ada pamflet yang dipampang di dinding informasi pesantren. Pertama, pamflet sebagai strategi untuk melibatkan banyak santri yang punya minat literasi. Kedua, bagi si pe-review dengan munculnya pamflet beserta foto dan namanya, diharapkan dapat memacu hasratnya untuk menyelesaikan buku yang hendak direview secepatnya mungkin. Waktu satu minggu yang diberikan akan digunakan untuk membaca, memahami, mencatat dan bila diperlukan juga menghafal sebaik-baiknya.

Beberapa santri awalnya tidak percaya diri, merasa takut untuk me-review buku. Dalih yang digunakan, melakukan aktivitas membaca, tidak masuk ke otaknya. Alasan demikian berkali-kali dibantah. Menurut teman-teman yang sudah melakukan review buku, proses membaca buku tidak serta merta langsung berjalan ke otaknya. Melainkan berjalan ke alam bawah sadar si pembaca. Dibutuhkan diskusi untuk menaikkan kembali kata perkata, atau kisah perkisah dari setiap buku dibacanya, hingga menjadi informasi pengetahuan yang utuh.

Dengan GSM, santri tidak hanya dekat dengan kitab kuning berbahasa Arab. Akan tetapi mereka juga punya pilihan lain, yaitu kitab putih berbahasa Indonesia. Tambah hari, hasrat membaca mereka, semakin menggila. Itu dibuktikan intensitas teman-teman Gerakan Santri Membaca dalam review buku. Jika sebelumnya mereka hanya mengulas satu minggu satu buku, berubah menjadi satu minggu dua buku. Temanya pun semakin beragam. Tidak hanya tokoh-tokoh bangsa, tapi sosial, politik dan ekonomi. Mereka pun berani menyisihkan uang bulanan dari kampung halaman untuk membeli buku. Siapa sangka, setelah dua tahun berjalan, lemari-lemari mereka dipenuhi dengan deratan buku-putih-kitab-kuning.

Gerakan Situbondo Membaca

Konsep review buku yang dilakukan di pesantren, saat dibawa ke Kota Situbondo sempat berjalan, tapi tidak bertahan lama sebagaimana di pesantren. Kesan eksklusif dan orang yang hadir itu-itu saja membuat GSM harus membuka diri pada khalayak luas. Pada tahap ini GSM berimprovisasi, melibatkan para ahli dan musisi lokal saat pelaksanaan diskusi buku. Wajah GSM yang sebelumnya terkesan eksklusif sudah tidak lagi. Kegiatan-kegiatan perbukuan yang dilakukan semakin meriah.

Sesekali GSM mengundang penulis untuk bercerita proses kreatif ketika menulis buku. Terkadang, penulis datang ke Situbondo, lalu GSM membuatkannya kegiatan diskusi literasi. Seperti tahun 2019 lalu, empat penulis sastra berkunjung ke Situbondo. Martin Aleida, Floribertus Rahardi, Sigit Susanto, dan Wayan Jengki Sunarta. Kedatangan empat penulis tersebut dikemas dengan kegiatan “Kayumas Bersastra.” Karena GSM adalah komunitas nirlaba, maka kegiatan itu dilakukan secara swadaya oleh para anggotanya. Tanpa harus membuat proposal.

Kini, komunitas literasi telah tumbuh subur di Situbondo. Selain GSM, muncul komunitas literasi lain: Komunitas Penulis Muda Situbondo, takanta.id, cakanca.id, serta Ilimeses. Dan di Hari Buku Internasional, ada satu mimpi yang hendak kami raih, yaitu memiliki rumah baca sebagai wadah berkumpul, berdiskusi dan menulis bersama.  Selamat Hari Buku Internasional 23 April 2021.

*Pegiat Literasi di Komunitas Gerakan Situbondo Membaca

Komentar