Pelantikan jajaran PAC PDIP Kota Batu diwarnai hadirnya kader Gen Z dan perempuan muda sebagai simbol energi baru politik kerakyatan.
BATU — Ruang ballroom Zam-Zam Hotel & Convention, Kota Batu, siang itu dipenuhi wajah-wajah kader yang berdiri tegak saat sumpah jabatan dibacakan.
Di tengah deretan pengurus baru Pengurus Anak Cabang (PAC) PDI Perjuangan se-Kota Batu, muncul satu pemandangan yang diam-diam memberi pesan penting tentang arah baru politik lokal: anak muda mulai naik panggung.
Bukan sekadar hadir sebagai pelengkap acara, mereka kini duduk di kursi strategis organisasi partai.
DPC PDI Perjuangan Kota Batu resmi melantik 33 jajaran PAC baru yang diwarnai hadirnya kader-kader generasi Z dan keterwakilan perempuan.
Di antara nama-nama yang dilantik, dua sosok muda paling mencuri perhatian adalah Abdul Malik Gufron Zakaria (25) dan Damayanti Marsanda (22).
Dua nama itu seperti menjadi simbol bahwa politik perlahan mulai menemukan bahasa baru bagi generasi muda.
Malik, yang kini dipercaya menjadi Sekretaris PAC PDIP Kecamatan Bumiaji, mengaku tak pernah membayangkan di usia 25 tahun dirinya sudah diberi tanggung jawab besar di struktur partai.
Namun bagi pria yang sebelumnya aktif di organisasi sayap partai Repdem Kota Batu itu, jabatan bukan perkara posisi, melainkan ruang pengabdian.
“Bagi saya, ini bukan hanya sebuah jabatan, tetapi amanah perjuangan untuk terus bergerak bersama rakyat dan membesarkan partai di tengah masyarakat,” ujar Malik.

Di balik wajah muda dan gaya bicara santainya, Malik menyimpan kegelisahan yang sama dengan banyak anak muda lain: politik terlalu sering dipersepsikan sebagai perebutan kekuasaan.
Karena itu, ia ingin membawa pendekatan berbeda. Baginya, politik seharusnya menjadi alat perjuangan untuk menghadirkan kesejahteraan rakyat, bukan sekadar panggung perebutan jabatan.
Ia bahkan mulai menyiapkan forum rutin tiga bulanan yang mempertemukan karang taruna dan organisasi kepemudaan di Kota Batu untuk berdialog soal kebangsaan dan masa depan politik anak muda.
“Anak-anak muda harus mulai melihat politik dari sisi pengabdian. Makanya nanti kami ingin menghadirkan anggota DPRD kota, provinsi, sampai DPR RI agar mereka bisa melihat langsung kerja politik yang nyata,” katanya.
Meski menjadi salah satu kader termuda, Malik mengaku tetap memegang tradisi lama partai:
sowan kepada senior dan belajar dari pengalaman kader-kader terdahulu.
“Anak muda perlu energi baru, tapi juga tetap harus punya akar dan menghormati perjuangan senior,” imbuh pengagum ajaran Bung Karno tersebut.
Semangat serupa juga tampak dari sosok Damayanti Marsanda. Di usia 22 tahun, perempuan yang akrab disapa Dama itu kini dipercaya menjadi Bendahara PAC PDIP Kecamatan Junrejo.
Bagi Dama, kepercayaan partai kepada kader perempuan muda bukan hanya soal regenerasi, tetapi bentuk keyakinan bahwa perempuan juga mampu berdiri di garis depan organisasi.
“Ini menjadi motivasi besar bagi saya untuk membuktikan bahwa anak muda dan perempuan juga mampu berperan aktif, bertanggung jawab, dan membawa energi baru dalam organisasi,” tuturnya.

Berbeda dengan gaya politik yang kerap formal dan berjarak, Dama ingin menghadirkan pendekatan yang lebih hangat dan dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Ia membayangkan partai hadir bukan hanya ketika musim pemilu datang, tetapi benar-benar hidup di tengah warga melalui kegiatan sosial dan pemberdayaan.
Mulai dari pelatihan UMKM perempuan, edukasi kesehatan keluarga, hingga ruang diskusi santai anak muda.
“Saya melihat pendekatan kepada masyarakat, khususnya perempuan dan anak muda, harus lebih dekat,” ujarnya.
Dama sadar, tidak sedikit anak muda yang masih memandang politik sebagai sesuatu yang kotor dan melelahkan.
Karena itu, ia ingin menghadirkan cara komunikasi baru yang lebih santun, kreatif, dan relevan dengan dunia digital yang akrab dengan generasi muda hari ini.
“Kami ingin memberi contoh bahwa anak muda bisa berpolitik dengan cara yang santun, peduli, dan membawa manfaat nyata,” katanya.
Di tengah tantangan politik yang semakin pragmatis, kemunculan kader-kader muda seperti Malik dan Dama menjadi napas baru bagi PDIP Kota Batu.
Mereka membawa cara pandang yang lebih cair, lebih membumi, sekaligus mencoba mendekatkan kembali politik dengan kehidupan sehari-hari rakyat kecil.
Bukan lagi sekadar soal perebutan kursi, tetapi tentang bagaimana partai hadir sebagai ruang belajar, ruang bertumbuh, dan ruang pengabdian bagi generasi muda. (ull/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










