BATU – Biasanya doorprize festival berupa sepeda, peralatan elektronik, atau voucher belanja. Namun Festival Nyusu Bareng 2026 di Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kota Batu, menawarkan hadiah yang jauh lebih dekat dengan kehidupan warga: seekor anakan sapi perah.
Hadiah itu bukan sekadar kejutan bagi pengunjung. Di tengah tradisi peternakan sapi perah yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Brau, seekor anakan sapi menjadi simbol harapan terhadap keberlanjutan generasi peternak sekaligus masa depan sentra susu di kawasan tersebut.
Festival Nyusu Bareng bertajuk “Susumu Semangatku” digelar Forum Desa Wisata (Fordewi) Kota Batu bersama koperasi dan PT Askrindo, Minggu (4/10/2026).
Sebanyak 1.500 cup susu dibagikan gratis kepada pengunjung. Kegiatan tersebut juga melibatkan sekitar 1.500 siswa TK/PAUD beserta guru, sekaligus memperkenalkan dunia peternakan sapi perah kepada generasi muda.
Di balik semarak festival itu, ada cerita panjang tentang bagaimana Dusun Brau tumbuh menjadi salah satu kawasan peternakan sapi perah sekaligus ruang belajar bagi masyarakat.
Salah satu sosok yang ikut menggerakkan perubahan tersebut adalah Muhammad Munir, kader PDI Perjuangan yang juga Ketua Koperasi Margo Makmur Mandiri Dusun Brau.
Bagi Munir, perkembangan peternakan di Brau bukan sekadar soal bertambahnya jumlah sapi atau meningkatnya produksi susu. Lebih dari itu, peternakan menjadi bagian dari denyut ekonomi warga yang terus dikembangkan melalui koperasi.
Angkanya menunjukkan perubahan yang cukup besar.
Sekitar tahun 2010, produksi susu di Dusun Brau masih berada di kisaran 1.500 liter per hari. Kini produksinya telah menembus sekitar 10.000 liter per hari.
“Selain susu segar, kami juga memproduksi susu pasteurisasi hingga keju mozzarella. Peningkatan serapan ini berdampak langsung pada stabilnya harga susu di tingkat peternak yang kini bertahan di kisaran Rp8.200 hingga Rp8.300 per liter,” jelas Munir.
Bertambahnya produksi diikuti dengan meningkatnya nilai ekonomi sapi perah. Sapi dengan kualitas super kini dapat dihargai lebih dari Rp40 juta per ekor.

Karena itu, ketika seekor anakan sapi dijadikan hadiah utama dalam Festival Nyusu Bareng, Munir melihatnya bukan sekadar doorprize.
“Makanya ada hadiah anakan sapi sebagai simbol dorongan semangat bagi pengembangan bibit peternakan sapi perah di masa depan,” ungkapnya.
***
Brau tidak berhenti pada aktivitas produksi susu.
Kawasan tersebut perlahan berkembang menjadi destinasi wisata edukasi peternakan. Pelajar hingga mahasiswa datang untuk belajar dan mengikuti studi banding maupun praktik kerja lapangan.
Konsep yang ditawarkan pun tidak sebatas melihat sapi dari balik pagar kandang.
Melalui program live-in, pengunjung dapat tinggal di rumah-rumah warga. Mereka diajak merasakan langsung keseharian masyarakat peternak, mulai dari merawat sapi, proses pemerahan susu, hingga mengenal pengolahan produk susu di koperasi.
Dari sini, peternakan menjadi lebih dari sekadar mata pencaharian. Ia berubah menjadi pengalaman belajar yang mempertemukan wisata, pendidikan dan ekonomi warga.
Bagi Munir, pengembangan tersebut penting agar potensi lokal tidak berhenti pada produksi bahan mentah. Susu segar harus memiliki nilai tambah dan memberi manfaat lebih besar bagi peternak.
Pengolahan susu menjadi produk seperti susu pasteurisasi dan keju mozzarella menjadi salah satu cara memperluas serapan sekaligus memperkuat posisi peternak dalam rantai ekonomi.
***

Di balik pertumbuhan tersebut, koperasi menjadi salah satu simpul penting.
Sebagai Ketua Koperasi Margo Makmur Mandiri, Munir berupaya mengonsolidasikan potensi warga agar peternakan tidak berjalan sendiri-sendiri.
Tantangannya pun tidak ringan. Salah satunya menjaga ketersediaan pakan, terutama ketika musim kemarau datang.
Stabilitas produksi sangat bergantung pada keberadaan pakan. Karena itu, pengelolaan pakan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan usaha peternak.
Di titik inilah koperasi memiliki peran. Bukan hanya sebagai lembaga yang menampung hasil produksi susu, tetapi juga sebagai ruang bersama untuk menjaga keberlanjutan usaha peternak.
Bagi Munir, penguatan ekonomi warga berangkat dari potensi yang sudah dimiliki masyarakat sendiri.
Peternakan sapi perah menjadi kekuatan ekonomi Dusun Brau. Koperasi menjadi pengikatnya. Sementara wisata edukasi membuka pintu agar masyarakat dari luar ikut mengenal sekaligus belajar dari kehidupan peternak.
Festival Nyusu Bareng akhirnya menjadi semacam cermin dari perjalanan tersebut.
Ada 1.500 cup susu yang dibagikan kepada anak-anak. Ada wisatawan dan pelajar yang datang belajar. Dan ada seekor anakan sapi yang dibawa pulang sebagai hadiah.
Namun di balik semua itu tersimpan pesan yang lebih besar: susu bukan hanya minuman, sapi bukan sekadar ternak, dan koperasi bukan sekadar tempat mengelola produksi. Semuanya menjadi bagian dari upaya menjaga agar ekonomi warga tetap tumbuh dari kekuatan mereka sendiri.
Dari kandang-kandang sapi di Dusun Brau, cerita tentang ekonomi kerakyatan itu terus berjalan—dari satu generasi ke generasi berikutnya. (ull/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS












