Tiga bocah di Kandat Kediri diasuh kakek neneknya setelah ibunya meninggal. Mas Dhito datang membawa bantuan dan harapan baru.
KEDIRI — Kamis siang itu, rumah kecil di Jalan Kembang Kuning, Dusun Kandat, tampak lengang seperti biasa. Hanya suara bocah kecil dan sesekali bunyi mesin penggiling bumbu yang terdengar pelan dari depan rumah.
Di rumah sederhana itulah, tiga bocah bersaudara tumbuh setelah ibunya meninggal sebulan lalu.
Yang sulung, Arvino, baru berusia 7 tahun dan duduk di kelas 1 SD. Sementara dua adiknya yang kembar, Arcelio dan Arsenio, bahkan belum genap tiga tahun.
Mereka kini diasuh kakek neneknya.
Dan seperti banyak kisah keluarga kecil di kampung-kampung, kehidupan mereka berjalan dengan cara yang sangat sederhana: bertahan semampunya.
Di teras rumah, Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana atau yang akrab disapa Mas Dhito duduk mendengarkan cerita sang nenek, Sholikah.
Perempuan 50 tahun itu berkali-kali menahan air mata saat bercerita tentang anak perempuannya yang meninggal karena sakit pada April lalu.
Yang lebih berat, ayah ketiga anak itu disebut pergi tanpa kejelasan.
“Ke sini datang pas istrinya tidak ada, tapi tidak ngomong sama sekali anaknya bagaimana,” ucap Sholikah lirih.
Kalimat itu terdengar pendek.
Tapi di baliknya, ada rasa bingung yang mungkin dipendam seorang nenek yang tiba-tiba harus kembali mengurus tiga anak kecil di usia yang tak lagi muda.

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Sholikah membuka usaha kecil penggilingan bumbu, kopi, dan kelapa.
Kadang ramai.
Kadang sepi.
Kalau sedang banyak pelanggan, penghasilannya sekitar Rp20 ribu sehari.
Jumlah yang bahkan mungkin habis dalam sekali membeli susu formula dan pampers untuk cucu kembarnya.
Sesekali, ada tambahan rezeki dari pesanan madumongso atau sambal pecel yang dibuat bersama suaminya, Putut Sri Harmisworo.
Tak besar.
Tapi cukup untuk membuat dapur tetap mengepul.
“Pokoknya ada saja rezeki, nggak tahu dari mana. Insya Allah saya bisa buat beli susu, pampers,” katanya.
Di banyak rumah sederhana, kalimat seperti itu sering terdengar.
Bukan karena hidup benar-benar ringan.
Tapi karena orang kecil kadang memang terbiasa bertahan tanpa banyak pilihan.

Saat berbincang di dalam rumah, Sholikah tak lagi kuat menahan tangis.
Matanya berkaca-kaca melihat tiga cucunya yang masih terlalu kecil untuk memahami kenapa ibunya tak lagi pulang.
Mas Dhito yang duduk di sampingnya mencoba menguatkan.
“Apa yang ibu jalani pasti tidak mudah. Ibu Solikah harus kuat,” kata bupati muda yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Kediri itu, pelan.
Di sudut rumah, beberapa bagian atap tampak masih berlubang. Saat hujan turun disertai angin, air disebut masuk ke dalam rumah.
Bagi keluarga itu, rumah bukan soal nyaman atau tidak nyaman lagi. Yang penting masih bisa dipakai berteduh.
Dari kunjungan itu, Mas Dhito memastikan pemerintah daerah akan membantu kebutuhan keluarga tersebut.
Mulai dari perbaikan rumah, bantuan usaha, hingga pendampingan pengelolaan keuangan agar usaha kecil Sholikah bisa lebih berkembang.
Untuk Arvino, si sulung, pemerintah juga menyiapkan kemungkinan sekolah di Sekolah Rakyat agar pendidikan anak itu tetap terjaga.
Mungkin bantuan itu tak bisa langsung menghapus kehilangan tiga bocah kecil tersebut.
Tapi setidaknya, di rumah kecil yang atapnya masih bocor itu, ada yang datang membawa sedikit harapan.
Karena kadang, bagi keluarga kecil yang sedang jatuh, hal paling menenangkan bukan hanya bantuan.
Melainkan perasaan bahwa mereka belum sepenuhnya sendirian. (putera/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










