TRENGGALEK – SMAN 1 Munjungan mendadak riuh, Kamis (12/2/2026). Aula sekolah yang biasanya menjadi ruang kegiatan rutin, siang itu dipenuhi sorak antusias siswa. Mereka menyambut kedatangan Novita Hardini, Anggota DPR RI yang datang membawa satu pesan sederhana namun penting: masa depan tidak datang dengan sendirinya, ia harus dipersiapkan.
Di hadapan para siswa, politisi muda dari PDI Perjuangan itu tidak berbicara dengan bahasa yang kaku. Ia memilih berdialog, menyelipkan kisah pengalaman masa mudanya, sekaligus memantik imajinasi generasi Z tentang peluang yang terbuka di era digital.
Menurut Novita, pendidikan hari ini tak boleh hanya menyiapkan lulusan untuk menjadi pegawai formal. Dunia sudah berubah. Industri kreatif tumbuh pesat dan membuka ruang luas bagi anak muda yang berani mencoba.
“Dunia kerja tidak hanya formal. Industri kreatif seperti gaming, perfilman, animasi, hingga digital marketing memiliki potensi besar dan bisa dimasuki anak-anak muda hari ini,” ujar Novita, dikutip Jumat (13/2/2026).
Ia memberi contoh industri perfilman. Banyak orang hanya melihat aktor dan aktris di layar.

Padahal, di balik satu film ada penulis skenario, editor, animator, penata suara, hingga tenaga kreatif di bidang bahasa dan sastra. Semua membuka peluang kerja baru yang mungkin belum terpikirkan siswa.
Karena itu, Novita mendorong sekolah menghadirkan lebih banyak ruang pengembangan diri. Ekstrakurikuler seperti teater, koding, hingga pelatihan kreatif digital dinilai penting agar siswa tak hanya unggul secara akademik, tetapi juga adaptif terhadap kebutuhan zaman.
“Anak-anak harus diberi ruang untuk mengasah keterampilan, bukan hanya belajar di bangku kelas,” tambahnya.
Namun bagi Novita, tantangan terbesar generasi muda bukan sekadar minimnya peluang, melainkan rasa malas dan takut mencoba. Ia mengajak para siswa berani mengambil langkah sejak dini.
“Saya pernah muda. Semakin cepat kita mencoba dan bekerja, semakin banyak pengalaman dan keterampilan yang kita miliki. Itu yang akan membentuk masa depan kita,” pesannya.

Dialog siang itu terasa lebih dari sekadar kunjungan formal. Bagi sebagian siswa, pertemuan tersebut menjadi titik balik cara pandang.
Rea Destasari, siswa kelas X, mengaku mendapat perspektif baru tentang potensi ekonomi dari platform digital. Ia menyadari bahwa media sosial bukan sekadar ruang hiburan, tetapi juga bisa menjadi alat produktif.
“Kegiatan ini mengubah cara pandang kami tentang bagaimana Gen Z bisa berdaya dan melawan rasa malas,” ujarnya.
Di kota pesisir selatan seperti Munjungan, pesan itu terasa relevan. Bahwa jarak geografis tak lagi menjadi batas. Selama ada kemauan belajar dan keberanian mencoba, peluang bisa datang dari mana saja.
Di hadapan generasi yang lahir bersama gawai di tangan, Novita Hardini mengingatkan satu hal: generasi muda bukan hanya penerus, melainkan penggerak. Asal mereka mau melangkah. (aris/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










