oleh

Cegah Klaster Keluarga, Agatha Bagikan Kisah Isoman Para Penyintas Covid-19

-Inspirasi-63 kali dibaca

SURABAYA – Melihat tingginya kasus positif Covid-19 di Indonesia, anggota Komisi B DPRD Jawa Timur, Agatha Retnosari mengajak semua pihak untuk memutus rantai penularan khususnya di kluster keluarga. Caranya, dengan penggunaan masker ganda, rajin cuci tangan, menjaga jarak sebisa mungkin, konsumsi vitamin dan makanan bergizi.

“Selain itu juga disertai hati ikhlas dan sukacita saat merawat anggota keluarga yang terpapar untuk meningkatkan imunitas diri, ” ujarnya, Jumat (16/7/2021).

Terkait hal tersebut, Agatha turut membagikan tiga pengalaman rekan SMP-nya saat merawat anggota keluarganya yang isolasi mandiri (isoman) di rumah serta satu pengalaman sebuah keluarga dalam mencegah penularan akibat masih ada anggota keluarga yang tidak bisa bekerja dari rumah karena bekerja di sektor essensial.

Pengalaman pertama dari Ibu Watik yang sempat kebingungan saat kakak keduanya yang memiliki sesak nafas dinyatakan positif Covid-19 dan kondisi rumah sakit sedang penuh. Lantaran sang kakak belum berkeluarga, ia bersama anak-anaknya berbagi tugas untuk merawat kakak yang terpaksa harus isolasi mandiri di rumahnya.

“Anak-anak saya beri tahu untuk menggunakan masker dobel saat mendekati pakde-nya dan bagi tugas untuk merawat. Ada yang menyuapi dan membantu minum obat, ada yang ke sana kemari beli oksigen. Alhamdulillah keluarga saya dalam keadaan sehat dan kakak mendapat tempat di RSI. Setelah delapan hari dirawat akhirnya sudah boleh pulang karena sudah negatif dan sembuh,” terang Ibu Watik kepada Agatha.

Pengalaman ke dua dari Pak Kodir yang terpapar COVID-19 dari ayahnya karena terburu-buru saat mengantarkan makanan ke kamar ayah namun dalam kondisi dirinya dan sang ayah sama-sama tak mengenakan masker.

Kemudian pengalaman ke tiga dari Pak Firman yang mempunyai istri yang berprofesi sebagai tenaga kesehatan di salah satu rumah sakit yang melayani pasien Covid. Pak Firman mengatakan bahwa saat berada di rumah, semua anggota keluarga mengenakan masker untuk mencegah penularan saat berada di ruang publik rumah, terlebih di rumah ada anak-anak usia sekolah (dibawah 17 tahun) dan orang tua mereka (diatas 60 tahun). “Sampai saat ini kondisi mereka semua sehat walafiat,” katanya.

Belajar dari tiga pengalaman berbeda tersebut, lanjut Agatha, bisa disimpulkan bahwa paling aman entah Covid atau flu biasa, prinsipnya jika ada yang sakit, lebih baik semua anggota kelurga pakai masker baik yang sakit maupun tidak. Apalagi di tengah kondisi lonjakan kasus yang tinggi.

“Pengalaman Pak Firman yang di rumah mengenakan masker sangat masuk akal. Karena bisa jadi beliau dan istri adalah orang tanpa gejala (OTG). Jadi bagi anggota keluarga yang masih sering keluar rumah karena memang harus bekerja, lebih baik mengenakan masker jika berada di satu ruangan dengan anggota keluarga lainnya seperti di ruang kelurga atau dapur, intinya jika harus  dalam satu ruangan bersama. Hal ini dilakukan demi mencegah  penularan yang sedang tinggi-tingginya,” tandas politisi PDI Perjuangan ini.

“Disamping tentu saja tetap mejalanakan protokol kesehatan ketat lainnya seperti rajin mencuci tangan, menjaga asupan makanan, dan tak kalah penting, rajin membersihkan lingkungan rumah termasuk mengepel lantai dengan obat pel, membuka jendela rumah agar sirkulasi udara berganti, dan sinar matahari bisa masuk ke dalam rumah. Sehingga higienitas rumah tetap terjaga,” lanjutnya.

Maka dari itu, ia mengajak masyarakat untuk meningkatkan higienitas diri dan lingkungan rumah masing-masing untuk memutus rantai penularan covid.

“Karena semakin cepat kita keluar dari krisis covid, semakin cepat kita bisa memperbaiki ekonomi kita kembali. Karena tanpa ada penurunan kasus covid, mustahil ekonomi bisa berjalan dengan baik. Terlebih saat ini kluster keluarga menjadi kluster penularan yang signifikan dan lebih sulit diputus karena dalam budaya Indonesia tidak mungkin ada anggota keluarga yang sakit kemudian anggota keluarga yang lain diam saja. Kita tidak perlu mengubah budaya kita ini, namun hanya perlu mengubah tata laksananya saja demi memutus mata rantai penularan. Terutama jika ada yang OTG,” katanya. (Dhani/hs)

Komentar