Senin
14 September 2026 | 1 : 35

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Cegah Klaster Keluarga, Agatha Bagikan Kisah Isoman Para Penyintas Covid-19

pdip-jatim-agatha-reses-090521-1

SURABAYA – Melihat tingginya kasus positif Covid-19 di Indonesia, anggota Komisi B DPRD Jawa Timur, Agatha Retnosari mengajak semua pihak untuk memutus rantai penularan khususnya di kluster keluarga. Caranya, dengan penggunaan masker ganda, rajin cuci tangan, menjaga jarak sebisa mungkin, konsumsi vitamin dan makanan bergizi.

“Selain itu juga disertai hati ikhlas dan sukacita saat merawat anggota keluarga yang terpapar untuk meningkatkan imunitas diri, ” ujarnya, Jumat (16/7/2021).

Terkait hal tersebut, Agatha turut membagikan tiga pengalaman rekan SMP-nya saat merawat anggota keluarganya yang isolasi mandiri (isoman) di rumah serta satu pengalaman sebuah keluarga dalam mencegah penularan akibat masih ada anggota keluarga yang tidak bisa bekerja dari rumah karena bekerja di sektor essensial.

Pengalaman pertama dari Ibu Watik yang sempat kebingungan saat kakak keduanya yang memiliki sesak nafas dinyatakan positif Covid-19 dan kondisi rumah sakit sedang penuh. Lantaran sang kakak belum berkeluarga, ia bersama anak-anaknya berbagi tugas untuk merawat kakak yang terpaksa harus isolasi mandiri di rumahnya.

“Anak-anak saya beri tahu untuk menggunakan masker dobel saat mendekati pakde-nya dan bagi tugas untuk merawat. Ada yang menyuapi dan membantu minum obat, ada yang ke sana kemari beli oksigen. Alhamdulillah keluarga saya dalam keadaan sehat dan kakak mendapat tempat di RSI. Setelah delapan hari dirawat akhirnya sudah boleh pulang karena sudah negatif dan sembuh,” terang Ibu Watik kepada Agatha.

Pengalaman ke dua dari Pak Kodir yang terpapar COVID-19 dari ayahnya karena terburu-buru saat mengantarkan makanan ke kamar ayah namun dalam kondisi dirinya dan sang ayah sama-sama tak mengenakan masker.

Kemudian pengalaman ke tiga dari Pak Firman yang mempunyai istri yang berprofesi sebagai tenaga kesehatan di salah satu rumah sakit yang melayani pasien Covid. Pak Firman mengatakan bahwa saat berada di rumah, semua anggota keluarga mengenakan masker untuk mencegah penularan saat berada di ruang publik rumah, terlebih di rumah ada anak-anak usia sekolah (dibawah 17 tahun) dan orang tua mereka (diatas 60 tahun). “Sampai saat ini kondisi mereka semua sehat walafiat,” katanya.

Belajar dari tiga pengalaman berbeda tersebut, lanjut Agatha, bisa disimpulkan bahwa paling aman entah Covid atau flu biasa, prinsipnya jika ada yang sakit, lebih baik semua anggota kelurga pakai masker baik yang sakit maupun tidak. Apalagi di tengah kondisi lonjakan kasus yang tinggi.

“Pengalaman Pak Firman yang di rumah mengenakan masker sangat masuk akal. Karena bisa jadi beliau dan istri adalah orang tanpa gejala (OTG). Jadi bagi anggota keluarga yang masih sering keluar rumah karena memang harus bekerja, lebih baik mengenakan masker jika berada di satu ruangan dengan anggota keluarga lainnya seperti di ruang kelurga atau dapur, intinya jika harus  dalam satu ruangan bersama. Hal ini dilakukan demi mencegah  penularan yang sedang tinggi-tingginya,” tandas politisi PDI Perjuangan ini.

“Disamping tentu saja tetap mejalanakan protokol kesehatan ketat lainnya seperti rajin mencuci tangan, menjaga asupan makanan, dan tak kalah penting, rajin membersihkan lingkungan rumah termasuk mengepel lantai dengan obat pel, membuka jendela rumah agar sirkulasi udara berganti, dan sinar matahari bisa masuk ke dalam rumah. Sehingga higienitas rumah tetap terjaga,” lanjutnya.

Maka dari itu, ia mengajak masyarakat untuk meningkatkan higienitas diri dan lingkungan rumah masing-masing untuk memutus rantai penularan covid.

“Karena semakin cepat kita keluar dari krisis covid, semakin cepat kita bisa memperbaiki ekonomi kita kembali. Karena tanpa ada penurunan kasus covid, mustahil ekonomi bisa berjalan dengan baik. Terlebih saat ini kluster keluarga menjadi kluster penularan yang signifikan dan lebih sulit diputus karena dalam budaya Indonesia tidak mungkin ada anggota keluarga yang sakit kemudian anggota keluarga yang lain diam saja. Kita tidak perlu mengubah budaya kita ini, namun hanya perlu mengubah tata laksananya saja demi memutus mata rantai penularan. Terutama jika ada yang OTG,” katanya. (Dhani/hs)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

OLAHRAGA

Mengenal Gemblidik Race, Balapan Sepeda Kayu Asal Lumbang Kabupaten Pasuruan

KABUPATEN PASURUAN – Ajang olahraga tradisional balap papan kayu gelindingan, Gemblidik Race 2026, berlangsung ...
LEGISLATIF

Puan Desak Pencarian Korban Virgo Transport 8 Jadi Prioritas, Minta Sistem Keselamatan Pelayaran Dibenahi

JAKARTA — Ketua DPR RI Puan Maharani meminta operasi pencarian dan penyelamatan korban KMP Virgo Transport 8 yang ...
SEMENTARA ITU...

SRC 2026 Jadi Kawah Candradimuka, Surabaya Bidik 250 Emas di Porprov 2027

SURABAYA — Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menjadikan Surabaya Rising Champion (SRC) 2026 sebagai salah satu ...
HEADLINE

Soekarno Run Banyuwangi Libatkan Disabilitas Netra Layani Sport Massage Pelari

Soekarno Run Banyuwangi melibatkan penyandang disabilitas netra dalam layanan sport massage bagi peserta sebagai ...
KABAR CABANG

DPC Tulungagung Gelar Pelatihan Pelatihan Kader Perempuan Akar Rumput

TULUNGAGUNG – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Tulungagung menggelar pelatihan kader perempuan ...
KABAR CABANG

Perkuat Akar Rumput, DPC PDIP Kota Batu Road Show Serahkan SK ke Ranting

MALANG — Memperkuat konsolidasi hingga tingkat akar rumput, DPC PDI Perjuangan Kota Batu memilih turun langsung ...