BLITAR — Di kota kecil di selatan Jawa Timur ini, sejarah tidak pernah benar-benar berlalu. Ia hadir dalam denyut kehidupan sehari-hari, menyatu dengan langkah warga dan geliat ekonomi yang terus bergerak.
Blitar bukan sekadar wilayah administratif. Ia adalah ruang ingatan kolektif bangsa—tempat Soekarno dimakamkan, sekaligus sosok yang mengukuhkan kota ini sebagai “Bumi Bung Karno”.
Setiap hari, kawasan Makam Bung Karno tak pernah sepi. Peziarah datang dari berbagai penjuru, membawa doa sekaligus harapan. Namun lebih dari itu, mereka juga datang untuk merasakan semangat perjuangan yang diwariskan Sang Proklamator.
Di sekitar kawasan itu, kehidupan tumbuh. Pedagang kecil membuka lapak, pelaku UMKM menawarkan dagangan, hingga sektor jasa dan perhotelan ikut bergerak. Sejarah, di Blitar, bukan hanya dikenang—ia menghidupi.
Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Blitar, Yudi Meira, menyebut keberadaan makam Bung Karno telah memberi dampak nyata bagi masyarakat.
“Blitar ini dikenal sebagai Bumi Bung Karno. Dengan adanya makam Bung Karno, roda perekonomian bergerak—UMKM, pariwisata, hingga perhotelan ikut hidup,” ujarnya.

Namun bagi PDI Perjuangan, Blitar bukan semata soal ekonomi. Di balik ramainya kunjungan, ada nilai yang terus dijaga: warisan ideologis Bung Karno.
Semangat gotong royong, keteguhan dalam memperjuangkan bangsa, hingga keberanian membangun Indonesia menjadi nilai yang dinilai tetap relevan hingga hari ini. “Nilai-nilai itu yang harus terus kita hidupkan,” kata Yudi.
Upaya merawat warisan itu pun dilakukan secara konkret. Salah satunya melalui revitalisasi Istana Gebang—rumah masa kecil Bung Karno yang kini menjadi situs sejarah penting.
Baca juga: Megawati Ziarah Kebangsaan, Momentum Perkuat nilai-nilai Perjuangan Bung Karno
Bagi Yudi, tempat itu bukan sekadar bangunan lama, melainkan bagian dari perjalanan bangsa yang perlu dikenalkan kepada generasi muda.
“Kita ingin generasi muda tidak hanya tahu, tapi juga merasakan langsung jejak Bung Karno,” tuturnya.
Hal senada disampaikan Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar, Guntur Wahono. Ia melihat Blitar sebagai potret utuh perjalanan Indonesia—menghubungkan masa lalu dan masa kini.

“Blitar adalah Indonesia lama sekaligus Indonesia modern. Di sini bersemayam Bung Karno, sehingga punya daya tarik historis sekaligus spiritual,” ujarnya.
Menurutnya, kekayaan Blitar tak berhenti pada sosok Bung Karno. Wilayah ini juga menyimpan jejak peradaban panjang, mulai dari peninggalan Kerajaan Majapahit hingga situs-situs bersejarah seperti Candi Penataran.
Rangkaian situs itu membentuk satu jalur wisata sejarah yang saling terhubung—dari makam Bung Karno hingga warisan leluhur yang lebih tua. “Ini satu kesatuan yang luar biasa. Dari Bung Karno, kita bisa menelusuri jejak peradaban yang lebih panjang,” katanya.
Bagi masyarakat Blitar, keberadaan situs-situs tersebut bukan hanya kebanggaan, tetapi juga berkah. Ia menghadirkan manfaat ekonomi sekaligus memperkuat identitas sosial dan budaya.
Karena itu, merawat Blitar dipandang sebagai bagian dari menjaga Indonesia itu sendiri—melestarikan gagasan besar yang lahir dari sejarah, sekaligus memastikan manfaatnya dirasakan oleh rakyat hari ini. “Merawat Blitar adalah merawat Indonesia,” pungkas Guntur.
Di kota ini, sejarah bukan hanya cerita masa lalu. Ia hidup, tumbuh, dan terus memberi arti. (yols/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










