oleh

Basarah Tegaskan Pentingnya Peran Pemuka Agama dalam Tekan Penyebaran Covid-19

-Kronik-57 kali dibaca

JAKARTA – Dewan Pimpinan Pusat Baitul Muslimin Indonesia (DPP Bamusi) menggelar webinar kebangsaan lintas agama, Rabu (18/8/2021). Dalam webinar tersebut Bamusi mengajak seluruh pemuka agama bergotong royong mencegah penyebaran Covid-19.

Webinar yang bertema “Posisi Sentral Pemuka Agama dalam Mendorong Umat Menyukseskan Penanggulangan Pandemi Covid-19” itu menghadirkan narasumber lintas agama. Antara lain ialah Ketua umum PBNU Prof. Dr. KH Said Aqil Siradj, Ketua PP Muhammadiyah Prof Dr. H. Syafiq A. Mughni, Sekretaris Umum PGI Pdt. Jacklecyn F. Manuputty.

Selain itu juga ada Sekretaris Komisi Hak KWI Romo Agustinus Heri Wibowo, Ketua Walubi DKI Jakarta Jandi Mukianto, Ketua Umum PP Matakin Xs. Budi S. Tanuwibowo, Ketua Bidang Ideologi PHDI Drs. I Nyoman Udayana Sangging, SH. MH, dan Menteri Agama KH. Yaqut Cholil Qoumas serta Sekretaris Dewan Penasehat DPP Bamusi Dr. Achmad Basarah.

Dalam sambutannya mewakili Ketua Umum PDI Perjuangan, Prof. Dr. (H.C.) Megawati Soekarnoputri, Dr. Achmad Basarah menyampaikan terima kasih kepada peserta webinar dan kepada para narasumber yang telah bergabung dan memberikan sumbangsih pemikirannya dalam membantu negara menangani penyebaran Covid-19.

“Saya menyampaikan salam Ketua Umum PDI Perjuangan, Ibu Megawati Soekarnoputri. Beliau sangat mengapresiasi penyelenggaraan webinar yang dilaksanakan oleh Bamusi, dan beliau juga berterima kasih kepada para tokoh dan pemuka agama yang hadir dalam webinar ini,” kata Basarah.

Menurut Basarah, berdasarkan survei per Agustus 2021 kemarin, kasus Covid-19 di dunia saat ini mencapai sekitar 208 juta kasus, dan angka kematiannya mencapai sekitar 4,3 juta jiwa. Sedangkan dalam survei itu, Indonesia menempati posisi ke-13 atau sekitar 3,8 juta kasus Covid-19.

Dengan tingginya kasus Covid-19 di Indonesia, tambah Basarah, Pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah penyebaran Covid-19. Salah satunya dengan menerapkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

“Tentu ini bukanlah kebijakan yang populer, namun kita berhadapan dengan ‘pasukan siluman’ tak terlihat yang hanya bisa dicegah dengan pembatasan interaksi antar manusia,” tuturnya.

Dengan begitu, jelas Basarah, perlu kekompakan dan sinergitas dari berbagai pihak termasuk para pemuka agama dalam menanggulangi penyebaran Covid-19 ini. Sebab, lanjutnya, pemuka agama memiliki peran penting dalam mengkampanyekan pencegahan Covid-19 kepada para umatnya.

Jika berkaca kepada sejarah Indonesia, jelas Wakil Ketua MPR RI ini, para pemuka agama dan ormas keagamaan dan juga pemeluk agama di Indonesia tercatat dan terlibat langsung dalam perjuangan merebut dan melahirkan Kemerdekaan Indonesia.

“Karena itu, berdasarkan logika tersebut, maka pemuka dan pemeluk agama di Indonesia juga harus turut serta dalam mengawal dan menjaga keselamatan bangsa dan negara Indonesia, termasuk menjaga keselamatan rakyat Indonesia dari serangan pandemi Covid-19 ini,” terangnya.

Tokoh-tokoh dan ormas-ormas keagamaan yang terlibat dalam kemerdekaan Indonesia antara lain tokoh Sarekat Islam Hos Tjokrominoto, tokoh sekaligus pendiri Nahdlatul Ulama KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahid Hasyim serta tokoh dan pendiri Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan dan Ki Bagus Hadikusomo.

Sementara ada juga dari tokoh lintas agama yaitu dari agama Kristen, Katholik, Hindu, Budha dan Konghucu.

“Dengan kata lain, semua tokoh agama dan ormas keagamaan serta umat beragama di seluruh Indonesia ikut merebut kemerdekaan bangsa Indonesia dari tangan kolonialisme asing,” jelasnya.

Ketua Bidang Luar Negeri DPP PDI Perjuangan ini menambahkan, di era kemerdekaan ini, para founding father telah mewariskan satu dasar dan satu ideologi yang menjadi pedoman bagi bangsa Indonesia untuk bertindak dan menjadi arah bangsa Indonesia akan melangkah. Dasar ideologi itu diberi nama Pancasila.

Ideologi negara ini didalamnya berisi setiap umat beragama hidup saling menghormati dan bergotong-royong menuju cita-cita Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ini membuktikan bahwa budaya gotong-royong itu adalah jiwa yang hidup di tengah-tengah bangsa Indonesia.

“Saya kira, modal ideologi, modal sosial bangsa Indonesia ini, adalah satu berkat Tuhan Yang Maha Kuasa dalam membantu pemerintah dalam menggalang kekuatan lintas agama di Indonesia dalam menghadapi pandemi Covid-19,” katanya.

“Hanya dengan gotong royong itulah kita bisa menghadapi tantara siluman Covid-19 ini, dan bangsa Indonesia akan keluar menjadi pemenang dan segera menjadikan bangsa Indonesia kembali hidup normal seperti sedia kala,” pungkasnya. (set)