Kisah inspiratif generasi-Z Bondowoso yang ditempa politik lewat pendekatan personal Shanti, istri Ketua DPC PDIP setempat. Dari dapur ke digital, mereka bangun gerakan nyata.
BONDOWOSO – Di sebuah teras rumah sederhana di pinggiran Kota Bondowoso, aroma kopi dan gorengan hangat menyelimuti percakapan sore hari.
Bukan obrolan biasa — ini adalah ruang belajar politik paling tak terduga: tempat para perempuan muda duduk bersila, mendengarkan dengan seksama, lalu bertanya tentang harga cabai, biaya sekolah anak, atau cara mengurus BPJS yang macet.
Di tengah-tengah mereka, ada Funky Indraayu Shanti — istri Ketua DPC PDI Perjuangan Bondowoso, Sinung Sudrajat — yang bukan sekadar “pendamping”, tapi arsitek diam-diam dari kebangkitan generasi muda di partainya.
Lewat pendekatan personal, anjangsana rutin, dan diskusi-diskusi kecil yang terasa seperti ngobrol keluarga, Shanti berhasil membuka pintu politik bagi banyak wajah baru — terutama perempuan muda yang sebelumnya merasa asing dengan dunia partai.
“Saya dulu pikir politik itu jauh, rumit, dan hanya untuk orang-orang tertentu,” kenang Lutfiah Ayu Lestari (33), kini Wakil Ketua Bidang Industri, Perdagangan, Ekonomi Kreatif, dan Ekonomi Digital PAC PDI Perjuangan Kecamatan Kota Bondowoso, Selasa (26/5/2026).
“Tapi Bu Shanti mengajarkan saya bahwa politik itu dimulai dari dapur. Ketika kita protes karena harga beras naik, itu sudah politik. Ketika kita ingin anak-anak dapat pendidikan layak, itu juga politik,” sambungnya.
Ayu tidak sendiri. Fitriyatul Hasanah (34), yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Keagamaan PAC Kota Bondowoso, menemukan panggilan serupa.

Baginya, advokasi rakyat harus menyentuh akar-akar kehidupan: kesehatan ibu hamil, akses pendidikan agama bagi anak jalanan, hingga perlindungan bagi santriwati di pesantren-pesantren kecil.
“Politik tanpa empati hanya jadi retorika,” katanya pelan, matanya menatap jauh ke luar jendela.
Namun, gerbong muda ini tidak hanya diisi oleh suara-suara feminin.
Adalah Andre Krisna Pratama (27), pemuda Generasi Z yang kini menduduki posisi strategis sebagai Wakil Ketua Bidang Pemenangan Pemilu dan Sumber Daya PAC Kota Bondowoso, membawa angin segar lewat layar ponselnya.
Bagi Andre, teknologi bukan alat bantu — ia adalah medan perjuangan baru.
“Kita hidup di era AI, di mana informasi bisa menyebar dalam hitungan detik. Jika partai tidak melek digital, kita akan ketinggalan kereta,” ujarnya sambil menunjukkan dashboard kampanye digital yang sedang ia kembangkan.
“Advokasi kerakyatan justru jadi lebih transparan dan efisien kalau kita pakai data, media sosial, dan platform digital secara cerdas,” imbuh Andre.

Yang menarik, semua gerakan ini tidak terjadi dalam vakum.
Mereka saling terhubung, saling mendukung, dan sering kali bertemu di meja makan Shanti — tempat di mana ide-ide besar lahir dari percakapan kecil, dan di mana politik dirasa bukan sebagai beban, tapi sebagai tanggung jawab moral.
Shanti sendiri jarang muncul di depan kamera. Ia lebih suka berdiri di belakang, memastikan setiap anggota mudanya punya ruang untuk tumbuh, berpendapat, dan bertindak.
“Saya tidak ingin mereka ikut partai karena disuruh. Saya ingin mereka ikut karena mereka merasa dibutuhkan,” katanya suatu malam, saat hujan deras mengguyur atap rumahnya.
Kini, di bawah payung PDI Perjuangan Bondowoso, wajah-wajah muda itu bukan lagi sekadar pelengkap struktur.
Mereka adalah motor penggerak — dari dapur hingga digital, dari pasar tradisional hingga algoritma media sosial.
Dan di balik semua itu, ada seorang wanita yang percaya bahwa perubahan terbesar sering kali dimulai dari hal-hal paling sederhana: secangkir kopi, sepiring nasi, dan satu pertanyaan tulus:
“Apa yang bisa kamu lakukan untuk tetanggamu?” (art/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










