JAKARTA – Wakil Ketua MPR RI Dr Ahmad Basarah, M.H. menegaskan bahwa Pancasila memiliki kualitas mahakarya pendiri bangsa dan negara Indonesia, bukan sekadar karya biasa.
Hal itu dia sampaikan dalam orasi berjudul ‘Pancasila Mahakarya Pendiri Bangsa: Sumber Falsafah Negara’ di acara Dies Natalis ke-70/Lustrum ke-14 Universitas Kristen Indonesia (UKI), Jakarta, Rabu (2/8/2023).
“Demi memperkuat cinta kepada Pancasila, kita mesti memahami bahwa ideologi Pancasila adalah mahakarya pendiri bangsa. Tanpa pemahaman seperti itu, generasi muda bangsa akan tercerabut dari akar sejarah dan sumber pengetahuan dasar negara,” papar Basarah.
Ada 3 alasan mendasar mengapa dia menyebut Pancasila sebagai sebuah mahakarya. Pertama, kualitas pengetahuan Pancasila bersifat filosofis, sebagaimana disebut Bung Karno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai dasar falsafah negara.
“Dasar filosofis ini memuat sifatnya yang radikal (mengakar), sistematis dan komprehensif,” ujarnya.
Alasan kedua, diterimanya Pancasila sebagai falsafah dasar negara secara aklamasi dalam sidang pertama Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) pada 1 Juni 1945 menunjukkan ‘mutiara’ rumusan Bung Karno yang disampaikannya pada 1 Juni 1945.
Ketiga, Basarah menegaskan kualitas pengetahuan Pancasila bersifat sintesis, menyatukan berbagai ideologi dunia menjadi ideologi baru yang khas Indonesia.
“Jika ideologi di luar negeri saling bertentangan, di dalam Pancasila semua pandangan dunia tersebut saling bersintesis,” tegas Ketua DPP PDI Perjuangan itu.
“Demikian pula demokrasi dan agama yang seolah bertentangan, dalam Pancasila menyatu menjadi teo-demokrasi. Penyatuan serupa terjadi pada sila-sila lainnya,” sambungnya.
Kemampuan Pancasila dalam menyatukan keragaman bangsa Indonesia, lanjut dia, dengan sendirinya menjadikan ideologi bangsa ini mahakarya yang membanggakan. Ini terus menggelora sejak Soekarno melahirkan gagasannya pada 1 Juni 1945, lalu dirumuskan pada 22 Juni 1945, kemudian disahkan dalam konsensus final pada 18 Agustus 1945.
Dalam ketiga fase tersebut, Basarah menambahkan, Bung Karno selalu terlibat di dalamnya bersama para pendiri bangsa.
“Dengan demikian, Pancasila yang kita miliki hanya ada satu, yakni Pancasila, titik. Tidak ada Pancasila 1 Juni, atau Pancasila 22 Juni, atau Pancasila 18 Agustus,” tegas Basarah. (ace/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










