oleh

Anas: Pariwisata Bikin Banyuwangi Mendunia

BANYUWANGI – Perubahan besar-besaran dilakukan Banyuwangi guna meningkatkan pendapatan daerahnya. Salah satunya mengubah fokus daerahnya dari pertanian, perikanan menjadi mengedepankan pariwisata.

“Pariwisata membuat Banyuwangi dikenal, pariwisata membuat Banyuwangi mendunia. Ini harus kita akui, oleh karenanya Banyuwangi mengutamakan pariwisata dan menjadi produk unggulan kami,” tegas Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, kemarin.

Diakuinya, dengan mengandalkan pariwisata membawa perubahan pada pendapatan daerah. Di mana, terjadi peningkatan dari Rp14 juta menjadi Rp45 juta income per kapita di Banyuwangi.

“Kita pilih pariwisata karena bukan sebatas mendatangkan uang dan wisatawan saja. Dari jorok jadi bersih, melalui pariwisata terkonsentrasi dengan baik dan maju, kriminalitas menurun, budaya berubah dan kami menjadi contoh setiap tahun,” ujarnya.

Sejak dilantik sebagai Bupati Banyuwangi pada tahun 2010, Anas melihat program unggulan bukan lagi pertanian, UKM, maupun perikanan. Namun lebih memfokuskan kepada pariwisata setelah pendidikan dan kesehatan.

“Ketika memutuskan untuk menjadikan pariwisata sebagai fokus utama di Banyuwangi maka perubahan yang pertama adalah persoalan komunikasi. Kita bisa lihat betapa sulitnya wisatawan mancanegara ke Indonesia. Melihat hal inilah kami ingin memanjakan wisatawan bukan hanya menikmati keindahan melainkan kemudahaan berkomunikasi,” paparnya.

Kemudahan berkomunikasi bagi wisatawan terus dilakukan. Bahkan selama berada di Banyuwangi, tegas Anas, wisatawan tak perlu khawatir dengan persoalan komunikasi.

Pasalnya, sebanyak 1.400 wifi telah dipasangnya di sejumlah titik lokasi. Seperti tempat wisata, rumah sakit, pusat perbelanjaan, pasar tradisional, pelayanan umum hingga ke tingkat keamanan sekaligus.

“Cara ini tentu sangat memudahkan bagi pelayanan, sehingga wisatawan akan merasa nyaman dalam berwisata terlebih kami menyadari bahwa komunikasi adalah menjadi salah satu kenyamanan wisatawan saat berwisata,” urainya.

Sejak pemasangan wifi dilakukan sejak 2012, termasuk tempat makam pahlawan maka pihaknya juga memberikan ruang publik. Sehingga dalam waktu 24 jam wisatawan bisa menggunakan wifi tanpa batas.

“Ada 189 desa, 28 kelurahan semua tersebar. Semua wifi diutamakan di public wisata. Banyuwangi sudah menjadi contoh buat seluruh wilayah nasional. Semua termonitor dengan menggunakan gadget. Dengan hal ini maka pembangunan tidak dilakukan sembarangan,” tambah dia. (goek)