Rabu
16 September 2026 | 2 : 35

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Cegah Perkawinan Usia Anak, Mbak Nia Ajak Masyarakat Gotong Royong

PDIP-Jatim Nia Kurnia Fauzi 18102022

SUMENEP – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep bekerja sama dengan United States Agency for International Development(USAID) menggelar Lokakarya dan Awareness Building Daerah Rawan Perkawinan Usia Anak. Lokakarya tersebut merupakan upaya untuk mencegah perkawinan usia ana/perkawinan dini.

Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten Sumenep, Nia Kurnia Fauzi, mengungkapkan, Sumenep termasuk nomor 5 dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur dengan kasus pernikahan usia anak dan stunting tertinggi. Karena itu, pemerintah daerah konsentrasi untuk mengurangi pernikahan usia anak dan stunting melalui berbagai sosialisasi dan lokakarya.

“Masalah pernikahan anak menjadi persoalan klasik yang butuh keterlibatan semua sektor dan elemen masyarakat, untuk bersama-sama mencegah pernikahan usia anak,” ujar Mbak Nia, sapaan akrab Nia Kurnia Fauzi, pada pembukaan lokakarya, Senin (17/10/2022).

Istri Bupati Sumenep itu juga mengakui, pernikahan dini memberi dampak pada kesehatan, sosial, dan ekonomi masyarakat. Politisi PDI Perjuangan itu juga menjelaskan, untuk menyelesaikan persoalan tersebut, pemerintah membutuhkan gotong-royong dalam seluruh elemen masyarakat.

“Seluruh elemen masyarakat diharapkan dapat memberikan sumbangsih menanggulangi persoalan stunting dan perkawinan usia anak ini,” jelasnya.

Sementara itu, Koordinator USAID ERAT Provinsi Jawa Timur, Dina Limanto, mengatakan, USAID ERAT bersama Pemkab Sumenep memiliki komitmen untuk menanggulangi stunting dan pernikahan usia anak. 

“Tidak hanya pemerintah, tapi semua pihak harus memiliki komitmen dan bergandengan tangan membentuk generasi mendatang yang lebih baik,” terangnya.

Dina juga menegaskan, melalui lokakarya dan awareness building daerah rawan perkawinan usia anak ini, pihaknya berharap masyarakat paham akan dampak-dampak stunting dan pernikahan usia anak.

“Yang mungkin selama ini masyarakat, khususnya anak-anak generasi muda sebaya, semakin bebas dan menganggap menikah dini menyenangkan. Tanpa mengetahui dampaknya yang juga luar biasa. Tidak hanya bagi kesehatan ibu dan bayi, juga dampak lainnya,” jelasnya.

Ia juga meyakini, melalui lokakarya, yang diikuti berbagai organisasi masyarakat, perwakilan desa, dan OPD terkait, Kabupaten Sumenep akan mampu mengatasi berbagai persoalan, terutama pernikahan usia anak dan stunting. (set)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Mengurai Ruwet Distribusi Pupuk Subsidi di Magetan, dari Kendala NIK Petani hingga Jumlah Poktan

MAGETAN – Persoalan masih saja membelit di seputar pupuk bersubsidi. Meski pemerintah dan produsen menyatakan stok ...
KRONIK

KPU Kabupaten Pasuruan Kaji Penataan Dapil Pemilu 2029, DPC PDIP Sampaikan Pertimbangan Beban Anggaran

KABUPATEN ‎PASURUAN – KPU Kabupaten Pasuruan, secara internal mulai mengkaji penataan daerah pemilihan (dapil) ...
KRONIK

IKS-PI Cup 3 Jadi Ruang Pembinaan Remaja, Doding: Silat Harus Bermuara ke Prestasi  

IKS-PI Cup 3 Trenggalek menjadi ruang pembinaan pesilat muda sekaligus menekan tawuran dan kenakalan remaja. Doding ...
HEADLINE

Said Abdullah: Gaji P3K 2027 Ditanggung Pusat, Disiapkan Anggaran Rp23 Triliun

JAKARTA — Kabar baik bagi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K). Mulai 2027, gaji atau honorarium P3K ...
EKSEKUTIF

Rijanto: Komunikasi Lintas Kelompok Penting untuk Jaga Kerukunan Blitar

BLITAR — Bupati Blitar Rijanto menegaskan pentingnya komunikasi dengan berbagai kelompok keagamaan untuk menjaga ...
EKSEKUTIF

Eri Siapkan Bendera Hitam untuk PD yang Gagal Bina Kampung Pancasila

SURABAYA — Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyiapkan sanksi simbolik berupa bendera hitam bagi perangkat daerah ...