Selasa
21 Juli 2026 | 8 : 49

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Dukung Penuh PTM, Tapi Deni Wicaksono Minta Ini Diperhatikan

pdip-jatim-deni-190421

SURABAYA – Keinginan para pelajar di Jawa Timur untuk kembali mengikuti pembelajaran tatap muka (PTM) semakin memuncak. Hasil survei Surabaya Survey Center (SSC) yang melibatkan 1.070 anak muda di 38 kabupaten/kota se-Jatim menyebutkan, 77,4 persen responden berharap agar mereka bisa kembali belajar tatap muka.

Sebanyak 19,3 persen masih merasa nyaman dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Sedangkan 12,7 persen memilih tidak tahu atau tidak menjawab.

Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur yang membidangi pendidikan, Deni Wicaksono, mengatakan, saat ini mayoritas pelajar memang ingin kembali belajar secara tatap muka di sekolah. 

”Saya juga sudah diskusi dengan ratusan pelajar secara virtual, semuanya bilang kangen sekolah. Pembelajaran tatap muka bagaimana pun melahirkan experience yang berbeda dibanding daring,” terang Deni, Senin (19/4/2021).

Lebih dari setahun mengikuti pembelajaran jarak jauh, lanjut politisi PDI Perjuangan itu, telah membawa banyak konsekuensi bagi pelajar.

Dia menyebut, kajian Bank Dunia yang menyatakan, penutupan pembelajaran di sekolah memicu penurunan nilai ujian rata rata hingga 25 persen. Pandemi ini juga menurunkan efektivitas tahun sekolah dasar yang dicapai anak: dari 7,9 tahun menjadi 7,3 tahun.

”Riset-riset global, termasuk dari Unicef menyebutkan pandemi berpotensi menurunkan kompetensi dasar siswa karena menurunnya waktu kualitas belajar,” bebernya.

Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur ini mendukung penuh dilaksanakannya PTM yang oleh Mendikbud ditargetkan berlangsung di semua sekolah pada Juli 2021.

Saat ini, dari dari 38 kabupaten/kota se-Jatim, yang belum melaksanakan PTM adalah Kota Surabaya, Kota-Kabupaten Kediri, dan Kota Malang.

Adapun kabupaten/kota yang sudah melaksanakan PTM, semuanya dilakukan terbatas, hanya 25-50 persen kapasitas kelas yang dipakai.

PTM, papar Deni, sangat penting untuk menjaga akselerasi kualitas sumberdaya manusia (SDM). Meski demikian, Deni menggarisbawahi empat hal yang sangat penting diperhatikan.

Pertama, penerapan protokol kesehatan yang ketat dan disiplin. ”Saya paham semuanya kangen sekolah, kangen belajar di kelas, kangen cerita bapak/ibu guru, tapi protokol kesehatan tidak boleh ditawar,” tegas Deni.

Kedua, pengaturan jam PTM, sesuai protokol, maka kelas hanya boleh diisi maksimal 50 persen kapasitas kursi. Artinya, tetap ada pelajar yang mengikuti pembelajaran daring.

Deni menyarankan ada pembagian dua kelas, yaitu jam pagi dan siang atau sore. Atau diatur komposisi antara PTM dan PJJ, sehingga semua pelajar kembali PTM.

Menurutnya, tentu ada konsekuensi lanjutan, misalnya memberi insentif ke guru. Atau, tambah dia, membuka gerakan relawan mengajar dengan melibatkan mahasiswa tingkat akhir di kampus-kampus pendidikan untuk ikut membantu mengajar di sekolah.

“Kan kurikulum sudah ada, mahasiswa tingkat akhir pasti sudah paham. Sehingga kelas pagi dan siang terlaksana tanpa menambah beban bapak/ibu guru,” beber Deni.

Ketiga, jadikan PTM sebagai sarana memasifkan edukasi kesehatan. Menurutnya, kini saatnya memperkuat gaya hidup sehat sejak dari sekolah. 

Salah satu langkah yang bisa dilakukan, lanjut dia, adalah revitalisasi unit kesehatan sekolah (UKS). UKS direvitalisasi dengan menjadikannya sebagai pilar promosi dan preventif kesehatan.

“Sinergikan UKS dengan Puskesmas. Puskesmas menyupervisi UKS. Puskesmas masuk ke sekolah-sekolah untuk edukasi kesehatan,” katanya.

”Saya yakin, jika urusan ini tuntas di sekolah, kita akan punya generasi yang disiplin menerapkan gaya hidup sehat. Ujungnya, derajat kesehatan masyarakat akan meningkat,” tambah dia.

Keempat, lanjut Deni, pentingnya pendidikan parenting. Pararel dengan penyiapan PTM, dia mendorong Dinas Pendidikan Jawa Timur untuk menggerakkan sekolah agar masif menggelar pendidikan parenting secara daring bagi orangtua siswa.

“Ini adalah momentum untuk menyediakan pendidikan parenting kepada orangtua. Pendidikan parenting sangat penting karena tidak semua orang tua memahami bagaimana sih pendidikan anak, padahal saat ini kan anak banyak berada di rumah,” pungkas Deni. (rul)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

EKSEKUTIF

Mas Dhito Tinjau Lahan Calon Hotel Haji Pertama di Indonesia Dekat Bandara Dhoho

Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana meninjau lahan calon hotel haji pertama di Indonesia di dekat Bandara ...
LEGISLATIF

Asmadi Minta UMKM Dilibatkan dalam Revitalisasi GOR Ganesha, Pedagang Lama Harus Diprioritaskan

BATU – Ketua Komisi B DPRD Kota Batu, Asmadi, meminta Pemerintah Kota Batu melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, ...
SEMENTARA ITU...

Ketika Pelari Kenya Terjebak di Jember, Gotong Royong Mengantarnya Pulang

JEMBER — Debu musim kemarau beterbangan di sepanjang jalan Kota Jember. Matahari siang memantulkan hawa panas dari ...
KRONIK

Puan Maharani Tekankan Literasi Digital dan Komunikasi Negara untuk Tangkal Hoaks tentang DPR

JAKARTA – Ketua DPR RI Puan Maharani menegaskan maraknya hoaks yang menyasar DPR RI menjadi pengingat pentingnya ...
LEGISLATIF

DPRD Surabaya Dorong Pemkot Percepat Pembangunan Pintu Air Kali Jagir

SURABAYA – Ketua Komisi C DPRD Surabaya Eri Irawan mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mempercepat ...
LEGISLATIF

Baktiono Dorong Pemkot Surabaya Proaktif Cari Pimpinan Perumda yang Kompeten

Anggota Komisi B DPRD Surabaya Baktiono meminta Pemkot Surabaya proaktif mencari figur profesional berkompeten ...