Selasa
03 November 2026 | 10 : 13

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Tim Ahli Kaji Banyuwangi Sebagai Cagar Budaya Nasional

pdip-jatim-cagar-budaya-banyuwangi

BANYUWANGI – Tim Ahli Cagar Budaya Nasional (TACBN) melakukan kajian terhadap sejumlah peninggalan cagar budaya di Banyuwangi. Kajian dilakukan dalam rangka penetapan Banyuwangi sebagai cagar budaya nasional.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyambut baik kedatangan tim ahli tersebut yang akan mengkaji potensi cagar budaya Banyuwangi. Menurut Anas, seiring berjalannya waktu, banyak kasus cagar budaya yang mulai terpinggirkan bahkan hilang.

“Hal ini, disebabkan karena pembangunan yang kurang memperhatikan nilai-nilai sejarah dan budaya. Maka, dengan hadirnya tim cagar budaya ini, akan membawa manfaat besar terhadap pelestarian cagar budaya yang kami miliki,” kata Anas, Senin.

Anas menyebutkan, untuk melestarikan kebudayan lokal, Banyuwangi telah melakukan berbagai upaya. Salah satunya, memberikan sentuhan kebudayaan lokal pada setiap bangunan, termasuk hotel.

Pihaknya mewajibkan setiap bangunan bisa mendokumentasikan kekhasan lokal Banyuwangi. Setiap bangunan baru, tidak akan diberikan IMB-nya jika dalam arsitekturnya tidak ada unsur kebudayaan lokal.

“Maka, semua hotel di Banyuwangi sekarang sudah mengaplikasikan ornamen lokal seperti arsitektur harus khas lokal, mengaplikasin motif klasik batik di ornamen hotel,” jelasnya.

Tak hanya itu, Banyuwangi juga konsisten melestarikan budaya dan kearifan lokal yang tumbuh dalam masyarakat. Dalam deretan Banyuwangi Festival yang digelar sepanjang tahun, sebagian di antaranya adalah event budaya.

“Banyuwangi punya tradisi kebo-keboan, barong ider bumi, seblang, hingga tari Gandrung yang konsisten kami angkat dalam Festival. Karena bagi kami, Banyuwangi boleh maju dan terus berkembang, tapi budaya Banyuwangi tidak boleh terpinggirkan,” papar Anas.

Sementara itu, Ketua Cagar Budaya Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Soeroso, mengatakan TACBN beranggotakan lima belas ahli dari berbagai bidang ilmu, di antaranya ahli geologi, sejarah, geografi, arsitek, dan hukum.

Tim ini juga gabungan dari perwakilan direktorat purbakala dan sejumlah perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia. “Dalam rangka penetapan cagar budaya nasional, kami terus melakukan kajian terhadap situs cagar budaya di Indonesia. Kali ini, kami sengaja melakukannya di Banyuwangi,” ujar Soeroso.

Menurut dia, ada alasan khusus yang membuat mereka tertarik melakukan kajian di daerah ujung timur Pulau Jawa ini.

“Kami lihat Banyuwangi mampu meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakatnya, salah satunya melalui kebudayaan dan sejumlah destinasi wisatanya. Inilah yang membuat kami tergerak datang ke sini,” kata Soeroso.

“Dari situ, kami ingin melihat potensi cagar budayanya, sekaligus mengkaji mana saja yang memilki kemungkinan untuk diangkat menjadi cagar budaya nasional. Sehingga cagar budaya tersebut dapat dimanfaatkan lebih besar lagi untuk peningkatan kesejahteraan warga Banyuwangi,” imbuhnya.

Sebuah kawasan disebut sebagai Cagar Budaya karena memiliki keunikan peninggalan budaya dan sejarahnya. Peninggalan cagar budaya, ada yang bersifat tangible (ragawi) dan intangible (non ragawi). Tangible seperti bangunan, benda, situs. Yang intangible, di antaranya kesenian tradisional, tradisi rakyat.

Selama tiga hari sejak Kamis-Sabtu (29 November-1 Desember), tim telah keliling mengunjungi sejumlah situs cagar budaya yang ada di Bumi Blambangan. Mulai wisata adat Osing di Desa Kemiren Kecamatan Glagah, situs Inggrisan di Kecamatan Banyuwangi, dan Ompak Songo, situs bersejarah kerajaan Blambangan yang terletak di Kecamatan Muncar.

Soeroso lalu menceritakan kesannya saat mengunjungi sejumlah situs di Banyuwangi yang merupakan peninggalan lama.

Saat mengunjungi Inggrisan yang dibangun Belanda pada abad 17, rombongan ini langsung dibuat takjub. Karena bangunannya masih berdiri kokoh meski sudah berumur ratusan tahun. (goek)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Artikel Terkini

LEGISLATIF

Sri Untari Ajak Emak-emak Malang Pilah Sampah dari Rumah, Limbah Bisa Jadi Sumber Cuan

MALANG – Kesadaran memilah sampah dari rumah mulai tumbuh di kalangan warga Kota Malang setelah mengikuti ...
KRONIK

Warga Tanpa Identitas Luput dari Bansos, Widarto Sebut Kemiskinan Bukan Sekadar Angka Statistik

JEMBER – Penurunan jumlah penduduk miskin di Kabupaten Jember sekitar 15 ribu orang dalam setahun terakhir belum ...
EKSEKUTIF

Inovasi Sosialisasi Regulasi, Pemkab Ngawi Gelar Lomba Cerdas Cermat Tata Ruang Libatkan Warga

NGAWI – Pemerintah Kabupaten Ngawi melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) menggelar Festival Tata ...
KRONIK

Aris Sulawan Bersama Warga Walikukun Gotong Royong Bangun Sejumlah Bak Sampah

NGAWI – Keterbatasan fasilitas pembuangan sampah masih menjadi persoalan kebersihan lingkungan di sejumlah wilayah ...
EKSEKUTIF

BKK Desa di Ngawi dari P-APBD 2026 Kisaran Rp 100 – 200 Juta

NGAWI – Sebanyak 122 desa di Kabupaten Ngawi mendapatkan alokasi Bantuan Keuangan Khusus (BKK) desa pada perubahan ...
KRONIK

Buyer Filipina Tertarik Kopi Banyuwangi, Bupati Ipuk Dorong Peluang Ekspor

BANYUWANGI – Kopi Banyuwangi menarik perhatian buyer asal Filipina. Sembilan calon pembeli dari negara tersebut ...