Jumat
28 Agustus 2026 | 10 : 29

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Festival Ngunduh Kopi 73, Momentum Petani Banyuwangi Merdeka dari Tengkulak

YL_1534748858602

BANYUWANGI – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-73 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI), menjadi momentum bagi petani kopi di Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, untuk merdeka dari tengkulak.

Perlawanan terhadap tengkulak itu mereka tandai dengan menggelar Festival Ngunduh Kopi (petik kopi) Pitu Telu, di Dusun Lerek, Gombengsari, Minggu (19/8/2018).

“Pitu Telu atau 73 merupakan tahun peringatan kemerdekaan negara Indonesia. 73 juga bermakna kemerdekaan bagi petani Gombengsari dari tengkulak,” kata Yusuf Widiyatmoko, Wakil Bupati Banyuwangi, saat hadir dalam festival Ngunduh Kopi.

Dengan mengangkat tema Pitu Telu sesuai dengan peringatan tahun kemerdekaan Indonesia, menurut Yusuf, juga bermakna memerdekakan para petani dari keberadaan tengkulak.

Politisi PDI Perjuangan ini mengatakan, tengkulak biasanya membeli kopi dari kebun rakyat seperti Gombengsari ini sangat murah. Padahal apabila petani mau memproses kopi dengan lebih baik, harganya lebih mahal dan menguntungkan.

“Kami berharap dengan diselenggarakannya festival ini, kopi rakyat di Gombengsari lebih mandiri dan perekonomiannya meningkat,” harap Yusuf.

Dalam Ngunduh Kopi Pitu Telu itu, masyarakat diajak dan diedukasi cara mengolah kopi. Mulai dari memilih, menumbuk, menyangrai, hingga menyajikan kopi.

Sementara itu, Camat Kalipuro Hendri Suhartono mengatakan, Lerek Gombengsari memiliki perkebunan kopi rakyat yang menjadi andalan. “Kami terus mendorong agar petani kopi di sini bisa lebih mandiri,” kata Hendri.

Saat ini Lerek memiliki brand kopi Lego (Lerek Gombengsari). Perlahan petani kopi di Gombengsari menghindari keberadaan tengkulak. Gombengsari memiliki perkebunan kopi rakyat sekitar 1.700 hektare.

Di Gombengsari telah terdapat komunitas kopi Lego, yang mengajak dan mengedukasi agar petani terlepas dari tengkulak. Hariono, pengusaha sekaligus Ketua Komunitas Kopi Lego, mengatakan, perlahan petani di sini tidak mau lagi menjual kopi ke tengkulak.

“Kami sudah tidak mau lagi menjual ke tengkulak. Kami menjual langsung ke buyer, seperti restoran, kafe-kafe, pengusaha kopi olahan,” kata pria kelahiran Gombengsari tersebut.

Pria yang juga pemilik lahan sekaligus petani kopi itu mengatakan, di Kelurahan Gombengsari Banyuwangi, selama berpuluh-puluh tahun petani kopi rakyat terbelenggu oleh tengkulak.

“Apabila petani kopi mau bersusah payah sedikit, dengan mengolah kopi menjadi bubuk, keuntungan petani bisa 300 persen lebih,” ujarnya. (goek)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Artikel Terkini

KRONIK

Kementerian PU Hibahkan SPAM Tangkel ke Pemkab Bangkalan, Bupati Lukman: Jadi Pengungkit Investasi

BANGKALAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan mendapat tambahan aset strategis untuk memperkuat pelayanan ...
KRONIK

Data Desil Bermasalah, DPRD Bondowoso Soroti Ancaman Bantuan Warga Terputus

BONDOWOSO – Perubahan data desil warga di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, berpotensi membuat penerima bantuan ...
KRONIK

Monev Komisi B DPRD Jember di PT MDR Buntu, Data Stok dan Harga Tembakau Masih Misteri

JEMBER – Monitoring dan evaluasi Komisi B DPRD Jember ke PT Mangli Djaya Raya (MDR), Jumat (28/8/2026), belum ...
LEGISLATIF

DPRD Kota Malang Usulkan Insentif Guru PAUD Naik, Dibahas dalam APBD 2027

MALANG – DPRD Kota Malang mendorong peningkatan alokasi tunjangan insentif bagi para pendidik Pendidikan Anak Usia ...
LEGISLATIF

Abidin Fikri Salurkan Wakaf Al-Qur’an dan Bingkisan untuk Takmir Masjid di Bojonegoro

BOJONEGORO – Momentum Jumat Berkah dimanfaatkan oleh Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Dr. H. ...
KRONIK

Setengah Jam di Posko Baguna, Tempat Para Penggembira Muktamar Melepas Lelah

JOMBANG – Matahari sedang terik-teriknya ketika jarum jam menunjuk pukul 13.30 WIB, Kamis (27/8/2026). Sinar ...