Selasa
03 November 2026 | 2 : 25

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Festival Ngunduh Kopi 73, Momentum Petani Banyuwangi Merdeka dari Tengkulak

YL_1534748858602

BANYUWANGI – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-73 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI), menjadi momentum bagi petani kopi di Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, untuk merdeka dari tengkulak.

Perlawanan terhadap tengkulak itu mereka tandai dengan menggelar Festival Ngunduh Kopi (petik kopi) Pitu Telu, di Dusun Lerek, Gombengsari, Minggu (19/8/2018).

“Pitu Telu atau 73 merupakan tahun peringatan kemerdekaan negara Indonesia. 73 juga bermakna kemerdekaan bagi petani Gombengsari dari tengkulak,” kata Yusuf Widiyatmoko, Wakil Bupati Banyuwangi, saat hadir dalam festival Ngunduh Kopi.

Dengan mengangkat tema Pitu Telu sesuai dengan peringatan tahun kemerdekaan Indonesia, menurut Yusuf, juga bermakna memerdekakan para petani dari keberadaan tengkulak.

Politisi PDI Perjuangan ini mengatakan, tengkulak biasanya membeli kopi dari kebun rakyat seperti Gombengsari ini sangat murah. Padahal apabila petani mau memproses kopi dengan lebih baik, harganya lebih mahal dan menguntungkan.

“Kami berharap dengan diselenggarakannya festival ini, kopi rakyat di Gombengsari lebih mandiri dan perekonomiannya meningkat,” harap Yusuf.

Dalam Ngunduh Kopi Pitu Telu itu, masyarakat diajak dan diedukasi cara mengolah kopi. Mulai dari memilih, menumbuk, menyangrai, hingga menyajikan kopi.

Sementara itu, Camat Kalipuro Hendri Suhartono mengatakan, Lerek Gombengsari memiliki perkebunan kopi rakyat yang menjadi andalan. “Kami terus mendorong agar petani kopi di sini bisa lebih mandiri,” kata Hendri.

Saat ini Lerek memiliki brand kopi Lego (Lerek Gombengsari). Perlahan petani kopi di Gombengsari menghindari keberadaan tengkulak. Gombengsari memiliki perkebunan kopi rakyat sekitar 1.700 hektare.

Di Gombengsari telah terdapat komunitas kopi Lego, yang mengajak dan mengedukasi agar petani terlepas dari tengkulak. Hariono, pengusaha sekaligus Ketua Komunitas Kopi Lego, mengatakan, perlahan petani di sini tidak mau lagi menjual kopi ke tengkulak.

“Kami sudah tidak mau lagi menjual ke tengkulak. Kami menjual langsung ke buyer, seperti restoran, kafe-kafe, pengusaha kopi olahan,” kata pria kelahiran Gombengsari tersebut.

Pria yang juga pemilik lahan sekaligus petani kopi itu mengatakan, di Kelurahan Gombengsari Banyuwangi, selama berpuluh-puluh tahun petani kopi rakyat terbelenggu oleh tengkulak.

“Apabila petani kopi mau bersusah payah sedikit, dengan mengolah kopi menjadi bubuk, keuntungan petani bisa 300 persen lebih,” ujarnya. (goek)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Artikel Terkini

KABAR CABANG

PDI Perjuangan Kota Madiun dan Komunitas Big Bantaran Kali Matangkan Rencana Aksi Merawat Pertiwi

MADIUN – Usulan warga untuk menanam pohon mangga di sepanjang bantaran Kali Madiun menjadi bagian dari aksi Merawat ...
LEGISLATIF

Sri Untari Ajak Emak-emak Malang Pilah Sampah dari Rumah, Limbah Bisa Jadi Sumber Cuan

MALANG – Kesadaran memilah sampah dari rumah mulai tumbuh di kalangan warga Kota Malang setelah mengikuti ...
KRONIK

Warga Tanpa Identitas Luput dari Bansos, Widarto Sebut Kemiskinan Bukan Sekadar Angka Statistik

JEMBER – Penurunan jumlah penduduk miskin di Kabupaten Jember sekitar 15 ribu orang dalam setahun terakhir belum ...
EKSEKUTIF

Inovasi Sosialisasi Regulasi, Pemkab Ngawi Gelar Lomba Cerdas Cermat Tata Ruang Libatkan Warga

NGAWI – Pemerintah Kabupaten Ngawi melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) menggelar Festival Tata ...
KRONIK

Aris Sulawan Bersama Warga Walikukun Gotong Royong Bangun Sejumlah Bak Sampah

NGAWI – Keterbatasan fasilitas pembuangan sampah masih menjadi persoalan kebersihan lingkungan di sejumlah wilayah ...
EKSEKUTIF

BKK Desa di Ngawi dari P-APBD 2026 Kisaran Rp 100 – 200 Juta

NGAWI – Sebanyak 122 desa di Kabupaten Ngawi mendapatkan alokasi Bantuan Keuangan Khusus (BKK) desa pada perubahan ...