Sabtu
24 Oktober 2026 | 3 : 30

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Perempuan Punya Kekuatan Ajukan Kontrak Politik

pemilih perempuan

pemilih perempuanSURABAYA – Politisi PDI Perjuangan Diana AV Sasa mengatakan, pemilih perempuan memiliki kekuatan untuk mendesak wakilnya di legislatif dan eksekutif agar bisa melahirkan kebijakan pro perempuan melalui proses pemilu.

“Jumlah pemilih perempuan kan faktanya lebih besar dari pemilih laki-laki. Harusnya potensi ini bisa menjadi kekuatan bagi kelompok pemilih perempuan untuk membuat kontrak-kontrak politik dengan calon pemimpinnya melalui proses pemilihan atau pemilu itu,” kata Diana Sasa dalam seminar nasional bertajuk “Rakyat sebagai Komoditas Politik” di Bangsal Pantjasila, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Selasa (20/5/2014).

“Tapi realitasnya hal itu minim sekali dilakukan pemilih perempuan. Calon yang akan dipilih juga minim melakukan pendidikan kesadaran hak politik perempuan itu. Perempuan hanya menjadi sekadar komoditas politik, seperti barang yang diperjualbelikan,” tambah dia.

Komoditas, menurut Sasa, adalah barang dagangan, nilainya ditentukan oleh permintaan pasar. Pemilih perempuan, katanya, lebih banyak difungsikan sebagai pendulang suara dalam sebuah transaksi jual beli suara untuk meraih posisi politik sang kandidat.

Dia mencontohkan pemilu legislatif kemarin. Pemilih perempuan lebih memilih caleg yang memberikan jilbab, mukena, sembako atau uang tanpa tahu kalau nanti jadi anggota dewan caleg itu akan memperjuangkan kebijakan apa, dibandingkan dengan caleg yang menyampaikan kontrak politik tentang komitmen untuk perjuangan yang jelas.

Akibatnya, urai Sasa, caleg perempuan yang mumpuni tidak jadi. “Tapi caleg perempuan yang kemampuan intelektualnya terbatas, justru jadi, karena transaksi dengan uang maupun barang itu,” kata perempuan yang sempat menjadi caleg DPRD Jatim di dapil 7 itu.

Untuk menghindari perlakuan sekedar sebagai komoditas itu, imbuh Sasa, maka kaum perempuan mesti mendapat pendidikan politik tentang bagaimana membuat kontrak politik dengan calon yang akan dipilih. Ketika tidak ada komitmen politik antara caleg dengan pemilih perempuan, lanjut dia, maka setelah sang caleg jadi, tidak ada kekuatan politik untuk mendesak agar sang caleg memperjuangkan ide-ide kebijakan pro perempuan.

“Ini menjadi tugas bersama untuk melakukan pendidikan politik itu. Tidak hanya partai, tapi juga pemerintah, NGO, juga mahasiswa sebagai agen perubahan,” pungkasnya. (*)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Dengar Aspirasi Pemuda, Bupati Lukman Buka-bukaan Soal Strategi Pembangunan Daerah

BANGKALAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan terus membuka ruang dialog dengan berbagai elemen masyarakat ...
KRONIK

IMM Tagih Solusi Darurat Pendidikan Jember, DPRD Bidik 23 Ribu Anak Tak Sekolah

JEMBER – Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember menyelesaikan persoalan ...
LEGISLATIF

Fraksi PDIP Soroti APBD Kota Batu 2027, Dorong Kemandirian Fiskal dan Belanja Tepat Sasaran

BATU – Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Batu mendorong pemerintah kota memperkuat kemandirian fiskal dalam ...
KRONIK

Makanan Diantar ke Rumah Lansia Miskin Tiap Pagi, Rantang Kasih Terus Lanjut

BANYUWANGI – Setiap pagi, sekitar pukul 06.30 WIB, Elok Susanti datang mengantarkan makanan ke rumah Sahani (67), ...
EKSEKUTIF

Anggaran Surabaya 2027 Prioritaskan Pendidikan, Kesehatan, dan Penanganan Banjir

SURABAYA – Pemerintah Kota Surabaya memprioritaskan pendidikan, kesehatan, dan penanganan banjir dalam penyusunan ...
EKSEKUTIF

Hari Santri 2026, Rijanto Dorong Santri Blitar Kuasai Teknologi dan Ikut Membangun Daerah

BLITAR – Bupati Blitar Rijanto mendorong para santri menguasai ilmu agama sekaligus teknologi agar mampu mengambil ...