Selasa
08 September 2026 | 5 : 52

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Perempuan Punya Kekuatan Ajukan Kontrak Politik

pemilih perempuan

pemilih perempuanSURABAYA – Politisi PDI Perjuangan Diana AV Sasa mengatakan, pemilih perempuan memiliki kekuatan untuk mendesak wakilnya di legislatif dan eksekutif agar bisa melahirkan kebijakan pro perempuan melalui proses pemilu.

“Jumlah pemilih perempuan kan faktanya lebih besar dari pemilih laki-laki. Harusnya potensi ini bisa menjadi kekuatan bagi kelompok pemilih perempuan untuk membuat kontrak-kontrak politik dengan calon pemimpinnya melalui proses pemilihan atau pemilu itu,” kata Diana Sasa dalam seminar nasional bertajuk “Rakyat sebagai Komoditas Politik” di Bangsal Pantjasila, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Selasa (20/5/2014).

“Tapi realitasnya hal itu minim sekali dilakukan pemilih perempuan. Calon yang akan dipilih juga minim melakukan pendidikan kesadaran hak politik perempuan itu. Perempuan hanya menjadi sekadar komoditas politik, seperti barang yang diperjualbelikan,” tambah dia.

Komoditas, menurut Sasa, adalah barang dagangan, nilainya ditentukan oleh permintaan pasar. Pemilih perempuan, katanya, lebih banyak difungsikan sebagai pendulang suara dalam sebuah transaksi jual beli suara untuk meraih posisi politik sang kandidat.

Dia mencontohkan pemilu legislatif kemarin. Pemilih perempuan lebih memilih caleg yang memberikan jilbab, mukena, sembako atau uang tanpa tahu kalau nanti jadi anggota dewan caleg itu akan memperjuangkan kebijakan apa, dibandingkan dengan caleg yang menyampaikan kontrak politik tentang komitmen untuk perjuangan yang jelas.

Akibatnya, urai Sasa, caleg perempuan yang mumpuni tidak jadi. “Tapi caleg perempuan yang kemampuan intelektualnya terbatas, justru jadi, karena transaksi dengan uang maupun barang itu,” kata perempuan yang sempat menjadi caleg DPRD Jatim di dapil 7 itu.

Untuk menghindari perlakuan sekedar sebagai komoditas itu, imbuh Sasa, maka kaum perempuan mesti mendapat pendidikan politik tentang bagaimana membuat kontrak politik dengan calon yang akan dipilih. Ketika tidak ada komitmen politik antara caleg dengan pemilih perempuan, lanjut dia, maka setelah sang caleg jadi, tidak ada kekuatan politik untuk mendesak agar sang caleg memperjuangkan ide-ide kebijakan pro perempuan.

“Ini menjadi tugas bersama untuk melakukan pendidikan politik itu. Tidak hanya partai, tapi juga pemerintah, NGO, juga mahasiswa sebagai agen perubahan,” pungkasnya. (*)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

LEGISLATIF

Puan Dorong Satu Kepemimpinan Penanganan Bencana, Keselamatan Warga Jadi Prioritas

JAKARTA – Ketua DPR RI Puan Maharani mendorong pemerintah membangun satu kepemimpinan dalam penanganan bencana yang ...
LEGISLATIF

Buleks: Air Keruh Jangan Dibebankan ke Konsumen, Sumber Masalah Harus Dibuka Transparan

SURABAYA – Anggota Komisi B DPRD Kota Surabaya Budi Leksono atau Buleks meminta Perumda Air Minum Surya Sembada ...
LEGISLATIF

Tolak Utang Rp786 Miliar, Fraksi PDI-P Jember Tinggalkan Paripurna KUA-PPAS 2027

JEMBER – Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jember memilih tidak masuk ruang paripurna saat penandatanganan nota ...
KRONIK

Widarto Tolak Utang Rp786 Miliar, Warga Hadiahi Tumpeng

JEMBER – Sepotong tumpeng dibawa warga ke gedung DPRD Jember pada Senin (7/9/2026). Tumpeng tersebut untuk ...
LEGISLATIF

DPRD dan Pemkab Magetan Sepakati KUA-PPAS Perubahan 2026, Porsi Sektor Infrastruktur Terbesar

MAGETAN — Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Magetan bersama Pemerintah Kabupaten Magetan resmi ...
LEGISLATIF

Anggaran KONI Belum Jelas, DPRD Kota Blitar Desak Wali Kota Segera Bertindak

BLITAR – DPRD Kota Blitar mendesak Wali Kota segera mencarikan solusi atas persoalan anggaran KONI Kota Blitar. ...