Sabtu
29 Agustus 2026 | 11 : 29

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Secangkir Kopi, Ketela Rebus, dan Malam Panjang di Tengah Muktamar NU

pdip jatim 260829 tenda posko baguna 1

JOMBANG – Selepas waktu Isya, seorang pria paruh baya berjalan perlahan menuju sebuah tenda sederhana di sekitar Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Langkahnya berhenti di depan sebuah meja. Di atasnya ada dua termos besar. Uap hangat masih mengepul dari dalamnya.

Kopi dan teh.

Pria yang sehari-hari berjualan suvenir Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) itu mengambil gelas plastik. Tangannya kemudian memilih kopi.

“Mau merokok ndak enak kalau tidak sambil minum kopi,” ujarnya tersenyum.

Ia mengucapkan terima kasih kepada relawan, kemudian kembali berjalan menuju lapaknya.

Sederhana saja.

Secangkir kopi untuk menemani sebatang rokok, setelah seharian berdiri melayani pembeli di tengah keramaian Muktamar.

Tetapi malam itu, bukan hanya dia yang mampir.

Beberapa penggembira Muktamar melakukan hal serupa. Mengambil kopi atau teh, lalu duduk sejenak sebelum kembali ke keramaian.

Yang membuatnya sedikit berbeda, kopi dan teh itu ditemani camilan sederhana yang mungkin mengingatkan banyak orang pada dapur rumah: polopendem.

Ketela, mbote, dan kacang tanah.

Semuanya direbus.

Tidak ada makanan mewah. Hanya penganan sederhana yang hangat dan cukup untuk mengganjal perut sebelum kembali berjalan.

Posko itu adalah Posko Badan Penanggulangan Bencana (Baguna) PDI Perjuangan Jawa Timur.

***

Malam semakin larut.

Namun kawasan sekitar Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas belum juga benar-benar tidur.

Hingga tengah malam, lalu-lalang orang masih terlihat di jalan-jalan yang menjadi akses menuju lokasi sidang maupun tempat peristirahatan para muktamirin.

Ada yang baru selesai mengikuti agenda Muktamar.

Ada yang hendak kembali ke penginapan.

Ada pula penggembira yang masih menikmati suasana sekitar arena.

Lapak makanan dan minuman tetap ramai.

Pedagang suvenir Muktamar masih melayani pembeli.

Sebagian orang memilih berjalan-jalan.

Sebagian lainnya duduk bersama teman satu daerah, menikmati kopi sambil berbincang.

Ada pula yang memanfaatkan pertemuan itu untuk menyambung kembali silaturahmi dengan kolega Nahdliyin dari daerah lain.

Begitulah Muktamar NU.

Ajang lima tahunan itu tidak hanya berlangsung di ruang-ruang sidang.

Ia juga hidup di jalanan sekitar pesantren.

Di warung-warung kecil.

Di lapak pedagang.

Di antara gelas kopi.

Dan di obrolan panjang orang-orang yang datang dari berbagai penjuru negeri.

***

Waktu bergerak perlahan menuju dini hari.

Satu per satu orang mulai meninggalkan keramaian.

Tubuh yang sejak pagi bergerak mulai meminta istirahat.

Para muktamirin kembali ke tempat peristirahatan.

Para penggembira mulai mencari tempat untuk merebahkan badan.

Para pedagang pun perlahan membereskan dagangannya.

Tetapi bagi sebagian orang yang belum memiliki tempat nyaman untuk beristirahat, ada satu tempat yang masih terbuka.

Posko Baguna.

Karpet yang terbentang di dalam tenda sederhana itu berubah fungsi menjadi tempat merebahkan badan.

Tidak luas.

Namun cukup untuk sekadar meluruskan kaki dan mengistirahatkan punggung yang sejak pagi bekerja atau berjalan.

Di tengah hajatan sebesar Muktamar NU, kebutuhan semacam itu ternyata menjadi penting.

Bukan hanya tempat duduk.

Tetapi juga toilet.

Tempat ibadah.

Dan ruang kecil untuk menenangkan badan sebelum kembali beraktivitas.

Karena itu, Posko Baguna tidak hanya menyiapkan tenda.

Sejak pembukaan Muktamar hingga penutupan, mereka juga menyewa sebuah rumah warga yang lokasinya tidak jauh dari kawasan kegiatan.

Di rumah tersebut tersedia toilet yang dapat digunakan secara gratis.

Satu kamar juga disiapkan sebagai tempat salat.

“Sejak pembukaan Muktamar hingga penutupan nanti, kami sengaja menyewa satu rumah warga. Selain toilet gratis, ada satu kamar kami siapkan untuk salat,” kata Wakil Ketua Bidang Penanggulangan Bencana, Kesehatan, Perempuan dan Anak DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Rudi Afianto, Sabtu (29/8/2026).

Bagi Rudi, fasilitas tersebut mungkin terlihat sederhana.

Namun kebutuhan itu menjadi penting ketika ribuan orang datang ke satu kawasan dalam waktu bersamaan.

Apalagi mereka datang dari berbagai daerah dan sebagian harus menempuh perjalanan panjang.

Penggembira dan pedagang yang datang dari luar Jombang, kata Rudi, cukup terbantu dengan keberadaan posko tersebut.

“Alhamdulillah, mereka merasa terbantu dengan keberadaan Posko Baguna,” ujarnya.

***

Barangkali memang begitu cara sebuah hajatan besar bekerja.

Di panggung utama, ada pidato-pidato penting.

Di ruang sidang, ada pembahasan dan keputusan yang menentukan arah organisasi.

Di tengah ribuan muktamirin, ada agenda-agenda besar yang menjadi perhatian.

Tetapi di luar itu semua, ada cerita-cerita kecil yang sering luput dari perhatian.

Ada pedagang yang butuh kopi sebelum kembali membuka lapak.

Ada penggembira yang hanya ingin duduk dan melepas lelah.

Ada orang yang mencari toilet setelah perjalanan panjang.

Ada yang membutuhkan tempat untuk salat.

Ada tubuh-tubuh lelah yang hanya ingin merebahkan badan selama beberapa menit.

Dan malam itu, Posko Baguna menjadi salah satu tempat mereka berhenti.

Bukan tempat yang besar.

Bukan pula fasilitas yang mewah.

Hanya sebuah tenda, karpet, termos kopi dan teh, camilan rebusan, toilet, serta sebuah ruang kecil untuk beribadah.

Namun di tengah ribuan orang yang datang untuk menyukseskan Muktamar, hal-hal sederhana itu terasa cukup berarti.

Sebab setelah seharian berjalan, berdagang, bersidang, bersilaturahmi dan mengikuti berbagai kegiatan, kadang yang dibutuhkan seseorang memang tidak banyak.

Secangkir kopi.

Sepotong ketela rebus.

Tempat untuk duduk.

Lalu sedikit ruang untuk mengistirahatkan badan sebelum esok kembali berjalan.

Malam pun semakin sunyi.

Keramaian Tambakberas perlahan menyusut.

Satu per satu lampu lapak mulai padam.

Namun di sebuah tenda sederhana, termos kopi masih tersedia.

Menunggu siapa saja yang datang dan ingin berhenti sebentar.

Di situlah Muktamar terasa bukan hanya sebagai hajatan besar organisasi.

Tetapi juga sebagai perjalanan panjang manusia—yang sesekali membutuhkan secangkir kopi untuk terus melangkah… (goek)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Secangkir Kopi, Ketela Rebus, dan Malam Panjang di Tengah Muktamar NU

JOMBANG – Selepas waktu Isya, seorang pria paruh baya berjalan perlahan menuju sebuah tenda sederhana di sekitar ...
EKSEKUTIF

Jelang Hari Jadi ke-832, Mas Ipin Jadikan Jalan Mulus Kado untuk Warga Trenggalek

TRENGGALEK – Menjelang Hari Jadi ke-832 Kabupaten Trenggalek, Bupati M. Nur Arifin menunjukkan komitmen melanjutkan ...
KABAR CABANG

DPC Tulungagung Pompa Semangat Ranting dan Anak Ranting se-Kecamatan Kota, Minta Pemilu 2029 Menang Tebal

TULUNGAGUNG – Pengurus Ranting dan Anak Ranting PDI Perjuangan se-Kecamatan Kota Tulungagung masa bakti 2026-2031 ...
KRONIK

Kementerian PU Hibahkan SPAM Tangkel ke Pemkab Bangkalan, Bupati Lukman: Jadi Pengungkit Investasi

BANGKALAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan mendapat tambahan aset strategis untuk memperkuat pelayanan ...
KRONIK

Data Desil Bermasalah, DPRD Bondowoso Soroti Ancaman Bantuan Warga Terputus

BONDOWOSO – Perubahan data desil warga di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, berpotensi membuat penerima bantuan ...
KRONIK

Monev Komisi B DPRD Jember di PT MDR Buntu, Data Stok dan Harga Tembakau Masih Misteri

JEMBER – Monitoring dan evaluasi Komisi B DPRD Jember ke PT Mangli Djaya Raya (MDR), Jumat (28/8/2026), belum ...