Sabtu
22 Agustus 2026 | 11 : 40

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Mbah No, Pemulung 73 Tahun yang Berdiri Tegak di Tengah Rongsokan Saat Merah Putih Diturunkan

pdip jatim 260822 mbah no bwi

BANYUWANGI – Karung berisi rongsokan masih berada di samping tubuhnya.

Pakaian yang dikenakannya juga jauh dari kesan istimewa. Lusuh, sederhana, dan barangkali telah berkali-kali terkena debu jalanan serta keringat saat mengais barang bekas.

Tetapi ketika bendera Merah Putih mulai diturunkan, Suwarno memilih berhenti.

Lelaki 73 tahun yang akrab disapa Mbah No itu berdiri tegak.

Tangannya memberi hormat.

Matanya tertuju kepada Sang Saka.

Di hadapannya berlangsung upacara penurunan bendera dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Lapangan Untung Suropati, Banyuwangi.

Mbah No tidak datang sebagai peserta upacara. Ia sedang menjalankan pekerjaan sehari-hari sebagai pemulung.

Namun sore itu, rongsokan yang sedang dikumpulkannya seakan berhenti sejenak.

Ada sesuatu yang jauh lebih penting untuk dihormati.

Merah Putih.

Momen sederhana tersebut terekam dalam video dan kemudian menyebar di media sosial. Banyak orang tersentuh melihat seorang pemulung tua, dengan pakaian sederhana dan karung rongsokan di sampingnya, berdiri memberikan penghormatan ketika bendera negaranya diturunkan.

Video itulah yang kemudian menarik perhatian DPD PDI Perjuangan Jawa Timur.

Bagi mereka, apa yang dilakukan Mbah No bukan sekadar spontanitas.

Ada sesuatu yang lebih dalam: nasionalisme yang muncul tanpa panggung, tanpa undangan dan tanpa tepuk tangan.

Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur MH Said Abdullah pun memberikan tali asih sebagai bentuk apresiasi atas sikap Mbah No.

Bantuan tersebut disampaikan melalui utusan DPD PDI Perjuangan Jatim, Ilham dan Ahmadi Nur Panji atau Gus Mayor. Penyerahan berlangsung di kediaman Mbah No di Desa Tambakrejo, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, Jumat (21/8/2026), didampingi Kepala Desa Tambakrejo Alfen Efendi.

Tetapi pertemuan itu kemudian membuka cerita yang lebih panjang tentang Mbah No.

Di balik sosok lelaki tua yang setiap hari mengais barang bekas, ternyata ada perjalanan panjang bersama politik kebangsaan.

Mbah No mengaku sudah menjadi simpatisan PNI dan kemudian PDI sejak masih muda.

Ia mengaku mengikuti ajaran dan pemikiran Bung Karno.

Dengan gaya bicaranya yang sederhana, Mbah No bahkan melontarkan sebuah kalimat yang menggambarkan bagaimana ia menempatkan dirinya.

“Sampek gepeng melu Banteng!” ucapnya.

Sebuah kalimat pendek.

Namun dari mulut seorang pemulung tua, kalimat itu seperti membawa cerita panjang tentang kesetiaan yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Mbah No mungkin tidak memiliki banyak harta.

Hari-harinya dihabiskan mencari barang bekas. Karung menjadi teman perjalanan. Rongsokan yang bagi sebagian orang tidak lagi memiliki nilai, justru menjadi sumber penghidupan baginya.

Namun ketika berhadapan dengan Merah Putih, status sosial seperti tidak lagi memiliki arti.

Ia hanya seorang warga negara.

Dan sebagai warga negara, ia menunjukkan penghormatan kepada simbol negaranya.

“Ini bukti bahwa nasionalisme tidak memandang status sosial. Dari seorang pemulung kita belajar apa arti cinta tanah air yang sesungguhnya,” ujar Gus Ilham, menirukan pernyataan Martin Hamonangan, Wakil Ketua Bidang Advokasi dan Hukum DPD PDI Perjuangan Jatim.

Barangkali itulah yang membuat video Mbah No terasa berbeda.

Ia tidak sedang berbicara tentang nasionalisme.

Ia tidak sedang berdiri di atas podium.

Ia tidak sedang mengenakan seragam upacara.

Ia bahkan mungkin tidak menyadari bahwa tindakannya akan direkam dan dilihat banyak orang.

Ia hanya melakukan apa yang menurutnya pantas dilakukan ketika Merah Putih diturunkan.

Berdiri.

Menghormat.

Dan kemudian kembali kepada pekerjaannya.

Di situlah kisah Mbah No menjadi cermin kecil tentang Indonesia.

Bahwa cinta tanah air tidak selalu hadir dalam bentuk pidato panjang.

Tidak selalu hadir dalam upacara megah.

Tidak pula selalu datang dari mereka yang mengenakan pakaian rapi dan berdiri di barisan kehormatan.

Kadang ia muncul dari pinggir lapangan.

Dari seseorang yang sedang mengais barang bekas.

Dari tangan yang setiap hari bersentuhan dengan logam tua, kardus, botol plastik dan berbagai barang yang sudah dibuang orang lain.

Penghasilannya mungkin hanya cukup untuk menyambung hidup.

Tetapi penghormatannya kepada Merah Putih tidak bisa diukur dengan rupiah.

Menurut Ilham, apa yang dilakukan Mbah No semestinya menjadi bahan perenungan bagi masyarakat yang hidup dalam keadaan jauh lebih beruntung.

“Sebagai pemulung, penghasilan Mbah No mungkin hanya cukup untuk menyambung hidup saja. Tapi apa yang telah beliau lakukan kemarin merupakan tamparan keras untuk kita semua, yang terkadang acuh terhadap nilai nasionalisme,” ujarnya.

Ada ironi yang sekaligus menghangatkan dalam kisah itu.

Mbah No setiap hari mengumpulkan barang-barang yang dianggap tidak lagi berguna.

Namun pada hari kemerdekaan, justru dirinya yang mengingatkan banyak orang tentang sesuatu yang sering kali mulai dianggap biasa: menghormati Merah Putih.

Seragamnya mungkin lusuh.

Karungnya mungkin penuh dengan barang bekas.

Tangannya mungkin kasar karena bertahun-tahun bekerja.

Tetapi ketika Sang Saka diturunkan, ia berdiri tegak.

Tidak peduli siapa yang melihat.

Tidak peduli apakah ada kamera.

Tidak peduli apakah namanya akan dikenal.

Barangkali karena bagi Mbah No, penghormatan kepada Merah Putih bukan pertunjukan.

Ia adalah keyakinan.

Dan keyakinan itu telah tumbuh jauh sebelum video berdurasi pendek membuat sosoknya dikenal banyak orang.

Di usianya yang ke-73, Mbah No mungkin masih harus kembali mengais rongsokan esok hari.

Kembali memikul karung.

Kembali menyusuri jalan.

Kembali mengumpulkan benda-benda bekas demi menyambung kehidupan.

Tetapi kisahnya telah meninggalkan sesuatu yang lebih berharga daripada barang rongsokan yang dikumpulkannya.

Sebuah pengingat.

Bahwa nasionalisme tidak mengenal kaya atau miskin.

Tidak mengenal jabatan.

Tidak mengenal pakaian.

Dan tidak mengenal panggung.

Kadang-kadang, cinta kepada negeri justru terlihat paling jernih dari mereka yang hidup dalam kesederhanaan.

Mbah No mengajarkan itu tanpa banyak kata.

Ia hanya berdiri.

Lalu memberi hormat.

Di hadapan Merah Putih.

Dan setelah Sang Saka benar-benar turun, mungkin ia kembali mengangkat karungnya.

Membawa pulang rongsokan yang akan menjadi rupiah.

Namun hari itu, tanpa disadarinya, Mbah No telah membawa pulang sesuatu yang jauh lebih berharga: sebuah pengingat bahwa kemerdekaan dan nasionalisme masih hidup di tempat-tempat yang sering tidak kita lihat. (goek)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Kecam Kasus Asusila di Pamekasan, Hj. Ansari PDIP Desak Korban Dikawal hingga Pulih

PAMEKASAN – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI, Hj. Ansari, mengecam keras kasus dugaan kekerasan seksual ...
KRONIK

Mbah No, Pemulung 73 Tahun yang Berdiri Tegak di Tengah Rongsokan Saat Merah Putih Diturunkan

BANYUWANGI – Karung berisi rongsokan masih berada di samping tubuhnya. Pakaian yang dikenakannya juga jauh dari ...
MILANGKORI

Meteri Bumi di Kedungdowo, Ketika Trenggalek Menyapa Alam Menjelang Usia 832 Tahun

TRENGGALEK – Pagi di sumber air Kedungdowo, Dusun Bendogolor, Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul, Trenggalek, Jumat ...
HEADLINE

PDI Perjuangan Jatim Pastikan Penutupan Soekarno Cup 2026 di GBT Tetap Meriah

SURABAYA – DPD PDI Perjuangan Jawa Timur memastikan penutupan Soekarno Cup 2026 di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), ...
OLAHRAGA

Manajer Banteng Jatim Minta VAR Dioptimalkan, Evaluasi Tanpa Persoalkan Hasil

SURABAYA – Manajer Banteng Jatim FC Didik Prasetiyono meminta penggunaan Video Assistant Referee (VAR) di Soekarno ...
OLAHRAGA

Gol 23 Detik Bawa Banteng Bali ke Final Soekarno Cup 2026

SURABAYA – Gol cepat I Putu Kenzie Radhitya membawa Bali mengalahkan Banteng Jatim dengan kemenangan tipis 1-0 pada ...