Oleh Diana Sasa*
INGGRIS sudah merasa cukup. Mereka unggul 1–0. Anthony Gordon mencetak gol pada menit ke-55. Waktu terus bergerak. Tinggal sedikit lagi. Final seperti sudah terlihat dari kejauhan.
Lalu Argentina datang seperti gelombang yang lupa cara surut. Babak kedua berubah menjadi pengepungan. Bola lebih sering berputar di sekitar kotak penalti Inggris. Satu serangan dipatahkan, datang serangan berikutnya. Dari kiri. Dari kanan. Dari tengah. Inggris tidak lagi sedang memburu gol kedua. Mereka sedang berusaha menyelamatkan diri.
Argentina tidak memberi ampun. Ada Messi yang terus mencari celah. Ada Alexis Mac Allister dan Enzo Fernández yang menjaga denyut permainan.
Para pemain Argentina menyerbu seakan pertandingan itu tidak boleh selesai sebelum sejarah memberikan jawaban. Mungkin begitulah kesumat bekerja.
Ia tidak selalu hadir sebagai amarah yang gaduh. Kadang ia menyamar menjadi kesabaran. Menjadi umpan pendek. Menjadi penguasaan bola. Menjadi tekanan yang dilakukan berulang-ulang hingga lawan kehilangan udara.
Argentina dan Inggris memang tidak pernah sekadar dua kesebelasan. Di antara keduanya ada Perang Malvinas. Ada luka 1982. Ada Diego Maradona dan “Tangan Tuhan” pada 1986. Ada gol abad ini. Ada kemenangan yang selama puluhan tahun diperdebatkan sebagai sepak bola, politik, pembalasan, atau seluruhnya sekaligus.
Empat puluh tahun setelah Maradona, Argentina kembali mengejar Inggris. Kali ini tidak dengan tangan. Dengan kaki-kaki yang terus berlari. Enzo Fernández akhirnya menyamakan skor pada menit ke-85. Gol itu bukan akhir dari serangan. Justru seperti pintu yang baru dibuka.
Inggris mulai menunggu babak perpanjangan waktu. Mungkin mereka berharap bisa beristirahat. Mengatur napas. Menata pertahanan. Memulai pertandingan baru selama 30 menit.
Argentina tidak mengizinkannya. Menit ke-92 datang. Messi melihat ruang yang mungkin tidak dilihat orang lain. Bola bergerak. Lautaro Martínez menyelesaikannya. 2-1.
Tidak ada perpanjangan waktu. Tidak ada adu penalti. Tidak ada kesempatan kedua bagi Inggris. Peluit akhir kemudian terdengar seperti palu sejarah. Argentina ke final.
Saya melihat kemenangan itu sebagai pelajaran tentang cara menghadapi keadaan ketika tertinggal. Argentina tidak panik. Tidak mengubah pertandingan menjadi permainan serampangan. Mereka justru memperkuat tekanan, mempercepat sirkulasi bola, dan memaksa Inggris mundur semakin dalam.
Begitulah tim yang matang bekerja. Mereka tahu bahwa ketertinggalan bukan alasan untuk kehilangan pikiran. Mereka juga tahu bahwa strategi tidak boleh ditinggalkan hanya karena waktu semakin sempit.
Lionel Scaloni berhasil membangun sebuah tim yang tetap memiliki Messi, tetapi tidak mati tanpa keajaiban Messi. Ada Enzo. Ada Mac Allister. Ada Julián Álvarez. Ada Lautaro. Generasi baru itu tidak berjalan di belakang sang legenda. Mereka berjalan bersamanya.
Itulah regenerasi yang sesungguhnya. Yang tua tidak disingkirkan. Yang muda tidak sekadar dipajang. Pengalaman dan tenaga dipertemukan dalam satu tujuan.
Kini Argentina akan menghadapi Spanyol di final. Messi sudah berusia 39 tahun. Ini sangat mungkin menjadi pertandingan terakhirnya di Piala Dunia. Ia tinggal selangkah dari penutup yang nyaris terlalu sempurna untuk dipercaya.
Saya tetap menjagokan Argentina. Bukan hanya karena Messi. Saya menjagokan mereka karena malam itu Argentina menunjukkan bahwa kemenangan tidak selalu datang kepada mereka yang unggul lebih dahulu.
Kemenangan datang kepada mereka yang tidak kehilangan kepala ketika tertinggal. Kepada mereka yang terus menyerang. Kepada mereka yang percaya bahwa bahkan pada menit ke-92, sejarah masih bisa diubah.
*Diana Sasa, anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, dan Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Magetan.
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS












