Puluhan anak muda memadati pra-event Soekarno Fun Run 2026 di Jember. Bukan sekadar olahraga, lari kini menjadi ruang kebersamaan, gaya hidup sehat, dan energi positif generasi muda.
JEMBER — Sabtu pagi itu, matahari bahkan belum sepenuhnya tinggi ketika kawasan Puncak Semeru mulai berdenyut lebih cepat dari biasanya.
Udara masih segar. Angin tipis berembus di sela pepohonan. Namun suasana tenang khas akhir pekan perlahan berubah menjadi lebih hidup.
Dentuman musik dari disko joki (DJ) Diki Hartono mengalun dari sudut area kegiatan. Iramanya bergulung bersama tawa dan obrolan para peserta yang terus berdatangan.
Mereka bukan sedang menunggu konser.
Bukan pula hendak mengikuti festival musik.
Pagi itu, puluhan anak muda datang dengan satu tujuan yang sama: berlari.
Sejak subuh, halaman Cafe Poppins yang menjadi titik start dan finish sudah dipenuhi wajah-wajah segar dari komunitas pacesweatculture (PSC), komunitas lari yang dalam dua tahun terakhir menjadi salah satu ruang pertemuan anak muda di Jember.
Kaos olahraga berwarna-warni, sepatu lari yang masih bersih, botol minum yang tergantung di pinggang, hingga senyum penuh semangat menjadi pemandangan yang mendominasi pagi itu.
Di barisan depan, sejumlah pelari perempuan tampak mengambil posisi.
Mereka bersiap mengikuti irama langkah yang dipandu pacer Ainul Yaqin.
Ketika hitungan dimulai, kerumunan itu perlahan bergerak.
Lalu berlari.
Meninggalkan titik start dan menyusuri jalanan kota yang masih relatif lengang.
Rute sejauh 4,8 kilometer membawa mereka melintasi Jalan Semeru, memotong Jalan Karimata, menyusuri Jalan Jawa, hingga mencapai titik water station di kawasan bundaran Universitas Jember, sebelum akhirnya kembali ke garis akhir.
Bagi sebagian orang, jarak itu mungkin tidak terlalu jauh.
Namun bagi mereka yang ikut berlari pagi itu, yang dicari bukan semata-mata angka kilometer.
Ada sesuatu yang lebih penting.

Kebersamaan.
Energi positif.
Dan perasaan bahwa mereka sedang menjadi bagian dari sebuah gerakan yang lebih besar.
Sesekali terdengar teriakan penyemangat dari peserta lain.
Ada yang berlari santai sambil bercanda.
Ada yang serius mengejar catatan waktu terbaik.
Ada pula yang sesekali berhenti untuk mengabadikan momen dengan telepon genggamnya.
Tidak ada persaingan yang terasa kaku.
Yang tampak justru suasana akrab, seperti sekelompok sahabat yang sedang menikmati pagi bersama.
Ketika para pelari mulai kembali ke garis akhir, wajah-wajah lelah bercampur bahagia terlihat di mana-mana.
Keringat mengalir.
Napas masih memburu.
Namun senyum tidak hilang dari wajah mereka.
Panitia kemudian membagikan berbagai doorprize dari sponsor yang mendukung kegiatan tersebut, hasil kolaborasi antara PSC dan komunitas Assikroom.
Suasana semakin cair.
Tawa pecah di berbagai sudut.
Sebagian peserta duduk bersantai menikmati minuman.
Sebagian lain kembali berbincang sembari membahas pengalaman sepanjang rute.

Ketua Panitia Soekarno Fun Run 2026, Aditya Kevin Prananda, mengaku bersyukur melihat tingginya antusiasme peserta yang hadir.
Baginya, pemandangan anak-anak muda yang memenuhi jalanan kota dengan energi positif menjadi pertanda bahwa budaya hidup sehat mulai menemukan tempatnya sendiri di tengah generasi muda.
“Ini menunjukkan bahwa lari bukan lagi sekadar kebutuhan kesehatan. Aktivitas ini telah bergeser menjadi gaya hidup kaum urban,” ujarnya.
Pernyataan itu terasa sulit dibantah.
Sebab pagi itu, yang terlihat bukan sekadar orang berolahraga.
Lari telah menjelma menjadi ruang sosial baru.
Tempat orang bertemu.
Membangun pertemanan.
Melepas penat.
Dan menemukan versi terbaik dari dirinya sendiri.
Hal senada disampaikan Ayu Fitriananda yang menjadi penanggung jawab pelaksanaan kegiatan.
Menurutnya, keterlibatan generasi muda dalam kegiatan semacam ini merupakan investasi sosial yang penting bagi masa depan.
Karena itu, kegiatan tersebut sengaja dirancang sebagai ruang yang nyaman bagi Gen-Z dan milenial untuk menyalurkan energi positif sekaligus membangun kesadaran terhadap gaya hidup sehat dan lingkungan.
“Acara ini sengaja kami rancang untuk mewadahi Gen-Z dan milenial sebagai bentuk dukungan terhadap gaya hidup sehat sekaligus kampanye cinta lingkungan,” katanya.
Pra-event ini memang hanya pemanasan menuju Soekarno Fun Run 2026 yang akan digelar pada 14 Juni mendatang.
Namun dari pagi yang sederhana itu, satu hal terlihat jelas.
Anak-anak muda Jember sedang bergerak.
Bukan hanya bergerak menempuh kilometer demi kilometer.
Tetapi juga bergerak menuju kebiasaan hidup yang lebih sehat, lebih peduli, dan lebih positif.
Dan di tengah dentuman musik, langkah kaki yang berirama, serta semangat yang menular dari satu peserta ke peserta lain, jalanan Jember pagi itu seolah sedang bercerita:
bahwa perubahan besar kadang dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan bersama-sama. (art/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










