Krisis sampah Jember capai 1.300 ton/hari. Anggota DPRD Jember Tabroni desak Pemkab bangun edukasi sampah dari tingkat rumah tangga belajar dari TPST BLE Banyumas.
JEMBER – Anggota Komisi A DPRD Jember, Tabroni, mendorong Pemerintah Kabupaten Jember untuk mulai membangun edukasi pengelolaan sampah sejak tingkat rumah tangga dan melibatkan seluruh elemen masyarakat. Masalah menahun ini dinilai tidak akan pernah selesai jika hanya mengandalkan pemerintah daerah tanpa adanya gerakan dari hulu.
Hal itu dia tegaskan usai melakukan studi banding bersama jajaran komisi ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Berbasis Lingkungan dan Edukasi (TPST BLE) di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Kunjungan ini menjadi upaya legislatif mencari cetak biru (blueprint) solusi atas sengkarut sampah Jember yang hingga kini belum tertangani maksimal.
”TPST BLE Banyumas ini menjadi salah satu lokasi dengan penilaian terbaik tingkat nasional dalam pengelolaan sampah. Kunjungan kami tidak hanya mempelajari proses pengolahan, tetapi juga pola pemberdayaan masyarakat hingga sampah memiliki nilai ekonomi,” ujar Tabroni, Jumat (22/5/2026).
Politisi PDI Perjuangan ini menceritakan bagaimana Banyumas membangun sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat sejak 2017 melalui Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Kuncinya ada pada konsistensi edukasi pemilahan sampah organik, anorganik, hingga limbah B3 langsung dari dapur warga.
Setelah dipilah di tingkat rumah tangga, sampah dikelola oleh KSM desa menggunakan alat pengolahan mandiri. Alhasil, hanya menyisakan residu untuk dikirim ke TPST BLE.

”Residu yang sudah diolah disana bisa menjadi bahan bakar alternatif untuk industri, bahkan diolah menjadi paving dan produk lainnya,” jelas legislator PDI Perjuangan dari Dapil IV Jember tersebut.
Kondisi di Banyumas berbanding terbalik dengan realita di Jember. Saat ini, volume sampah di Jember menembus angka 1.000 hingga 1.300 ton per hari. Celakanya, kapasitas tampung TPA Jember hanya berkisar antara 300 hingga 400 ton per hari.
Akibat ketimpangan yang lebar ini, mayoritas sampah di Jember masih ditangani dengan sistem konvensional yang usang. ”Kalau melihat kondisi TPA kita sekarang, sampah hanya ditumpuk dengan sistem open dumping tanpa pengelolaan optimal, sehingga dampaknya sangat besar,” ujar Tabroni.
Berkaca dari sana, Tabroni mengingatkan Pemkab Jember bahwa persoalan ini tidak bisa diselesaikan sepihak. Harus ada orkestrasi yang melibatkan seluruh instrumen masyarakat.
”Edukasi harus dilakukan melalui semua instrumen dan melibatkan seluruh pihak. Kami mendorong pembentukan KSM maupun bank sampah di tingkat desa dan kecamatan, sehingga yang masuk ke TPA hanya residunya saja,” tambahnya.
Meski untuk merintis sistem ini memakan waktu yang tidak instan, Tabroni optimistis volume sampah Jember bisa dipangkas secara bertahap jika didukung investasi alat pengolahan dan komitmen warga.
”Kalau dilakukan bertahap, sampah ke depan bukan hanya menjadi masalah lingkungan, tetapi juga bisa menciptakan perputaran ekonomi bagi masyarakat,” pungkasnya. (art/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










