Selasa
20 Oktober 2026 | 9 : 09

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Politik, Seminar Motivasi, dan Kegelisahan Anak-anak Muda Bondowoso tentang Sampah Desa

pdip jatim 260520 dani bondowoso 2

Anak muda Bondowoso mulai bergerak lewat politik dan edukasi sosial untuk membangkitkan semangat generasi muda desa.

BONDOWOSO — Sore itu, suasana Kecamatan Wonosari, Kabupaten Bondowoso masih ramai oleh lalu-lalang warga desa yang pulang dari ladang.

Di tengah kehidupan desa yang berjalan seperti biasa, Muhammad Dani justru sedang memikirkan sesuatu yang lebih besar: bagaimana membuat anak-anak muda di kampungnya kembali punya semangat untuk bergerak.

Bagi pemuda 22 tahun asal Wonosari itu, persoalan generasi muda hari ini bukan sekadar soal sulitnya pekerjaan atau ekonomi keluarga yang pas-pasan.

Ada masalah lain yang menurutnya jauh lebih mengkhawatirkan: hilangnya energi positif di kalangan pemuda desa.

“Sekarang banyak anak muda yang bingung mau melakukan apa. Ruang kegiatan positif juga masih minim,” ujar Dani, Rabu (20/5/2026).

Keresahan itulah yang akhirnya mendorong Dani memilih aktif di politik melalui PDI Perjuangan.

Bukan sekadar ingin masuk struktur organisasi, tetapi karena ia merasa politik seharusnya bisa menjadi jalan untuk menggerakkan perubahan sosial di lingkungan sekitar.

Usai ditetapkan sebagai Ketua PAC PDI Perjuangan Kecamatan Wonosari, Dani mulai menyusun gagasan sederhana yang menurutnya dekat dengan kehidupan anak muda desa: seminar motivasi dan pendidikan nonformal.

Ia ingin anak-anak muda di Wonosari memiliki ruang untuk bertemu, berdiskusi, dan membangun semangat baru.

“Dengan seminar motivasi itu, tujuannya agar anak muda terdorong melakukan aktivitas positif dan lebih aktif dalam kegiatan produktif,” katanya.

Bagi Dani, keterlibatan generasi muda dalam politik tidak boleh berhenti hanya saat musim pemilu atau sekadar hadir di kegiatan seremonial partai.

Menurutnya, kader muda harus benar-benar hadir di tengah masyarakat dan menjadi penggerak perubahan sosial.

Ia percaya anak muda memiliki energi besar untuk mengubah lingkungan jika diberi ruang dan arah yang tepat.

“Kalau anak muda hanya datang saat pemilu, itu tidak cukup. Harus ada kegiatan nyata yang bisa dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Pandangan serupa juga disampaikan Riadatus Sholehah. Perempuan 26 tahun yang akrab disapa Ria itu menilai kolaborasi kader muda menjadi kekuatan penting dalam membangun komunikasi politik yang lebih dekat dengan masyarakat.

Menurutnya, generasi Z memiliki cara komunikasi yang lebih terbuka dan mudah diterima di lingkungan sosial saat ini.

“Keterlibatan Gen-Z akan semakin kuat ketika mampu mengomunikasikan isu-isu sosial secara baik kepada masyarakat,” kata Ria.

Namun keresahan Ria tidak berhenti pada isu kepemudaan semata. Ia juga menyoroti persoalan sampah di lingkungan masyarakat yang menurutnya semakin terlihat, tetapi belum tertangani maksimal.

Di beberapa titik desa, tumpukan sampah rumah tangga masih mudah ditemukan. Kebiasaan membuang sampah sembarangan juga masih terjadi.

Menurut Ria, persoalan itu bukan semata soal fasilitas, tetapi juga tentang rendahnya kesadaran masyarakat menjaga lingkungan.

“Kita harus aktif mengajak warga lebih peduli terhadap lingkungan. Kesadaran menjaga lingkungan harus mulai dibangun dari sekarang,” ujarnya.

Karena itu, ia bersama kader muda lainnya mulai menggagas edukasi lingkungan sederhana yang menyasar generasi milenial dan Gen-Z.

Bagi mereka, politik bukan hanya bicara perebutan kekuasaan.

Tapi juga tentang bagaimana mengajak masyarakat menjaga lingkungan,

tentang membangun kesadaran sosial,

hingga tentang menciptakan ruang positif bagi anak muda desa.

Di tengah banyak anak muda desa yang memilih merantau ke kota besar, Dani dan Ria justru memilih tetap tinggal dan bergerak dari lingkungan kecil mereka sendiri.

Mereka sadar perubahan besar mungkin tidak datang dalam semalam.

Tetapi bagi mereka, membangkitkan semangat satu-dua anak muda untuk mulai bergerak sudah menjadi langkah penting.

Di Bondowoso, di antara jalan-jalan desa dan persoalan sampah yang masih berserakan, anak-anak muda itu sedang mencoba menyalakan harapan kecil tentang perubahan.

Dan bagi mereka, politik hanyalah salah satu jalannya. (art/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Gandeng Kementerian Kehutanan, Sonny Edukasi Warga Cegah Kebakaran Hutan

SITUBONDO – Anggota Komisi IV DPR RI, Sonny T. Danaparamita, mendorong keterlibatan masyarakat sekitar kawasan ...
KABAR CABANG

PAC PDI Perjuangan Kalianget Gelar Lomba Layangan Tenong, Hadiah Mobil dan Paket Umrah

SUMENEP – Pimpinan Anak Cabang (PAC) PDI Perjuangan Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep, sukses menggelar lomba ...
LEGISLATIF

RAPBD Jember Rp 5,5 Triliun Belum Dibahas, Widarto Soroti Ketidaksiapan Pemkab

JEMBER – Pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Kabupaten Jember 2027 belum dimulai ...
KRONIK

Festival Anak Sholeh, Ikhtiar Cetak Generasi Berprestasi dan Berakhlak Mulia

BANYUWANGI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi berikhtiar membentuk generasi muda yang tidak hanya ...
KRONIK

Perda Lingkungan Jember Terancam Jadi Macan Kertas, Candra Desak Anggaran Perlindungan Gumuk

JEMBER – Perlindungan gumuk di Kabupaten Jember tak cukup berhenti pada pengesahan peraturan daerah. Ketua Komisi B ...
KABAR CABANG

DPC Magetan Panaskan Mesin Hingga Akar Rumput, Lantik 1.645 Pengurus Ranting

MAGETAN – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Magetan terus mengintensifkan konsolidasi organisasi ...