Sabtu
18 Juli 2026 | 12 : 54

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Di Tengah Konsolidasi Politik, Panggung Budaya dan Semangat Inklusif Hangatkan Pelantikan PAC PDIP Kota Madiun

pdip jatim 260517 atraksi silat 2

Atraksi pencak silat dan tari difabel memeriahkan pelantikan PAC PDIP Kota Madiun, menghadirkan nuansa budaya dan inklusivitas.

MADIUN — Tepuk tangan bergemuruh memenuhi Aula DPC PDI Perjuangan Kota Madiun, Minggu siang (17/5/2026).

Bukan ketika prosesi pelantikan dimulai.

Melainkan saat derap langkah para pesilat muda memecah suasana dengan gerakan-gerakan penuh ketangkasan di tengah arena.

Di hadapan ratusan kader dan tamu undangan, atraksi pencak silat tampil bukan sekadar hiburan pembuka.

Ia hadir sebagai simbol semangat, disiplin, dan persaudaraan yang selama ini lekat dengan kultur masyarakat Madiun.

Baca juga: PDIP Kota Madiun Target Kembalikan Suara Hilang untuk Dongkrak Kursi DPRD di 2029

Suasana pelantikan Pengurus Anak Cabang (PAC) PDI Perjuangan se-Kota Madiun pun terasa berbeda. Tidak kaku seperti agenda organisasi pada umumnya.

Ada nuansa budaya, semangat kebersamaan, sekaligus rasa haru yang menyatu dalam satu panggung.

Pencak Silat dan Semangat Persaudaraan

Atraksi para pendekar muda menjadi pusat perhatian sepanjang acara.

Gerakan cepat, kombinasi jurus, hingga atraksi berpasangan beberapa kali memancing tepuk tangan meriah dari peserta pelantikan.

Sebagian kader bahkan tampak berdiri untuk merekam penampilan para pesilat menggunakan telepon genggam mereka.

Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Madiun, Sutardi, mengatakan pencak silat sengaja dihadirkan sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya lokal yang tumbuh kuat di Madiun.

Menurutnya, pencak silat bukan hanya seni bela diri.

Lebih dari itu, ia adalah simbol persaudaraan dan kekompakan masyarakat.

“Pencak silat menjadi bagian budaya yang harus terus dijaga. Semangat persaudaraan dan kekompakan para pesilat juga harus menjadi semangat kader partai,” ujarnya.

Di Kota Madiun dan wilayah Mataraman, pencak silat memang bukan sekadar pertunjukan.

Ia hidup di tengah masyarakat sebagai identitas sosial dan budaya yang diwariskan lintas generasi.

Saat Tari Difabel Membuat Aula Hening

Namun suasana paling menyentuh justru hadir ketika kelompok difabel dari Yayasan Mutiara Hati Kota Madiun tampil membawakan Tari Nawang Sekar.

Dengan balutan busana tradisional, para penari tuna rungu bergerak perlahan mengikuti irama musik yang bahkan tidak mereka dengar secara langsung.

Gerakan tangan yang selaras, langkah kaki yang rapi, serta ekspresi penuh penghayatan membuat aula perlahan hening.

Beberapa tamu undangan terlihat berkaca-kaca.

Tepuk tangan panjang kemudian pecah begitu tarian usai dibawakan.

Wakil Ketua Bidang Keanggotaan dan Organisasi DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Budi Sulistyono atau yang akrab disapa Kanang, mengaku kagum dengan penampilan tersebut.

“Saya benar-benar kagum. Mereka tidak mendengar musik pengiring karena tuna rungu, tetapi gerakannya tetap pas dan sesuai irama. Ini luar biasa,” ujarnya.

Kekaguman itu terasa wajar.

Sebab di tengah hiruk pikuk agenda politik dan konsolidasi partai, penampilan para penari difabel justru menghadirkan pesan paling sederhana: keterbatasan bukan alasan berhenti berkarya.

Politik yang Ingin Dekat dengan Budaya

Pelantikan PAC kali ini memang bukan hanya soal penguatan struktur partai hingga tingkat kecamatan.

Ada upaya menghadirkan wajah politik yang lebih dekat dengan budaya dan masyarakat.

Pertunjukan tari tradisional, pencak silat, hingga keterlibatan kelompok difabel seolah menjadi penegas bahwa ruang politik juga bisa menjadi ruang apresiasi kebudayaan dan inklusivitas.

Di sela prosesi pelantikan, para calon pengurus PAC dari tiga kecamatan di Kota Madiun tampak mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan penuh antusias.

Nuansa merah khas partai berpadu dengan atmosfer budaya lokal yang terasa hangat sepanjang acara.

Bagi sebagian kader senior, suasana seperti itu mengingatkan kembali bahwa politik akar rumput selalu lahir dari kedekatan dengan masyarakat dan budaya sehari-hari.

Dan di Aula DPC PDI Perjuangan Kota Madiun siang itu, politik tampak tidak hanya berbicara soal struktur organisasi atau agenda pemilu.

Tetapi juga tentang bagaimana budaya, persaudaraan, dan rasa kemanusiaan tetap mendapat tempat di tengah konsolidasi partai. (ahm/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

HEADLINE

Panitia Bidik Soekarno Cup 2026 Jadi Turnamen Berstandar Nasional

Panitia Soekarno Cup 2026 optimistis turnamen sepak bola usia muda ini menjadi kompetisi berstandar nasional ...
LEGISLATIF

Lengkap, Ini Pandangan Umum Fraksi PDIP DPRD Lumajang Terhadap Raperda P-APBD 2026

LUMAJANG – Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Lumajang menyampaikan apresiasi tinggi kepada Pemerintah Kabupaten ...
LEGISLATIF

DPRD Surabaya Ingatkan Keberhasilan Hotline Ditentukan Respons Cepat dan Tindak Lanjut Aduan

DPRD Kota Surabaya menegaskan keberhasilan program hotline Pemkot Surabaya bergantung pada komitmen menindaklanjuti ...
KABAR CABANG

Terus Bergerak dari Akar, DPC Magetan Mantapkan Penguatan Struktur

MAGETAN – DPC PDI Perjuangan Kabupaten Magetan terus melanjutkan tahapan agenda Musyawarah Ranting dan Anak Ranting ...
LEGISLATIF

Fraksi PDIP Desak Bappeda Kaji Ulang Rencana Pemindahan Lokasi Alun-Alun Kabupaten Malang

Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Malang meminta Bappeda mengkaji ulang rencana pemindahan lokasi Alun-Alun ...
KABAR CABANG

Wujudkan “Rumah Rakyat”, Kantor DPC Tuban Jadi Tempat Menginap Atlet Pencak Silat

TUBAN – Kantor Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Tuban dialihfungsikan sementara sebagai tempat ...