Masjid At-Taufiq di kantor PDIP Kabupaten Malang jadi simbol perpaduan politik dan nilai spiritual, mendapat apresiasi tokoh NU dan Muhammadiyah.
MALANG — Siang itu, suasana di Kantor DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang terasa berbeda. Di tengah hiruk-pikuk konsolidasi partai, berdiri sebuah bangunan yang menghadirkan nuansa teduh—Masjid At-Taufiq.
Masjid yang diresmikan Sabtu (25/4/2026) itu bukan sekadar tempat ibadah. Ia menjadi simbol bagaimana politik dan nilai spiritual berjalan berdampingan.
Peresmian dilakukan langsung oleh dua kader PDIP yang menjabat Bupati Malang HM Sanusi bersama anggota DPR RI Andreas Eddy Susetyo, disaksikan tokoh NU, Muhammadiyah, hingga berbagai elemen masyarakat.
Ketua DPC PDIP Kabupaten Malang, Didik Gatot Subroto, menyebut kehadiran masjid ini bukan sekadar pelengkap fisik kantor partai.
“Ini bukan hanya bangunan. Ini penegasan bahwa perjuangan politik harus tetap berakar pada nilai-nilai ketuhanan,” ujarnya.

Yang menarik, masjid ini tidak dibatasi hanya untuk kader. Pintu Masjid At-Taufiq terbuka untuk siapa saja.
Di tengah stigma politik yang kerap dianggap jauh dari kehidupan masyarakat, langkah ini justru menghadirkan ruang baru—bahwa kantor partai juga bisa menjadi tempat yang memberi manfaat langsung.
“Harapannya, kantor partai tidak hanya jadi tempat rapat, tapi juga ruang sosial dan spiritual bagi masyarakat,” kata Didik. (Baca juga: PDIP Kabupaten Malang Perkuat PAC Lewat Musancab, Kanang: Ini Saatnya Kita Melenting)
Tak berhenti di masjid, rencana pembangunan TPQ, gedung kebudayaan, hingga koperasi menjadi penanda bahwa fungsi partai ingin diperluas: dari sekadar politik menuju pelayanan sosial.
Langkah ini mendapat respons hangat dari tokoh lintas agama. Rais Syuriah PCNU Kabupaten Malang, Zainul Arifin, melihatnya sebagai sesuatu yang jarang namun penting.
“Kami merasa bangga. Ini bukti bahwa partai juga memperhatikan sisi spiritual masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua PD Muhammadiyah Kabupaten Malang, Muhammad Nurul Humaidi, menilai langkah tersebut sejalan dengan nilai dasar bangsa.

“Ini wujud nyata dari sila pertama Pancasila. Ada kesadaran bahwa politik juga harus punya landasan nilai,” katanya.
Di saat yang sama, ribuan kader hadir dalam Musyawarah Anak Cabang (Musancab) yang menjadi agenda konsolidasi dan regenerasi partai.
Bagi banyak pihak, dua momentum ini—peresmian masjid dan Musancab—seolah menjadi satu pesan utuh: bahwa kekuatan partai tidak hanya dibangun dari struktur, tetapi juga dari nilai.
Di Kabupaten Malang, langkah ini menghadirkan wajah politik yang berbeda—lebih dekat, lebih membumi.
Bukan hanya soal kekuasaan, tetapi juga tentang bagaimana partai hadir di tengah masyarakat, tidak sekadar lewat kebijakan, tetapi juga lewat ruang-ruang kecil yang terasa langsung manfaatnya.
Masjid At-Taufiq mungkin hanya sebuah bangunan. Namun di balik itu, ada pesan yang lebih besar: politik tidak harus jauh dari kehidupan, justru bisa menjadi bagian darinya. (ull/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










