Sabtu
25 April 2026 | 11 : 00

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Puti Guntur Gandeng BRIN Genjot Semangat Berdikari dan Keadilan Inovasi UMKM

PDIP-Jatim-Puti-Guntur-25042026

SURABAYA – Anggota Komisi X DPR RI, Puti Guntur Soekarno, menekankan pentingnya menghidupkan kembali semangat “Berdikari” (berdiri di atas kaki sendiri) melalui penguatan ekosistem inovasi bagi pelaku UMKM.

Hal tersebut disampaikan Mbak Puti, sapaan akrabnya, saat memberi sambutan di Bimtek bersama BRIN dan para UMKM di Hotel Aria Centra Surabaya, pada Sabtu (25/4/2026).

Di hadapan sekira 100 peserta, Mbak Puti yang terhubung secara daring, menjelaskan bahwa untuk mencapai hal tersebut butuh riset yang menyentuh kebutuhan nyata UMKM. Seperti yang tertuang dalam dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

“Kami di Komisi 10 DPR RI bersama BRIN memiliki tanggung jawab konstitusional untuk memastikan bahwa anggaran riset tidak menguap di menara gading saja, tetapi jatuh ke sawah, ke laut, ke dapur produksi UMKM,” ujarnya.

Menurut dia, langkah ini mulai mendesak, mengingat UMKM merupakan tulang punggung ekonomi nasional yang menyumbang 61% terhadap PDB (setara Rp9 triliun) dan menyerap 117 juta tenaga kerja.

Namun, banyak pelaku usaha masih terjebak dalam ekosistem tradisional dan kesulitan mengakses hasil riset untuk meningkatkan daya saing mereka.

“Dan pertanian tidak mengetahui bahwa BRIN memiliki teknologi pengawetan alami, desain kemasan ramah lingkungan, atau metode efisiensi produksi,” terangnya.

Mbak Puti juga menyoroti trend UMKM di perkotaan yang bergerak ke e-commerce, sementara di pedesaan, para ibu rumah tangga kesulitan mendapatkan izin produksi. Menurutnya, hal itu karena kurangnya pendampingan teknis.

Untuk itu, Mbak Puti bersama BRIN mendorong pergerakan inovasi UMKM untuk menghapus kesenjangan antara desa dan kota. Inovasi, tambah dia, bukanlah barang mewah, melainkan kebutuhan untuk bertahan hidup.

“Maka ini adalah amanat rakyat, wujud nyata dari cita-cita kemerdekaan. Menjadikan ilmu pengetahuan sebagai alat pembebasan dari kemiskinan dan keterbelakangan,” terangnya.

Ia berharap, lewat kolaborasi DPR dengan BRIN, seluruh pelaku UMKM dapat mengakses teknologi riset. Seperti teknologi pengawetan alami atau desain kemasan ramah lingkungan, tanpa dipungut biaya.

“Saya mengajak BRIN dan seluruh pemangkum kepentingan untuk menandatangani komitmen bersama hari ini bahwa riset kita harus memenuhi, bahwa inovasi kita harus berkeadilan,” imbuhnya.

Menyanggupi hal tersebut, Direktorat PRIKL BRIN, Eryda Listianingrum, menjabarkan beberapa program yang bisa dimanfaatkan UMKM secara gratis. Seperti Pendampingan Inovasi Akar Rumput (PIAR), Pendampingan Usaha Mikro Berbasis IPTEK (PUMI), hingga RIM Startup.

Pada PIAR, program akan difokuskan pada masyarakat di tingkat “akar rumput” untuk memvalidasi atau menyempurnakan inovasi yang muncul dari inisiatif lokal. Bentuk dukungnnya berupa pengujian ilmiah, uji fungsi dan standarisasi.

Selanjutnya PUMI, yang dirancang khusus untuk meningkatkan daya saing usaha mikro melalui penerapan hasil riset BRIN. Program ini menjembatani kebutuhan teknologi pelaku usaha dengan solusi yang sudah dihasilkan periset BRIN agar berdampak langsung pada ekonomi.

“Misal Bu Eden, putu belanda-nya enggak awet. Ada enggak teknologi pengawetan makanan yang bisa dipakai supaya putunya tahan lama? Ini termasuk dalam program ini,” ucapnya.

Hal ini bertambah lengkap dengan program RIM Startup. Yakni pendanaan hibah hingga Rp300 juta per tahun, pendampingan inkubasi, akses laboratorium BRIN, hingga bantuan pengemasan dan promosi produk.

Beberapa syarat yang perlu diperhatikan, di antaranya, status perusahaan berupa startup (PT/CV/Firma) yang usianya maksimal 3 tahun saat mendaftar, CEO atau direktur startup harus bekerja full-time, produk wajib berasal dari hasil riset (baik riset BRIN sendiri maupun riset masyarakat/kampus) yang dibuktikan dengan paten atau publikasi ilmiah, dan produk sudah harus dalam tahap siap komersialisasi, bukan lagi sekadar ide di atas kertas.

“Penggunaan dananya aja 300 hari bisa untuk pengembangan produk, marketing, kemudian ada juga untuk pengurusan perizinan, branding, dan lain-lain. Jadi, penggunaannya sangat banyak sesuai dengan target dan kebutuhan startup,” pungkasnya. (nia/set)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Pesan Wabup Antok di Muspimcab PMII Ngawi: Dzikir, Fikir, Amal Sholeh Jadi Pijakan Utama

NGAWI – Wakil Bupati Ngawi Dwi Rianto Jatmiko menjadi tamu spesial dalam agenda Musyawarah Pimpinan Cabang ...
KRONIK

Gelar Ngaji Budaya, Wiwin Sumrambah Ajak Masyarakat Kembali pada Akar Tradisi

JOMBANG – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur, Wiwin Sumrambah, menekankan pentingnya sinergi antara ...
KABAR CABANG

Masjid di Kantor DPC PDIP Kabupaten Malang, Simbol Politik yang Membumi

Masjid At-Taufiq di kantor PDIP Kabupaten Malang jadi simbol perpaduan politik dan nilai spiritual, mendapat ...
KRONIK

Puti Guntur Gandeng BRIN Genjot Semangat Berdikari dan Keadilan Inovasi UMKM

SURABAYA – Anggota Komisi X DPR RI, Puti Guntur Soekarno, menekankan pentingnya menghidupkan kembali semangat ...
KABAR CABANG

Mas Dhito Harap Masuknya Anak Muda Jadi Daya Gedor Dongkrak Suara PDI Perjuangan 

Mas Dhito sebut anak muda jadi daya gedor PDIP Kabupaten Kediri untuk dongkrak suara dan rebut kursi di Pemilu ...
KABAR CABANG

Agus Wicaksono: Sinergi Tiga Pilar Jadi Kunci Genjot Suara PDIP di Kabupaten Kediri

Wakil Ketua DPD PDIP Jatim Agus Wicaksono sebut sinergi tiga pilar jadi kunci PDIP Kabupaten Kediri genjot suara ...