Minggu
20 September 2026 | 2 : 36

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Digitalisasi dan Literasi, Cara Perempuan Muda Lumajang Memaknai Spirit Kartini

IMG-20260423-WA0014_copy_937x611

LUMAJANG – Perayaan Hari Kartini di Kabupaten Lumajang tak lagi sekadar soal peragaan busana adat. Di kantor DPC PDI Perjuangan Lumajang, Selasa (21/4/2026), puluhan perempuan muda yang didominasi Generasi Z berkumpul untuk membedah literasi digital dalam balutan kearifan lokal.

​Kegiatan bertajuk kelas literasi digital berbasis cerita rakyat ini bertujuan mengikis stereotipe gender yang masih kerap melekat pada perempuan.

Melalui perspektif keadilan gender, para peserta diajak melihat kembali sosok Kartini bukan hanya sebagai pahlawan masa lalu, melainkan inspirasi untuk menguasai teknologi.

Keluar dari Sekat Domestik

​Nabila Adisti, salah satu peserta, mengungkapkan bahwa tantangan perempuan hari ini telah bergeser. Jika dulu Kartini berjuang untuk akses pendidikan dasar, kini perempuan harus berjuang untuk setara dalam ruang siber.

​”Tidak ada lagi pola pikir bahwa perempuan hanya urusan dapur dan rumah tangga. Melalui kegiatan ini, kami diingatkan bahwa perempuan memiliki kapasitas yang sama dengan laki-laki untuk memainkan peran strategis di era digital,” ujar Nabila.

 

​Senada dengan hal tersebut, Wakil Sekretaris DPC Lumajang, Zaenal Abidin, menekankan pentingnya perempuan menjadi “subjek” atau aktor utama, bukan sekadar penonton dalam transformasi teknologi.

​”Generasi Z harus bertindak sebagai subjek aktif digitalisasi. Mereka punya kemampuan adaptasi tinggi yang harus diarahkan untuk mendorong ekonomi digital, penguatan UMKM, hingga penciptaan konten kreatif yang positif,” tutur Zaenal.

Bukan Sekadar Seremoni

​Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Lumajang, Supratman, menegaskan bahwa peringatan Hari Kartini harus menjadi momentum refleksi terhadap kebijakan yang inklusif.

Menurutnya, perjuangan kesetaraan gender di masa kini harus diwujudkan dalam pemberian ruang yang nyata di sektor publik.

​”Hari Kartini bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi momentum untuk memastikan perempuan mendapatkan ruang setara dalam pendidikan, ekonomi, dan politik,” tegas Supratman.

​Ia menambahkan, keterlibatan perempuan dalam kepemimpinan adalah kunci perubahan bangsa. Perempuan tidak boleh hanya menjadi simbol perubahan, tetapi harus menjadi aktor utama yang menentukan arah kebijakan masa depan.

​Melalui gerakan literasi yang inklusif ini, diharapkan muncul bibit-bibit perempuan tangguh dari Lumajang yang mampu menjadi pilar pembangunan karakter bangsa, sekaligus menjadi penggerak ekonomi di daerahnya masing-masing.(ndy/hs)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Haru Penjaja Tape Anaknya Dikhitankan Kader Banteng dan Sejumlah Komunitas

MAGETAN — Biaya khitan bagi sebagian masyarakat kerap menjadi beban finansial yang tidak ringan, terutama bagi ...
KRONIK

Ketika Lari Menjadi Panggung: Soekarno Run BWX 2026 dan Cerita Kreativitas dari Banyuwangi

PAGI itu, garis start Soekarno Run BWX 2026 tidak hanya dipenuhi pelari. Ada Indonesia yang datang dengan beragam ...
KRONIK

Soekarno Run BWX 2026, Anak Usia 4 Tahun Ikut Lari di Kategori 1K

BANYUWANGI – Anak-anak usia dini ikut ambil bagian dalam Soekarno Run BWX 2026 di Banyuwangi. Bahkan, peserta ...
HEADLINE

Eri Cahyadi: Soekarno Run Ajarkan Generasi Muda Berdiri di Atas Kaki Sendiri

BANYUWANGI – Semangat berdiri di atas kaki sendiri menjadi pesan utama dalam Soekarno Run BWX 2026 di Banyuwangi, ...
SEMENTARA ITU...

Romy Soekarno Dorong Gen Z Kawal Pemilu 2029 di Tengah Tantangan Digital

BLITAR – Anggota Komisi II DPR RI Romy Soekarno mendorong generasi Z (Gen Z) memahami pengawasan partisipatif sejak ...
KRONIK

Soekarno Run Banyuwangi Spektakuler, Said: Kalau Jateng Punya Borobudur, Jatim Punya Banyuwangi

BANYUWANGI – Ribuan warga Banyuwangi mengikuti Soekarno Run. Mereka tampak bersemangat mengikuti kegiatan yang ...