Minggu
19 April 2026 | 12 : 14

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Setelah Persamuhan di Bandung, 71 Tahun Silam…

Eri Irawan

Oleh Eri Irawan*

SETELAH persamuhan di Bandung, 71 tahun silam, dunia tidak banyak berubah. Perang Dingin memang tak lagi ada. Komunisme sebagai sistem politik pemerintahan sudah selesai. Tembok Berlin sudah runtuh.

Partai Komunis bertahan, namun tidak ada yang bisa mengingkari kalau mereka hanya simbol yang mempertautkan Tiongkok hari ini dengan masa silam. Korea Utara dan Kuba masih bersikeras dengan ideologi komunis, namun mereka tidak masuk dalam peta negara yang diperhitungkan dunia, kecuali Korea Utara karena kepemilikan nuklirnya.

Kapitalisme dan liberalisme sudah menang atas musuh klasik mereka, dan kini sedang mencari musuh baru untuk diseru-serukan sebagai ancaman. Dan karenanya, apa yang dikatakan Bung Karno dalam pidatonya di Konferensi Asia Afrika (KAA), 18 April 1955, 71 tahun silam, masih sangat relevan dan berkorelasi dengan kondisi hari ini: sebuah seruan dari masa lampau untuk senantiasa waspada dan tak lengah.

“Ya, kita hidup dalam dunia yang penuh ketakutan, kehidupan manusia sekarang digerogoti dan dijadikan pahit getir oleh rasa ketakutan…Mungkin rasa takut itu pada hakekatnya merupakan bahaya yang lebih besar daripada bahaya itu sendiri, sebab rasa takutlah yang mendorong orang berbuat tolol, berbuat tanpa berpikir, berbuat hal yang membahayakan.”

Saat Amerika Serikat dan Israel bermufakat untuk membombardir Iran, dan belakangan Lebanon, tahulah kita bahwa ketakutan itu masih hadir di depan mata. Seperti film horor hantu-hantu dan setan yang membuat jantung berdetak kencang dan berkeringat dingin. Situasi dunia hari-hari ini serupa yang pernah diingatkan Bung Karno pada KAA Bandung, “Kita menghadapi situasi, di mana keselamatan umat manusia tidak selalu mendapat perhatian utama. Banyak orang yang berada di tempat kekuasaan yang tinggi malah lebih memikirkan tentang hal menguasai dunia.”

Ketakutan dunia hari-hari ini kemudian merambat menjadi teror, karena dengan dunia yang semakin terhubung, apa yang terjadi di Iran pada akhirnya mempengaruhi bagian dunia yang lain. Persis seperti teori “butterfly effect” yang diperkenalkan Edward Norton Lorenz pada 1960-an.

Di KAA Bandung, Bung Karno menguatkan ke negara-negara yang hadir. “Saya minta, janganlah kiranya Tuan-tuan terpengaruh oleh ketakutan itu, sebab ketakutan adalah zat asam yang mencapkan perbuatan manusia menjadi pola yang aneh-aneh. Berpedomanlah pada harapan dan pada ketetapan hati, berpedomanlah pada cita-cita, dan ya, berpedomanlah pada impian dan angan-angan!”

Ya, semua bangsa yang dalam tekanan kolonialisme saat itu dipersatukan musuh yang sama dan tujuan yang sejalan. “Kita bersatu, misalnya oleh sikap yang sama dalam membenci kolonialisme dalam bentuk apa saja ia muncul. Kita bersatu oleb sikap yang sama dalam hal membenci rasialisme. Dan kita bersatu karena ketetapan hati yang sama dalam usaha mempertahankan dan memperkokoh perdamaian dunia.”

Apa yang terjadi di Palestina, Lebanon, Iran dan Venezuela, membuktikan bahwa apa yang dikhawatirkan Bung Karno di Bandung masih ada; setelah 71 tahun berlalu.

“Orang sering mengatakan kepada kita, bahwa “kolonialisme sudah mati”. Janganlah kita mau tertipu atau terninabobokan olehnya! Saya berkata kepada Tuan-tuan, kolonialisme belumlah mati. Bagaimana kita dapat mengatakan ia telah mati selama daerah-daerah yang luas di Asia dan Afrika belum lagi merdeka!”

Saat Amerika Serikat dan Israel bisa dengan seenak jidat sendiri menyerang negara lain, maka sejatinya kemerdekaan hanya omong kosong. “…perjuangan yang dimulai 180 tahun yang lalu itu belumlah mendapat kemenangan yang sempurna, dan ia tak akan mencapai kemenangannya yang sempurna, sebelum kita dapat mengawasi dunia kita sendiri ini, dan dapat mengatakan bahwa kolonialisme sudah mati.”

Lalu sejarah mencatat, 29 negara bangsa di KAA bersepakat untuk mengeluarkan sepuluh butir sikap yang terangkum dalam “Dasa Sila Bandung”, yang menjadi acuan bersama tentang kondisi dunia yang ideal dan merdeka dari rasa takut.

1. Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan serta asas-asas yang termuat di dalam Piagam PBB.
2. Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa.
3. Mengakui persamaan semua suku bangsa dan persamaan semua bangsa, besar maupun kecil.
4. Tidak melakukan intervensi atau campur tangan dalam soalan-soalan dalam negeri negara lain.
5. Menghormati hak-hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri secara sendirian ataupun kolektif yang sesuai dengan Piagam PBB.
6. Tidak menggunakan peraturan-peraturan dari pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus dari salah satu negara besar dan tidak melakukannya terhadap negara lain.
7. Tidak melakukan tindakan-tindakan ataupun ancaman agresi maupun penggunaan kekerasan terhadap integritas wilayah maupun kemerdekaan politik suatu negara.
8. Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan jalan damai, seperti perundingan, persetujuan, arbitrasi, ataupun cara damai lainnya, menurut pilihan pihak-pihak yang bersangkutan sesuai dengan Piagam PBB.
9. Memajukan kepentingan bersama dan kerja sama.
10. Menghormati hukum dan kewajiban–kewajiban internasional.

Apa yang terjadi di Bandung 71 tahun silam menempatkan Indonesia, berkat visi Bung Karno, dalam bab tersendiri buku besar sejarah politik dunia. Vijay Prashad dalam buku “The Darker Nations: A People’s History of the Third World” menyatakan KAA sebagai momentum progresif yang melahirkan harapan besar bagi “bangsa-bangsa berwarna”, mereka yang kerap mendapat perlakuan tidak adil secara sistemik. “A vast section of the world that had once bowed before the might of Europe now stood at the threshold of another destiny. Indeed, the freedom attained by the new nations seemed unimaginable just a few years ago.”

Pidato Bung Karno di forum itu disebut sebagai “was the most powerful brief for Third World unity”. Pidato tersebut telah menginspirasi pidato Nehru di parlemen India yang “percaya bahwa dari Bandung, organisasi besar kita, Perserikatan Bangsa-Bangsa, telah memperoleh kekuatan. Ini berarti bahwa Asia dan Afrika harus memainkan peran yang semakin besar dalam pelaksanaan dan nasib organisasi dunia”.

Pidato Bung Karno di Bandung juga mengilhami almarhum pemimpin spiritual Iran, Ayatullah Ali Khamenei semasa muda. “Berbagai kesaksian menunjukkan bagaimana sejak usia muda beliau mengagumi Bung Karno, membaca pemikirannya, dan menjadikan pengalaman Indonesia, terutama Pancasila dan semangat Dasa Sila Bandung, sebagai salah satu referensi dalam merumuskan sintesis antara agama, kebangsaan dan keadilan sosial di Iran,” kata Megawati Soekarnoputri dalam surat duka citanya kepada pemerintah Republik Islam Iran, 3 Maret 2026.

Tujuh puluh satu tahun tahun berlalu setelah Bung Karno berpidato di hadapan para pemimpin Asia-Afrika dalam KAA di Bandung, 1955. Saatnya kita melanjutkan tanggung jawab sejarah untuk mengikuti apa yang disebut Bung Karno sebagai “kode moralitas tertinggi”.

“Dan mengenai politik, apakah kode moralitas yang tertinggi? Kode moralitas tertinggi ialah subordinasi, ketundukan segala sesuatu kepada keselamatan umat manusia,” kata Bung Karno.

Ya, keselamatan umat manusia. Hari ini kita berharap, hal yang sama juga menginspirasi seluruh dunia, termasuk pemerintah Indonesia. Setidaknya mengingatkan kepada semua orang bahwa “sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”.

*Eri Irawan, Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

RUANG MERAH

Setelah Persamuhan di Bandung, 71 Tahun Silam…

Oleh Eri Irawan* SETELAH persamuhan di Bandung, 71 tahun silam, dunia tidak banyak berubah. Perang Dingin memang ...
EKSEKUTIF

Mas Ipin Ajak Laki-laki Evaluasi Diri dan Tekan Ego Patriarki demi Kesetaraan

Bupati Trenggalek Mas Ipin ajak laki-laki evaluasi diri dan tekan ego patriarki dalam perjuangan kesetaraan gender ...
KRONIK

Erma Susanti Tegaskan Perempuan Harus Suarakan Kesetaraan Gender di Era Digital Indonesia

Erma Susanti dorong perempuan Indonesia aktif menyuarakan kesetaraan gender melalui media sosial sebagai bagian ...
KABAR CABANG

PDI Perjuangan Sampang Bagikan Benih Jagung, Ajak Masyarakat Tanam Pendamping Beras

SAMPANG – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Sampang mengajak masyarakat untuk menanam tanaman ...
KRONIK

Wiwin Sumrambah Imbau Warga Jombang Antisipasi Kemarau Panjang dan Perkuat Cadangan Pangan

JOMBANG – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Provinsi Jawa Timur, Wiwin Isnawati Sumrambah, mengimbau masyarakat ...
PEREMPUAN

Novita Hardini Ajak Perempuan Trenggalek Nyalakan Api Perjuangan dan Berkarya

Novita Hardini ajak perempuan Trenggalek menyalakan api perjuangan dan berkarya melalui TGX Women Summit, sekaligus ...