SURABAYA – Badan Anggaran (Banggar) DPRD Jawa Timur menyoroti ketimpangan besar antara fasilitas dan anggaran Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) DKI Jakarta dan KONI Jawa Timur yang dinilai belum sebanding dengan capaian prestasi olahraga masing-masing daerah.
Isu tersebut mengemuka setelah Banggar DPRD Jatim melakukan kunjungan dan sharing session ke KONI serta Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) DKI Jakarta beberapa waktu lalu.
Anggota Banggar DPRD Jatim, Dewanti Rumpoko, mengaku terkejut dengan kelengkapan fasilitas yang dimiliki KONI DKI Jakarta. Mulai dari ruang latihan modern, peralatan gym lengkap, layanan medis dengan dokter umum, dokter gigi, fisioterapis, hingga berbagai fasilitas penunjang atlet lainnya.
“Fasilitasnya luar biasa lengkap dan modern. Namun, prestasi DKI Jakarta di PON memang lebih baik dari Jatim, tapi tidak terpaut jauh. Bahkan, mereka masih di bawah Jawa Barat. Perbedaan anggaran yang sangat signifikan tentu perlu kami bahas kembali,” ujar Dewanti, dikutip dari radarsurabaya, Kamis (15/1/2026).
Kesenjangan Anggaran KONI DKI dan Jawa Timur
Dari sisi pendanaan, perbedaan semakin terlihat. Pada 2025, KONI DKI Jakarta menerima hibah Rp115 miliar, sementara KONI Jawa Timur hanya memperoleh sekitar Rp75 miliar, yang masih terpotong Rp20 miliar untuk Porprov IX/2025 di Malang Raya.
Ketimpangan tersebut makin melebar pada 2026. KONI DKI mendapatkan Rp105 miliar, sedangkan KONI Jawa Timur hanya Rp30 miliar.
Padahal, kontribusi atlet Jawa Timur di ajang internasional justru lebih tinggi. Pada SEA Games 2026 Thailand, atlet Jatim menyumbangkan 31 medali emas dari 131 atlet, sementara DKI
Jakarta hanya meraih 25 emas. Capaian itu nyaris menyamai Jawa Barat yang meraih 34 emas dengan 215 atlet.
Efisiensi Prestasi Jatim di PON Bela Diri
Efektivitas prestasi Jawa Timur kembali terlihat pada PON Bela Diri 2025 di Kudus. Dengan hanya mengirim 79 atlet, kontingen Jatim berhasil meraih 25 medali: 13 emas, 7 perak, dan 4 perunggu.
Prestasi tersebut terbilang luar biasa karena dari 10 cabang olahraga dan 225 nomor pertandingan, Jawa Timur tidak mengikuti seluruh nomor.
Bahkan, pada cabang seperti sambo dan kempo yang menyediakan puluhan medali emas, Jatim hanya mengirim satu atlet untuk masing-masing cabang.
Meski demikian, Jawa Timur tetap mampu menjadi juara umum pada tiga cabang olahraga: gulat, ju jitsu, dan wushu.
Sebagai perbandingan, DKI Jakarta keluar sebagai juara umum PON Bela Diri 2025 dengan 99 medali berkat kekuatan 133 atlet yang turun hampir di semua nomor. Jawa Barat berada di posisi kedua dengan 91 medali dari 154 atlet.
Anggaran Minim, Puslatda Terancam
Dewanti yang juga Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Jatim itu menegaskan, potensi olahraga Jawa Timur sangat besar dan akan jauh lebih optimal jika didukung fasilitas serta anggaran yang memadai.
“Jawa Timur tidak pernah kekurangan talenta. Minat masyarakat terhadap olahraga prestasi sangat tinggi. Karena itu, Banggar DPRD Jatim akan terus memperjuangkan tambahan dukungan anggaran bagi KONI Jatim,” tegas Dewanti, yang juga Ketua Pengprov Aquatic Jawa Timur.
Namun, kenyataan menunjukkan anggaran hibah KONI Jatim 2026 sebesar Rp30 miliar telah diketok. Kondisi tersebut berdampak serius terhadap persiapan PON NTT–NTB 2028.
Program Pemusatan Latihan Daerah (Puslatda) yang seharusnya dimulai awal tahun ini terancam ditunda akibat keterbatasan dana.
Ironisnya, Jawa Timur justru memiliki banyak atlet potensial. Akan tetapi, keterbatasan kuota Puslatda membuat sebagian atlet berprestasi terancam tidak tertampung dalam program pembinaan.
Situasi ini memperkuat dorongan agar Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan dukungan anggaran yang lebih proporsional demi menjaga posisi Jawa Timur sebagai salah satu kekuatan utama olahraga nasional. (nia/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










