Kamis
11 Juni 2026 | 5 : 02

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Puti Guntur Ingatkan Gen-Z Jadi Inovator Masa Depan, Tak Terbuai pada AI

pdip-jatim-251130-talkshow-ai-pgs-2
Anggota Komisi X DPR RI, Puti Guntur Soekarno, saat menjadi pembicara di talkshow Pemanfaatan AI untuk Transformasi Pembelajaran di Perguruan Tinggi, di Hall 2 Stiesia Surabaya pada Minggu (30/11/2025).

SURABAYA – Anggota Komisi X DPR RI Puti Guntur Soekarno mewanti-wanti generasi muda untuk tak terbuai dan bergantung pada artificial intelegent (AI).

Dia tak memungkiri kehadiran AI dan kecanggihan teknologi sangat membantu aktivitas. Namun jika diteliti, sebutnya, ketergantungan pada teknologi justru membuat bangsa ini jauh dari cita-cita Trisakti Bung Karno. Menjadi tak berdaulat.

“Kita harus menjadi insan yang mengatur, membuat, memperkuat kita dalam research, teknologi, pelayanan publik, membantu UMKM,” kata Puti saat menjadi pembicara di talkshow Pemanfaatan AI untuk Transformasi Pembelajaran di Perguruan Tinggi, di Hall 2 Stiesia Surabaya, Minggu (30/11/2025).

Laporan Digital 2025 Global Overview, ungkapnya, mencatat sebanyak 98,7 persen penduduk Indonesia berusia 16 tahun ke atas menggunakan ponsel untuk online, melampaui Filipina dan Afrika Selatan yang mencatat 98,5 persen.

Sayangnya, lanjut Puti, tingginya prosentase itu tak dibarengi dengan pengembangan potensi. Akhirnya Indonesia hanya menjadi konsumen ekonomi digital tertinggi yang keamanan datanya rawan dicuri. Dijajah teknologi, dan masuk ke era kolonialisme baru dan imperialisme 5.0.

“Kita jadi negara yang memiliki ekonomi digital terbesar dan kita negara konsumen, kita yang digunakan. Ini harus menjadi hal yang bisa memperkuat keyakinan adik-adik bahwa persoalan itu ada di negara kita, kita hanya jadi pasar dan bukan pemain,” tutur politisi PDI Perjuangan itu.

Dia mengingatkan bahwa AI dan digital teknologi hanya berfungsi sebagai supporting. Teknologi itu dibuat tanpa ada identitas budaya dan kearifan lokal, seluruhnya digantikan dengan perspektif asing.

Jika digunakan berlebihan, sebut Puti, pemikiran kritis akan tergerus, kemampuan analisa menjadi tumpul. “Banyak data yang bisa tersedot, data penting yang bisa mereka ambil dengan mudah,” sebut Puti.

“Di Jepang 80 persen metode belajarnya masih mencari kevalidan data di perpustakaan. Jadi bagaimana kita bisa tetap menggunakan teknologi secara bijaksana. Ini budaya yang harus kita ciptakan sendiri, oleh kita dan negara hadir untuk mendampingi,” imbuhnya.

Jika ingin masa Indonesia emas 2045 tercapai, kata Puti, maka perlu perubahan pola. Tidak bergantung melainkan menguasai perkembangan digital teknologi.

Juga dibarengi pendampingan pemerintah dalam segala aspek. Lalu pengamanan data, menahan arus teknologi agar tidak menjadikan anak muda jadi generasi yang tidak berbudaya, tidak bermoral dan beretika.

“Peran pemerintah lewat kebijakan, tinggal berani atau tidak menegakkan hukum yang memproteksi, termasuk data kita. Agar kita bisa berdaulat dengan teknologi kita. Bagaimana negara tidak takut pada industri besar yang menggunakan indonesia sebagai konsumen semata,” tandas cucu Presiden pertama RI Soekarno tersebut.

“Kita ingin Indonesia suatu negara yang kuat, menjadi panutan negara lain, kita ingin adik-adik menjadi inovator pencipta teknologi untuk kemajuan indonesia. Ini tugas adik-adik ke depan. Mewujudkan berkedaulatan politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribdanian secara budaya,” tuturnya.

Hal senada disampaikan Ketua Stiesia Surabaya, Prof. Dr. Nur Fadjrih Asyik, S.E, MSI., Ak, CA. Sebagai insan pendidikan, dia mengerti bahwa pihaknya harus mencetak lulusan yang unggul sesuai kebutuhan industri mendatang.

Untuk itu kurikulum terkait AI tetap diberikan. Namun dibarengi dengan proses pembelajaran yang mengasah critical thinking, hingga analisa mendalam.

“Pedoman penggunaan AI ini kami tidak tutup mata. Salah satu program kami, kami rekrut sekitar 10 orang dosen berbasis IT untuk menguatkan pedoman Kemendiktisaintek. Memanfaatkan AI untuk menunjang, bukan menggantikan,” terang Nur Fadjrih.

“AI memang efisien, dapat mendukung saat mengambil keputusan, supporting tools tapi perlu diingat AI bukan pengganti otak manusia,” imbuhnya.

Sementara itu mahasiswa S1 akuntansi, Eko Siswanto turut membagikan pengalamannya. Menurutnya acara tersebut telah mengubah mindsetnya pada AI.

“Rasa bangga karena bisa bertemu langsung dengan bu Puti banyak pengetahuan yang kita dapat. Tentunya ini mengubah mindset pada AI jadi saya tidak hanya jadi konsumen tapi sebagi penunjang,” ujarnya. (nia/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

SEMENTARA ITU...

Abidin Fikri Raih Gelar Doktor dengan Predikat Cumlaude, Soroti Ketimpangan Distribusi Tenaga Medis

JAKARTA – Program Pascasarjana Doktor Ilmu Hukum Universitas Borobudur Jakarta resmi meluluskan Abidin Fikri dalam ...
LEGISLATIF

Komisi II DPRD Ngawi Sidak SPMB, Temukan Kesenjangan Jumlah Pendaftar Antar Sekolah

NGAWI – Komisi II DPRD Kabupaten Ngawi melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah SMP Negeri di wilayah ...
KABAR CABANG

Dapur Umum DPC Sidoarjo Mengepul, Bagikan Ratusan Nasi Kotak untuk Pekerja Jalanan

SIDOARJO – Dapur Umum DPC PDI Perjuangan Sidoarjo kembali mengepul. Ratusan kotak nasi beserta lauk dibagikan ...
KABAR CABANG

Tantri Bararoh: Pelemahan Rupiah Harus Dijawab dengan Penguatan Ekonomi Kerakyatan dan Ketahanan Pangan

Bendahara DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang Tantri Bararoh mengingatkan pelemahan rupiah berpotensi menekan daya ...
EKSEKUTIF

Mas Dhito Pastikan Layanan Kesehatan Warga Banyakan Tetap Berjalan Pasca Puskesmas Tiron Terbakar

Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana memastikan layanan kesehatan bagi warga Kecamatan Banyakan tetap berjalan ...
KRONIK

Bupati Sumenep Tegaskan Sinergi dengan TNI AL Perkuat Kemajuan Daerah Maritim

SUMENEP – Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, menegaskan bahwa sinergi antara pemerintah daerah dan TNI ...