TRENGGALEK – Kabupaten Trenggalek kembali menorehkan prestasi di kancah nasional dengan meraih peringkat 8 dalam ajang Universitas Indonesia (UI) Green City Metric 2025. Capaian ini naik signifikan ketimbang tahun sebelumnya yang berada di posisi 12.
Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin menegaskan, penghargaan tersebut menjadi bukti komitmen daerahnya untuk fokus pada pembangunan berbasis ekologi dan keberlanjutan. Menurutnya, Trenggalek harus mengambil jalur berbeda dari kota-kota besar yang cenderung mengandalkan pembangunan fisik masif.
“Kita melihat Trenggalek bukan pusat aglomerasi sehingga memang struggling di fiskal serta risiko bencana alam. Kalau pembangunan yang kita pilih hanya berbasis fisik (concrete base), maka selamanya kita tidak akan mengejar kota seperti Jakarta atau Surabaya,” ujar Mas Ipin, Kamis (2/10/2025), saat menjadi pembicara dalam UI Green City Metric 2025 di Kota Madiun, dikutip Sabtu (4/10/2025).
Mas Ipin menyebut, Trenggalek justru memiliki modal alam yang jauh lebih berharga, Yakni bentang hutan yang menutupi lebih dari separuh wilayahnya, garis pantai sepanjang 100 kilometer, serta kemampuan sekuestrasi karbon yang tinggi.
“Saat ini kesadaran dunia untuk menghadapi climate disaster semakin tinggi, ditambah mekanisme perdagangan karbon global sudah tersedia. Maka dari itu kita menargetkan tahun 2045 Trenggalek bisa achieve net zero carbon,” tegasnya.
Dia menambahkan, pemanfaatan potensi hutan, pesisir, hingga perdagangan karbon harus menjadi alternatif ekonomi agar ekologi dan ekonomi bisa berjalan beriringan. Apalagi saat ini, Trenggalek tengah menghadapi ancaman eksplorasi tambang emas seluas 12 ribu hektare yang tersebar di 9 kecamatan.
“Kalau saya terlena, itu bukan membangun Trenggalek, tapi justru menggusur orang Trenggalek. Ada kawasan lindung kars, hutan lindung, pertanian berkelanjutan, dan permukiman warga. Karena itu kita pilih jalur berbeda lewat ekologi, salah satunya dengan masuk bursa karbon,” jelas bupati yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan Trenggalek itu.
Mas Ipin mengungkapkan, Pemkab Trenggalek tengah menyiapkan langkah strategis lewat BUMD PT Jwalita Energi Trenggalek untuk memonetisasi potensi karbon dari kawasan hutan dan pesisir, bahkan berencana mengolektifkan sertifikat unit karbon milik masyarakat.
“BUMD kita sudah bisa listing di bursa karbon. Harapannya, saat dunia sudah matang dengan mekanisme perdagangan karbon, Trenggalek sudah siap dengan sekuestrasi yang dimiliki,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Bappeda Litbang Kabupaten Trenggalek, Ratna Sulistiyowati yang mewakili Bupati menerima penghargaan dari UI menegaskan, raihan peringkat 8 tahun ini merupakan peningkatan membanggakan.
“Alhamdulillah, tahun ini kita berada di peringkat 8 untuk kabupaten yang pembangunannya berkelanjutan. Tahun lalu kita di posisi 12 dan menjadi pendatang baru terbaik. Ini menjadi penyemangat bagi kita untuk mewujudkan visi Trenggalek: Net Zero Karbon, Berpendapatan Tinggi, dan Berdaya Saing Kolektif dalam RJPD 2025–2045,” ungkap Ratna.
Dia menambahkan, tantangan terbesar dalam mewujudkan visi tersebut bukan hanya soal komitmen, tetapi juga keterbatasan anggaran. Namun dirinya menegaskan pesan Bupati agar kondisi itu tidak menjadi alasan berhenti berinovasi.
“Pak Bupati selalu menyampaikan bahwa keterbatasan anggaran jangan dijadikan alasan. Justru dengan keterbatasan itu kita bisa melahirkan inovasi yang akhirnya diakui pihak luar, seperti penghargaan ini,” pungkasnya. (aris/pr)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS










